Perang Melawan Bubuk Bulog bekerja sama dengan Batan, melakukan pembunuhan secara
ilmiah & besar-besaran terhadap sejenis serangga beras
"sithopilus oryzae l". Pencegahannya melalui radiasi sinar
gamma. Hasilnya memuaskan. |
ANDA mendapat ransum beras bubukan? BULOG mungkin salah, tapi
sudah lama diketahui bahwa beras djadi rusak akibat serangan
sedjenis serangga jang diberi nama Latin Sithopilus oryzae L.
Dan mungkin karena pusing kepala untuk menjelamatkan beras jang
bergudang-gudang itu -- bukan semata-mata dari pentjoleng, tapi
dari hama bubuk -- maka BULOG sedjak pertengahan 1969 itu
mengikat kerdjasama dengan Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN).
Tudjuan: melakukan pembunuhan setjara ilmiah dan besar-besaran.
Sendjata apa jang dipakai? Bukan bom atom tentu, melainkan
radiasi sinar gamma. Sithopilus oryzae L itu biasanja menjerang
beras jang sudah agak lama tersimpan dalam gudang-gudang dan
terutama pada gudang-gudang jang tidak begitu baik seperti
gudang-gudang di Indonesia. Ia melobangi dinding butir-butir
beras dan sambil makan disana iapun bertelur dan membiak.
Radiasi sinar gamma jang kuat terhadap beras itu akan dapat
membunuh sang hama dan sekalian ahli warisnja jang sembunji
dalam butir-butir beras. Disamping itu dengan radiasi ini
membuat beras itu kebal dan "dapat disimpan antara 6 sampai 10
bulan lebih lama", kata Drs Nasir Abdullah, Kepala Laboratorium
Pertanian dan Pengawetan BATAN di Pusat Penelitian Pasar
Djum'at. Akan tetapi kekebalan jang didapat beras setelah
radiasi bukan kekebalan abadi. Sebab disamping lamanja waktu
penjimpanan, djenis bahan jang dipakai untuk karung turut
mempengaruhi. Mengapa? Karena setelah dilakukan radiasi dan
hama-hama bubuk jang ada dalam beras itu terbunuh, selalu
terbuka kemungkinan reinfestasi atau penjerangan kembali.
Lebih-lebih bila wadah jang dipakai adalah karung plastik.
Dengan karung plastik bila terdjadi reinfestasi kerusakan bisa
lebih tjepat karena sirkulasi udara kurang lantjar dan mudah
timbul djamur.
Meskipun persiapan penelitian telah dimulai sedjak pertengahan
tahun 1969, tapi pemeriksaan sebenarnja baru dimulai sedjak
September. Pertjobaan-pertjobaan dilakukan terhadap 5 djenis
beras jaitu petjah-kulit, BGA 1/2, BGA 1/1, Tekad dan djuga
Terigu, sekaligus digudang Bulog Tandjung Priok dan gudang Pusat
Penelitian Pasar Djum'at. Bagaimana hasilnja? "Memuaskan", kata
Nasir Abdullah. Kesulitan jang dialami terutama pada pemeriksaan
digudang Bulog. "Keadaan penjimpanan gudang Bulog di Tandjung
Priok tidak seperti direntjanakan. Banjak tjontoh terpaksa
hilang dimakan/dilubangi tikus", tulis Team Pelaksanaan jang
diketuai Ir Moch. Ismachin dalam laporannja. Laporan itu
menjimpulkan bahwa dengan radiasi sinar gamma, tidak terdapat
efek-efek sampingan jang dikuatirkan semula seperti halnja djika
pembunuhan hama dilakukan dengan insektisida. Kadar vitamin B-I
dalam beras tidak rusak. Sedang nilai organoleptik jaitu rasa,
bau dan warna beras radiasi jang kemudian dimasak, ketika
dihidangkan dihadapan panelis Pusat Penelitian Pasar Djum'at,
oleh panelis dinilai masih "lumajan". Tapi, seperti ditulis
dalam laporan team, achirnja konsumenlah jang menentukan apakah
makanan jang diradiasi masih akan diterima atau tidak. Dan
mendengar kata "radiasi" memang mudah diasosiasikan dengan
bentjana. Beberapa waktu jang lalu sedjumlah wakil-wakil anggota
DPRGR berkundjung ke Pusat Penelitian Pasar Djum'at dan
tamu-tamu ini disuguhi nasi dari beras jang sudah diradiasi.
Ternjata para tamu itu takut mentjoba memakannja. Padahal
"setiap hasil penelitian kami test dulu pada kami sendiri", kata
Nasir Abdullah jang mendapat gelar sardjana biologi dari
Universitas Nasional itu. "Buktinja saja sendiri. Setelah saja
makan beras jang sudah diradiasi kemudian diperiksa dokter.
Ternjata tak ada kelainan-kelainan dalam tubuh saja." Akan
tetapi ia tidak membantah bahwa memang ada kemungkinan efek
sampingan jang ditimbulkan oleh radiasi. Jaitu terdjadinja
perubahan kimia carsinogen jang bisa menimbulkan kanker. Dan
disinilah masalahnja timbul, karena di Indonesia belum ada suatu
lembaga pengontrol bahan makanan seperti Food and Drug
Administration di Amerika misalnja. Djika badan sematjam itu
ada, maka setiap bahan makanan jang diedarkan dalam masjarakat
harus mendapat sertifikat dulu dari lembaga tersebut.
Bagaimanapun, penelitian pengawetan jang dilakukan oleh BATAN
ini telah menundjukkan satu tjara jang bisa menolong
menjelamatkan simpanan beras dari kerusakan hama bubuk. Meskipun
fihak BATAN sekarang rupanja baru hanja dapat menolong sampai
tingkat penelitian sadja, dan belum pada tingkat komersil.
Sebabnja, ja, apalagi sebabnja kalau bukan karena kurangnja
alat-alat. "Kita baru punja satu Irradiation Gammacel 220 dengan
kekuatan 10.000 curri", kata Nasir Abdullah sambil menundjuk
sebuah benda seperti zekering jang tingginja kira-kira 1 1/2
meter garis tengah 1 meter jang terletak dalam ruangan seluas 7
1/2 x 15 meter. Dan itulah alat jang dipakai untuk melakukan
pembunuhan musuh-musuh beras BULOG selama dalam penelitian ini.
|