Siap Banjir Jakarta telah siap menyongsong musim hujan mendatang. 47%
sarana pengendalian banjir selesai dibangun. dinas pu sibuk
mengeruk kali ciliwung. timbunan-timbunan sampah telah
disingkirkan. |
DI musim panas, bukan saja kacang yang suka melupakan kulitnya,
seperti dalam pribahasa lama. Tetapi juga penduduk Ibukota, bisa
seenaknya membuang pembungkus atau berbagai jenis benda sisa
lainnya. Dan di musim hujan, barang-barang tak berharga itu
dengan mudahnya menjadi penyumbat berbagai saluran air.
Banjir-pun menggenangi Jakarta, seperti yang sering terjadi pada
tahun-tahun lampau. Kemudian, bagaimana kota metropolitan ini
menghadapi musim penghujan --yang konon mulai curah diakhir
bulan ini setelah melewati bulan-bulan kemarau'!
Sebab tidak mustahil bahwa hujan di hari pertama akan berarti
banjir pertama, seperti dialami kota Bandung belum lama ini,
"Kita sudah siap", kata M. Mudakir B.E., Humas Proyek
Pengendalian Banjir DKI, sambil buru-buru menambahkan, "sebab
hujan masih normal". Walaupun begitu instansi urusan banjir ini
tidak berlengah-lengah selama karena curah hujan masih
sedang-sedang saja, seperti diramalkan Lembaga Meteorologi dan
Geofisika. Menurut Mudakir, kewaspadaan perlu dilakukan untuk
mencegah "banjir kiriman" seperti terjadi tahun lalu dari Bogor
dan sekitar Jakarta. Untuk ini sekarang sedang giat dilakukan
pengerukan Kali Cideng sepanjang 10 Km, mulai dari belakang
Hotel Indonesia sampai Pasar Ikan. Mudakir melihat, keadaan
sungai itu sebagai paling gawat dibanding lainnya di Ibukota
dari kacamata banjir. Sebab selama musim kemarau ini sungai yang
tidak dalam itu telah jadi makin dangkal oleh timbunan sampah
berikut berbagai macam kotoran.
Mc Arthur. Tidak kurang dari 3 buah dragline selalu sibuk
menggali dan mengunyal muatan sungai Cideng sekarang. Sementara
itu instansi-instansi lain yang berkoordinasi dengan Pro Banjir,
seperti Di atas PU dan Dinas Kebersihan juga melakukan berbagai
kegiatan yang hampir serupa dalam rangka pengaman musim hujan
kelak. Di Jalan Hayam Wuruk dan Gajah Mada, Dinas PU sibuk
mengadakan pengerukan kali Ciliwung, sementara timbunan-timbunan
sampah di seluruh pojok Jakarta disingkirkan Dinas Kebersihan.
Kata Mudakir, kali Grogol, Ciliwung dekat Hai Lai dan Kali
Sentiong, pada gilirannya akan dikurangi pula bebannya.
Selebihnya, Kepala Humas Pengendalian Banjir DKI itu menambahkan
bahwa di wilayah-wilayah Jakarta Tengah 92% peralatan dan
prasarana pengendalian banjir telah selesai dibangun, sementara
Jakarta Barat baru 50% dan Jakarta Timur belum samasekali. Yang
dimaksud Mudakir tentulah beberapa waduk-waduk dan pintu air,
berikut pompa-pompa air untuk mengatur aliran.
Sistim pengendalian banjir di Jakarta, menurut Mudakir tidak
diberi nama secara khusus, meskipun pernah orang menyebutnya
sebagai sistim Mc Arthur. Cara ini yalah dengan mengalihkan arah
air dari luar Jakarta ke daerah-daerah pinggiran agar tercegah
masuk kota. Mengingat Jakarta sudah mempunyai sungai-sungai
sebagai pengendalian arus air maka yang dilakukan adalah membuat
sodetan-sodetan. Yaitu membuat kali baru dan diarahkan ke sungai
lain yang ada di luar kota, seperti sodetan kali Grogol dan kali
Pesanggrahan. Karena itu menurut Mudakir, secara keseluruhan
untuk Ibukota, 47% pembangunan prasarana pengendalian banjir
telah selesai. Meski begitu pejabat tadi belum berani
memperkirakan, apakah sampai selesai Pelita ke-II nanti Jakarta
akan benar-benar bebas banjir.
|