|
Yudhoyono Berharap OKI Fokus Perangi Kemiskinan
Jum'at, 14 Maret 2008 | 10:26 WIB
TEMPO Interaktif, Dakar:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berharap pertemuan Organisasi Konferensi Islam kali ini lebih berfokus pada upaya memerangi kemiskinan di dunia Islam dan mengikis wabah Islamophobia yang marak di dunia non-muslim. Dengan berfokus pada kedua isu itu, Presiden Yudhoyono berharap solidaritas sesama anggota OKI bisa dibangun lebih baik.
Menurut Presiden Yudhoyono, para pemimpin di negara-negara yang mewakili 1,3 milyar penduduk muslim dunia umumnya menanggapi positif usulan upaya kemanusiaan ini. Arab Saudi, misalnya, menyatakan akan menyumbangkan U$ 1 milyar. Malaysia menyatakan akan menyumbang U$ 20 juta dan Indonesia U$ 25 juta.
Indonesia, menurut Yudhoyono, harus berani menyumbang agak besar karena jumlah orang miskin di negara ini juga besar. "Artinya akan cukup banyak dana yang terkumpul untuk dinikmati kalangan miskin di Indonesia," kata dia.
Konferensi Tingkat Tinggi ke-11 OKI dibuka pagi ini di Dakar, Senegal. Alunan suara merdu seorang qori remaja mengawali pembukaan. Sinar matahari yang cerah dan angin sejuk di tepi pantai membalut Hotel Meridian President yang menjadi lokasi pertemuan lebih dari 40 kepala negara itu.
Presiden Senegal, Abdoulaye Wade, membuka pidatonya dengan kecaman terhadap wabah Islamophobia. Dia mengatakan kegiatan terorisme tidak sesuai dengan ajaran Islam. “Terbangunnya dialog dengan dunia non-Islam diperlukanuntuk menciptakan toleransi,” kata Presiden berusia 80-an itu.
Ketua baru OKI ini juga menyerukan agar Israel dan Palestina segera berdamai. Ia menekankan pentingnya menghormati hak asasi warga Palestina.
Perkembangan di Palestina memang jadi ajang pembicaraan seru di acara organisasi 57 negara ini. "Saya amat senang perihal Palestina menjadi fokus perhatian," kata Abdulazez Abughosh, Duta Besar Palestina di Malaysia, yang juga mantan Asisten Sekeretaris Jenderal OKI.
Perdana Menteri Malaysia, yang menjadi ketua OKI sebelumnya tak hadir di Dakar. "Ia sibuk karena habis pemilu," kata seorang wartawan Malaysia. Menteri Luar Negeri negara serumpun ini pun tak dapat hadir karena ibunya baru meninggal. Walhasil ketua parlemen Abdul Hamid Pawanteh yang datang mewakili negaranya.
Malaysia seharusnya menyerahkan tongkat kepemimpinan OKI yang dipegang sejak 2003 itu pada 2006. Namun dengan alasan belum siap mengadakan konferensi, Senegal mengundurkan kegiatan puncak OKI ini hingga 2008.
Senegal berniat memakai kesempatan berkumpulnya para pemimpin dunia Islam ini untuk mendamaikan dua anggota OKI, Chad dan Sudan. Sayangnya, upaya pertemuan damai Presiden Idriss Deby dan Presiden Omar Al-Bashir yang disaksikan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki Moon, itu belum mencapai hasil yang diharapkan.
Upaya perdamaian yang dimotori Presiden Wade itu selaras dengan tujuan didirikannya OKI di Rabat pada 1972, yaitu "membangun solidaritas umat Islam". Tujuan itu tak mudah dicapai karena kerap bertentangannya kepentingan para anggota OKI.
Bambang Harymurti (Dakar)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|