Banjir Kiriman Jakarta banjir akibat volume air dari Bogor melampaui ukuran
normal. biaya untuk perbaikan & pembangunan tanggul-tanggul
dikelola PUTL. biaya tersebut belum cukup mengatasi banjir
kiriman. |
HUDJAN jang menjiram Djakarta hari Minggu itu tidaklah seberapa.
Tapi pada Senin pagi dari djendela pesawat terbang kelihatan
rumah-rumah seperti kotak geretan jang terapung diatas kolam.
Itu dibeberapa tempat. Hari berikutnja sematjam air melimpah
dari Kali Krukut, menjerbu rumah penduduk dan mentjapai rekor
tinggi hampir dua meter. "Pintu rumah kita ketutup air", keluh
seorang gadis. Sekitar djam delapan malam ia telah mengungsi
kerumah tetangga jang lebih kering. Tapi makin larut malam, air
makin meradjalela. Untuk penduduk sepandjang tepi Kali Krukut,
menginapnja air dirumah mereka selama satu malam, sungguh diluar
dugaan.
Tapi bagi Dinas Pekerjaan Umum DCI Djaja rupanja tidak. "Bukan
diluar dugaan", kata Ir. G. Pandjaitan wakil kepala II DPU.
Sambil menarik nafas, matanja dilajangkan pada peta jang
menggambarkan aliran-aliran kali diseluruh Djakarta. Pandjaitan
mentjoba mendjelaskan mengapa bukan diluar dugaan tapi mengapa
pula bandjir tidak bisa ditjegah. "Volume air dari Bogor memang
melampaui ukuran normal. Volume itu 186 m3 per detik padahal
angka normal dibawah 100 m3, minimal sekitar 50 m3 per detik".
Angka-angka itu menentukan sekali.
"Lebih 100 m3 itu berarti berbahaja, 180 m3 kritislah", kata
Pandjaitan jang tidak bisa menjembunjikan dialek Medannja. Lalu:
"Waktu bandjir itu air sampai 186 m3 per detik. Maka
tanggul-tanggul pun bobollah". Jang dimaksud bobol ialah bahwa
air melampaui ketinggian tanggul-tanggul. Dalam kegawatan
seperti ini Gubernur Ali Sadikin telah bertindak sebagai mandor
pintu air sedang Wakil Gubernur Wiriadinata bertindak selaku
mandor tanggul.
Begitu benar kesibukan jang ditimbulkan oleh air dari Bogor jang
melampaui ukuran normal itu, sehingga M. Mudakir B.E. Kepala
Humas Projek Pengendalian Bandjir Djakarta (Prodjaja)
mentjiptakan satu istilah tersendiri. "Bandjir di Djakarta ini
adalah bandjir kiriman", ia berkata. "Artinja bandjir jang
disebabkan oleh air jang datang dari luar Djakarta, karena
daerah luar Djakarta itu mengalami hudjan". Djakarta bisa
mengalami bandjir oleh dua sebab. Sebab dari hudjan dikota
sendiri dan sebab jang datang dari luar kota. Dan bandjir
kiriman dari Bogor itu tidak bisa lain harus melalui Djakarta.
Oleh Pandjaitan didjelaskan bahwa sampai dipintu air Manggarai,
air Bogor disalurkan ke Bandjir Kanal sebanjak 166 m3 dan kekali
Tjiliwung sebanjak 20 m3. Tapi apa mau dikata, Bandjir Kanal
djuga masih harus menampung air jang datang dari Kebajoran lewat
Kali Krukut. Karena itu volume air Bandjir Kanal bertambah besar
sehingga iapun tidak tertahan lalu melimpah sampai djauh. Dan
tanpa permisi sekonjong-konjong menginap begitu sadja dirumah
penduduk jang berdiam dikedua tepi kali.
Tentang air jang menginap, Mudakir berkata: "Salah penduduk
sendiri. Mereka membangun rumah ditepi-tepi kali atau bahkan
didalam kali. Waktu kali kering memang rumah-rumah itu tidak
tergenang, tapi kalau bandjir datang dengan sendirinja
rumah-rumah itu tergenang. Sedang air jang meluap adalah wadjar,
karena memang saluran air itu tertutup. Pentjegahannja
memerlukan perentjanaan dan pelaksanaan jang memakan waktu dan
uang.
Makro dan mikro. Djadi soalnja masih berkisar sekitar uang.
Menteri PUTL Ir Sutami jang rupanja kesal karena departemennja
selalu didjadikan kambing hitam, Pebruari jang lalu mendjelaskan
pada pers bahwa berdasar peraturan pemerintah no. 18 tahun '53,
tugas-tugas pendjagaan dan pengamanan bandjir di pulau Djawa
diserahkan pada pemerintah daerah. Departemen hanja menjediakan
biajanja. Untuk tahun 70/71 kepada Djakarta Raja telah
diserahkan 200 djuta rupiah. Karena toch terdjadi bandjir, maka
untuk perbaikan tanggul dan saluran-saluran didrop lagi sebanjak
335 djuta rupiah. Sedang untuk periode 71/72 Djakarta akan
mendapat bantuan lebih besar, sedjumlah 350 djuta rupiah.
Uang sebanjak itu disalurkan melalui dua sistim jaitu makro dan
mikro. Sistim makro berada dibawah wewenang Prodjaja, dan untuk
Djakarta sasaran utama diarahkan pada perbaikan tanggul-tanggul
lama dan pembangunan beberapa tanggul baru. Sistim mikro
diserahkan sepenuhnja pada DCI Djaja, chusus untuk pemeliharaan
sarana bandjir jang sudah ada, memperbaiki saluran-saluran dan
pintu-pintu air.
Mengenai tanggul Mudakir berkata bahwa keadaannja sudah tidak
dapat dipertanggungdjawabkan. Karena itu makro melantjarkan
rehabilitasi tanggul-tanggul, termasuk rehabilitasi tanggul
Bandjir Kanal kiri kanan sepandjang 20 km, kali Angke, kali
Sekretaris (wallahu 'alam tak diketahui mengapa namanja
demikian), kali Grogol, kali Tjideng, kali Krukut, kali
Tjiliwung, kali Sentiong, dan kali Sunter. Jang sudah
direhabilitir ialah Bandjir Kanal dan Pluit.
Seluruh biaja dari Departemen PUTL ternjata hanja tjukup
memperbesar kapasitas sarana bandjir jang sudah ada, tapi belum
tjukup untuk mengatasi bandjir itu sendiri. Tahun 1970 telah
diselesaikan penanggulangan bandjir sebesar 62% hanja untuk
Djakarta Tengah dan ini berarti sepertiga kota hampir dapat
diamankan dari bandjir. Diwilajah Djakarta Tengah terdapat waduk
Setiabudi jang telah selesai 95%, waduk Kampung Melati 50%O dan
waduk Pluit 95%.
Kesibukan luar biasa jang berlangsung didjalan samping Djenderal
Sudirman antara Karet dan Bendungan Hilir djuga sangat
bersangkutpaut dengan penanggulangan bandjir. Dibawah tumpukan
tanah jang beronggok seperti bukit itu sedang dibangun satu
koker atau terowongan air untuk mengamankan Kali Krukut. Bahwa
selama ini selalu terdjadi bandjir dilegok djalan Djenderal
Sudirman jang mengakibatkan tergenangnja RS Djakarta, tidak lain
karena saluran air kali Krukut jang memintas djalan itu sudah
parah sekali keadaannja. Saluran itu, menurut keterangan
Mudakir, sudah tak memenuhi sjarat untuk menampung air dan
kalinja berkelok-kelok hingga arus diluruskan pula.
Menurut rentjana, saluran jang semula lebarnja tjuma 6 meter
akan ditambah mendjadi 24 meter. Perbaikan ini semua berdjalan
dalam dua tahun makan waktu lebih kurang 1 tahun. Sampai
sekarang sudah menelan biaja sebesar 217 djuta rupiah dengan
perintjian: untuk koker 124 djuta rupiah, untuk Kali Krukut 45
djuta rupiah dan untuk pemindahan penduduk (baru 80%) 48 djuta
rupiah.
Lebih tjepat. Sekali lagi angka-angka dan sekali ini dikemukakan
untuk menunjang kata-kata Ir Pandjaitan jang mempermaklumkan
bahwa pemerintah tidaklah menutup mata kalau bandjir masih
terdjadi djuga. "Makro tetap main, mikro djalan terus", kata
pedjabat tersebut.
Tapi sementara itu penduduk djuga membangun terus. Dalam
perlombaan ini penduduk lebih unggul. "Masjarakat lebih tjepat
membangun perkampungan daripada DCI membangun prasarana untuk
menanggulangi bandjir", keluh Pandjaitan. Dan ia pun tidak dapat
menahan hati untuk tidak mengulangi harapan pemerintah daerah
agar masjarakat djangan membuang sampah di riool, djangan
merusak atau mempersempit saluran jang ada dan jang paling
penting djangan bikin rumah ditanggul atau di dalam kali.
Kalaupun terpaksa membangun rumah ditempat jang rendah, baiknja
kalau tanahnja diurug lebih dulu. Djangan karena membangun rumah
di tempat jang rendah kemudian kalau terdjadi bandjir berteriak
djuga "bandjir!", tjetus sang insinjur. Dia tidak dapat
memaafkan bandjir, tapi lebih tidak dapat memaafkan penduduk
jang dimusim kering bersikap masa bodoh tapi kalau malapetaka
datang minta dikasihani dan tanpa sengadja selalu menuntut
terlalu banjak.
|