Hikayat Si Datuk Ir Arifin MSC, Kepala Departemen Urusan Ranah Fak. Pertanian
Unlam (Banjarbaru), menemukan jenis padi banih datuk di desa
Palam. Jenis padi "floating rice" ini cocok bagi persawahan
pasang-surut. |
NAMA Universitas Langbungmangkurat -- Fakultas Pertaniannya --
mendadak jadi pusat perhatian setelah sekian lama menyepi
dipersimpangan empat Banjarbaru. Dan perhatian yang tumplek di
bulan September lalu itu tidak bisa dilepaskan dari desa Palam
(Pangkal) di kecamatan Cempaka. Ini bermula ketika Ir Arifin
yang mengepalai departemen urusan tanah fakultas itu pada suatu
pagi tertarik pada tangkai malai padi di sawah milik Muhammad
dan sersan A. Jaini. "Panjang malai dan tinggi batang sungguh
berlainan dengan jenis unggul lainnya," ujar Arifin jelasnya:
panjang malai antara 35 sampai 45 senti, tinggi batang antara
155--200 senti. Sedang daun bendera bisa miring dalam posisi 45
derajat dengan serumpun anak padi yang berjumlah antara 15
sampai 25 batang. Konon bibit padi itu sendiri berasal dari
Anjir di Kalimantan Tengah. Dan siapa yang iseng menandur bibit
yang satu itu di desa Palam ini entahlah.
Arifin yang beroleh gelar M.Sc. di Amerika Serikat itu lalu
minta beberapa tangkai untuk diperiksa di laboratorium. Setelah
melalui sedikit kesibukan di selingi diskusi dan penelitian di
sana-sini akhirnya diketahui jenis padi itu disebut Banih Datuk
oleh penduduk. Dan sampai saat ditemukannya sang Datuk sudah
berumur 3 generasi. Dengan begitu menurut Arifin "homogenitasnya
dapat dianggap mencapai 75%. Dari laboratorium kemudian meluncur
data data: jumlah gabah antara 300--500 butir berat per 1.000
butir gabah kering antara 21--23 gram. Penelitian yang cukup
menelan waktu di laboratorium itu sendiri kemudian melahirkan
nama untuk 3 jenis padi: Unlam I, Unlam II dan Unlam III.
Bukan "floating mass". Begitulah si Datuk akhirnya dibawa ke
Bogor dan Los Banos di Manila untuk mendapat penelitian lebih
lanjut. Sampai sekarang perincian varietas ketiga jenis baru itu
masih dalam penelitian Unlam yang kabarnya butuh enam generasi
musim. Namun menurut hipotese Prof Delmy. rektor Unlam, "Banih
Datuk yang di temukan Arifin itu termasuk jenis Nam Dong dari
Kanton yang dibawa ke Banjarmasin di tahun 1938 oleh ahli
pertanian Makaliwy." Meskipun sang rektor tidak lupa berkata:
"Ini baru pendapat sementara, lho." Baik Delmy maupun Arifin
yang penemu itu sependapat bahwa si Datuk masih dalam taraf
penelitian. Namun keduanya ada menyebut-nyebut jenis padi itu
termasuk "floating rice (beras mengapung). Artinya: tinggi
tangkai dapat menyesuaikan diri dengan permukaan air. Hingga
katanya amat cocok dengan persawahan pasang-surut seperti banyak
terdapat di Kalimantan.
Malangnya, beberapa daerah baru persawahan rendah - sebaliknya
menghindari diri dari jenis padi yang berbatang tinggi. Agar
tidak roboh kalau ada hujan keras. Besarnya kemungkinan padi
yang berumur muda rebah ditimpa hujan angin memang perlu
diperhitungkan. Hingga jenis si Datuk kurang di sukai oleh
penduduk. Sekalipun, kata Arifin, "batangnya keras dan tahan
serangan beberapa hama seperti virus Tungro."
|