Demonstran Kalibata Buruh-buruh pabrik sepatu bata mengadakan demonstrasi menuntut
kenaikan uang makan, dll. depnaker menyesalkan tindakan
direksi bata karena tuntutan tersebut tak dipenuhi. demonstran
dapat diamankan. |
SITUASINJA hampir serupa dengan aksiaksi peladjar jang menuntut
agar SPP ditjabut. Kalau aksi minta perbaikan nasib jang
dilakukan buruh-buruh pabFik sepatu BATA sebelumnja hanja sampai
diluar pagar, jang terdjadi Kamis siang lalu sempat merembet
kedalam kompleks pabrik sehingga membuat para direksi dan karja
wan staf mereka terkepung tidak berkutik. Merasa terantjam,
direktur BATA, B.ymetal kontan menilpun polisi dan Kodim
setempat minta perlindungan Dan balabantuan jang datang siang
itu memang tidak kepalang tanggung. Se pasukan Raiders dari
Kodim 504 telah didrop disamping puluhan polisi dari Satgas
Komdak Metro Djaya. Untung sadja tidak sampai dilepaskan
tembakantembakan keudara. Meskipun diantara 1.500 demonstran
jang marah itu masih ada jang sempat berteriak: "ABRI djangan ikut
tjampur", jang disambung dengan "kami bukan mau demonstrasi tapi
ingin berunding dengan direksi". Reporter Yunus Kasim jang sudah
mendapat info bakal terdjadi aksi lagi melaporkan bahwa sematjam
"mogok duduk" telah terdjadi sampai larut malam. Buruh-buruh itu
belum mau pulang sebelum mendapat djawaban tegas dari direksi.
Tapi perundingan jang terdjadi antara delegasi buruh dengan
pihak direksi lepas rnaghrib dan dipimpin sendiri oleh Komisaris
Polisi Susilo dari Satgas Komdak Metro jaya tampaknja belum
mentjapai konsensus jang berarti. Pihak buruh tetap menuntut
uang makan sebesar Rp 50 sehari, dan bukan Rp 5 (limarupiah)
seperti jang sampai sekarang terdjadi. Tapi pihak direksi ingin
memenuhi tuntutan buruh dengan memberi makan dipabrik.
Dirobek-robek. Usaha untuk mengisi perut para buruh itu bukan
tidak dilakukan. Meskipun, hanja sampai pada pemasangan plang
jang terpanjang ditepi djalan masuk kekompleks pabrik jang
berbunji: "Ditjari kontraktor makanan untuk melajani kurang
lebih 1.500 karyawan". Papan dengan tulisan jang ditandatangani
oleh Kepala Bagin Pegawai, H.B. Sumampouw, kabarnja njaris
dirobek-robek para buruh. "Bajangkan, mana ada tjara mentjari
kontraktor seperti ini", kata seorang wakil SB. "Kan mestinja
pasang iklan di koran-koran". Konon pemasangan plang jang
dianggap sebagai tidak serius itu merupakan salah satu sebab
mengapa buruh-buruh BATA mengeluarkan ultimatum 2 x 24 djam, dua
hari sebelum terdjadinja aksi.
Tapi masalahnja tidak sampai sesepele itu. Lama sudah para buruh
BATA menuntut agar djandji direksi jang sudah dituangkan dalam
Perdjandjian Perburuhan Bersama (PPB) - jaitu pengaturan
tatakerdja jang menjangkut kepentingan dan hak-hak kedua belah
pihak -- selekasnja dipenuhi. Ini terdiri dari uang makan,
djaminan Perumahan menurut anggapan pimpinan buruh jang
mewa_blusin SB, merupakan suatu paket jang tidak bisa
diltuntutirperumahan dan tjuti besar, pihak Departemen Tenaga
Kerdja tidak bisa berkata banjak. Tapi tentan tuntutan uang
makan Rp 5ehSri jang belum djuga bisa dipenuhi agaknja dipandang
selaga nanggapi demonstrasi pertama jang terdjadi 19 April lalu,
Kepala Depnaker Djakarta Selatan doktorandus A.K. Sabri "sangat
menjesalkan tindakan direksi BATA". Seraja mengetuk medjanja dia
mengeluh: "Mengapa andjuran kami untuk memenuhi uang makan telah
dibiarkan berlarut-larut".
Bagi pengusaha BATA sendiri, masalah menampung sedjak beberapa
tahun ini tak ubahnja bagaikan duri dalam daging. Sebagai akibat
pengambil-alihan didjaman konfrontasi dulu, pabrik jang kemudian
dikembalikan lagi pada pemiliknja punja ikatan-ikatan jang
tjukup berat. Buruh-buruh tidak boleh dilepas biaja-biaja tambah
meningkat, tapi sebaliknja kebutuhan untuk memasang mesin-mesin
baru jang tidak membutuhkannjak tangan sudah diambang pintu.
|