close

Presiden Korea Minta Maaf

Kamis, 19 Juni 2008 | 21:59 WIB

TEMPO Interaktif, SEOUL:Presiden Korea Selatan Lee Myung-Bak, Kamis (19/6), meminta maaf kepada rakyat karena kesepakatan pembelian daging sapi dengan Amerika Serikat yang memicu aksi protes di jalan-jalan. Berpidato di televisi Presiden Lee menyatakan amat menyesal karena tak peduli akan keprihatinan masyarakat atas bahaya kesehatan.

"Semestinya saya menaruh perhatian atas apa yang rakyat inginkan," tuturnya. Dia berjanji untuk bersungguh-sungguh mendapatkan jaminan dari pemerintah Amerika Serikat dalam upaya memerangi penyakit sapi gila dalam berunding dengan Washington. Dia juga berjanji memulihkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.

"Sebagai permulaan saya akan merombak kabinet," kata bekas CEO bisnis yang ngetop dengan julukan "Buldozer" ini. Pernyataan maaf dan sejumlah janji tadi merupakan jawaban atas aksi unjuk rasa yang belakangan melanda Negeri Ginseng itu. Demonstran memprotes perjanjian impor daging sapi dengan Amerika Serikat.

Menurut para pemrotes perjanjian yang diteken Presiden Lee pada April lalu itu tidak memberikan jaminan yang cukup agar Korea Selatan terhindar dari penyakit sapi gila Amerika Serikat. Para pengunjuk rasa menuding Lee terlampau tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.

Tapi Lee punya alasan. "Saya tak ingin melewatkan peluang emas," katanya soal kerjasama dengan Washington itu. Katanya lagi,"Saya menyadari kesalahan itu setelah melihat lilin-lilin yang menyala di jalan-jalan selepas malam hari dalam salah satu aksi protes."

Dia menjamin tak ada daging dari sapi Amerika Serikat yang berusia lebih 30 bulan masuk Korea Selatan. Jaminan tambahan itu diharapkan pejabat perdagangan Korea Selatan untuk mengamankan kesepakatan bilateral dengan Washington.

Sapi yang lebih tua diyakini lebih berbahaya dengan penyakit sapi gila. Korea Selatan merupakan pasar besar bagi daging sapi Amerika Serikat hingga 2003. Seoul menghentikan sebagian besar impor pada tahun itu setelah mereka mendeteksi adanya penyakit sapi gila di sana.

AFP | BBC | ANDREE PRIYANTO

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan