Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 24/III/18 - 24 Agustus 1973
   
Nasional

Sesudah 5 Agustus

Mahasiswa ITB berdemonstrasi memprotes pemilihan miss University Bandung. 200 orang yang diduga pelaku ditahan. Di Jakarta, diduga akan ada keributan serupa. Pasukan anti huruhara disiapkan.

DIIRINGI protes cukup keras dari para senator mahasiswa ITB,
pemilihan Miss University Bandung akhirnya berlangsung juga.
Dengan ini tampaknya sekaligus hendak ditimbulkan kesan,
ketenangan telah pulih kembali secara menyeluruh di kota itu
dari sisa-sisa "Peristiwa 5 Agustus" baru lalu. Bahkan dari
fihak Kodam VI Siliwangi dan pejabat-pejabat kantor gubernur
Jabar ditunjukkan bahwa lebih dari 200 orang yang diduga menjadi
pelaku keributan itu telah ditahan. Dan seperti biasa pernyataan
resmi itu menunjuk ke sisa-sisa G30S/PKI sebagai pelaku-pelaku
penting di antara mereka yang telah diamankan itu. Meskipun
demikian, beberapa saat setelah membicarakan kejadian itu dengan
Presiden minggu lampau, gubernur Solihin tampaknya belum puas.
Sebab "otaknya belum tertangkap" ucapnya kepada pers.

Alasan Solihin barangkali karena tidak lama lagi setelah
keributan itu, di beberapa kota menunjukkan tanda-tanda hendak
meletus pula. Di Jakarta umpamanya terbetik kabar, di berbagai
tempat kelompok-kelompok pemuda telah mengadakan persiapan.
Untung petugas-petugas keamanan yang diberi nama gagah yaitu
Pasukan Anti Huruhara, telah mendapat perintah siap di
"tempat-tempat rawan" Ibukota. Sehingga sehubungan dengan
kemungkinan ini pula, pernyataan-pernyataan berbagai Dewan
Mahasiswa di Bandung maupun Jakarta atas Peristiwa 5 Agustus itu
ada yang tidak sempat tersiar di pers atas permintaan yang
berwajib -- sekalipun isi pernyataan-pernyataan itu umumnya
cukup proporsionil.

M. Natsir. Belum cukup dengan itu, berbagai organisasi massa
menerima pula siaran untuk tidak menyinggung-nyinggung kejadian
itu dalam pertemuan-pertemuan umum dengan para anggotanya.
Pengurus-pengurus masjid dan tempat-tempat ibadah lainnya
mendapat pula kiriman peringatan serupa. Bahkan Muhammad Natsir,
seorang ulama Islam, beberapa saat sebelum mengucapkan salam di
hadapan puluhan ribu ummat Islam di kota Surabaya, harus
membatalkan da'wahnya. Alasannya diduga: khawatir kalau-kalau
bekas tokoh Masyumi itu nyerempet-nyerempet dalam omongan
sehingga dapat mengobarkan peristiwa yang serupa dengan di
Bandung. Walaupun M. Natsir mula-mula menyesalkan pembatalan
itu, tetapi dia dapat memahami juga, lebih-lebih setelah
diketahuinya fihak kepolisian Jatim memang telah melarang
acara-acaranya sejak tanggal 4 Agustus.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data