Menuntut Mundur Anggota Komisi
Senin, 14 Januari 2008 | 20:20 WIB
TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur:Tiga anggota Komisi Kerajaan Malaysia, sebuah panel penyelidik skandal penujukkan hakim di Malaysia, Senin (14/1) kemarin menyatakan menolak mundur dari komisi. Zaitun Zawiyah Puteh, Steve Shim, dan Haidar Mohamad Noor membantah bahwa posisi mereka akan menimbulkan konflik kepentingan di dalam panel tingkat tinggi itu.
"Saya tak melihat alasam mendasar untuk menyelamatkan diri saya," kata Ketua Komisi Kerajaan Haidar M. Noor menanggapi tuntutan mundur dari sejumlah pengacara yang mewakili Dewan Pengacara Malaysia dan tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim---yang membocorkan skandal itu ke media massa.
M. Puravalen, salah seorang pengacara, menyatakan Haidar pernah menjadi komisaris Yayasan Perdana, sebuah badan yang dibentuk guna memelihara dan menjaga kontribusi para bekas perdana menteri Malaysia. Adapun mantan perdana menteri Mahathir Mohamad, saksi dalam kasus itu, presiden kehormatan yayasan tersebut.
"Apakah hubungan dengan Haidar itu sebuah kebetulan belaka?" ujar Azhar Azizan, pengacara lainnya. "Bisa saja terjadi bias." Azhar juga mengatakan bahwa bekas jaksa agung muda Zaitun Zawiyah tak sepatutnya duduk di komisi. Zaitun, kata Azhar, ikut andil dalam suatu kasus yang melibatkan Anwar Ibrahim.
Begitupula dengan bekas ketua Pengadilan Sabah dan Serawak Steve Shim. Steve menurut Azhar mesti turun karena namanya disebut-sebut dalam skandal yang melibatkan V. K. Lingam, seorang pengacara ternama, yang diduga menjadi broker dalam penujukkan hakim agung.
.
"Dia (Steve) semestinya menjadi saksi," tutur Azhar. Cuma ketiga anggota panel itu menampik dan menyatakan akan berlaku adil. Steve dan Zaitun menyatakan akan mundur apabila gagal menyelesaikan kasus yang diduga melibatkan pengusaha, pengacara, dan mantan petinggi di Malaysia itu.
Skandal itu bermula dari sebuah klip rekaman video yang dirilis bekas deputi perdana menteri Malaysia Anwar Ibarhim. Dalam klip itu Lingam mengungkapkan upayanya dalam membantu menempatkan seorang hakim menjadi hakim agung. Agar tujuannya tercapai Lingam akan menjanjikan bantuan seorang konglomerat dan senior partai.
Klip itu beredar luas dan bikin geger Malaysia. Loh Mui Foh, 57, seorang pengusaha, mengaku jika pertemuan itu diadakan di rumahnya. "Anak saya Gwo Burne yang merekamnya," tutur Loh. Meski begitu kesahihan klip tersebut masih harus diperiksa lagi. Karena itulah pemerintah membentuk komisi pemeriksa.
Komisi dijadwalkan akan menghadirkan 17 saksi. Di antaranya pengusaha Vincent Tan, pebisnis Loh Mui Foh dan anaknya Gwo, Mahathir serta Anwar Ibrahim.
| AP | AFP | ANDREE PRIYANTO




Komentar Anda :