Sesudah 5 Agustus Mahasiswa ITB berdemonstrasi memprotes pemilihan miss
University Bandung. 200 orang yang diduga pelaku ditahan. Di
Jakarta, diduga akan ada keributan serupa. Pasukan anti
huruhara disiapkan. |
DIIRINGI protes cukup keras dari para senator mahasiswa ITB,
pemilihan Miss University Bandung akhirnya berlangsung juga.
Dengan ini tampaknya sekaligus hendak ditimbulkan kesan,
ketenangan telah pulih kembali secara menyeluruh di kota itu
dari sisa-sisa "Peristiwa 5 Agustus" baru lalu. Bahkan dari
fihak Kodam VI Siliwangi dan pejabat-pejabat kantor gubernur
Jabar ditunjukkan bahwa lebih dari 200 orang yang diduga menjadi
pelaku keributan itu telah ditahan. Dan seperti biasa pernyataan
resmi itu menunjuk ke sisa-sisa G30S/PKI sebagai pelaku-pelaku
penting di antara mereka yang telah diamankan itu. Meskipun
demikian, beberapa saat setelah membicarakan kejadian itu dengan
Presiden minggu lampau, gubernur Solihin tampaknya belum puas.
Sebab "otaknya belum tertangkap" ucapnya kepada pers.
Alasan Solihin barangkali karena tidak lama lagi setelah
keributan itu, di beberapa kota menunjukkan tanda-tanda hendak
meletus pula. Di Jakarta umpamanya terbetik kabar, di berbagai
tempat kelompok-kelompok pemuda telah mengadakan persiapan.
Untung petugas-petugas keamanan yang diberi nama gagah yaitu
Pasukan Anti Huruhara, telah mendapat perintah siap di
"tempat-tempat rawan" Ibukota. Sehingga sehubungan dengan
kemungkinan ini pula, pernyataan-pernyataan berbagai Dewan
Mahasiswa di Bandung maupun Jakarta atas Peristiwa 5 Agustus itu
ada yang tidak sempat tersiar di pers atas permintaan yang
berwajib -- sekalipun isi pernyataan-pernyataan itu umumnya
cukup proporsionil.
M. Natsir. Belum cukup dengan itu, berbagai organisasi massa
menerima pula siaran untuk tidak menyinggung-nyinggung kejadian
itu dalam pertemuan-pertemuan umum dengan para anggotanya.
Pengurus-pengurus masjid dan tempat-tempat ibadah lainnya
mendapat pula kiriman peringatan serupa. Bahkan Muhammad Natsir,
seorang ulama Islam, beberapa saat sebelum mengucapkan salam di
hadapan puluhan ribu ummat Islam di kota Surabaya, harus
membatalkan da'wahnya. Alasannya diduga: khawatir kalau-kalau
bekas tokoh Masyumi itu nyerempet-nyerempet dalam omongan
sehingga dapat mengobarkan peristiwa yang serupa dengan di
Bandung. Walaupun M. Natsir mula-mula menyesalkan pembatalan
itu, tetapi dia dapat memahami juga, lebih-lebih setelah
diketahuinya fihak kepolisian Jatim memang telah melarang
acara-acaranya sejak tanggal 4 Agustus.
|