Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/III/20 - 26 Oktober 1973
   
Nasional

Hikayat Si Kerbau

11 orang delegasi mahasiswa ITB berkunjung ke DPR menyerahkan puisi sindiran yang berjudul "dongeng kerbau gemuk" dan surat terbuka. Mereka menolak cara paksaan dalam memberantas rambut panjang.

TENTANG rambut gondrong rupanya belum juga terusaikan walaupun
Pangkopkamtib sendiri sudah menurunkan peringatan.
Mahasiswa-mahasiswa ITB 6 Oktober baru lalu, ketika memperingati
tepat 3 tahun gugurnya Rene Coenraad telah mengambil kesempatan
untuk mengumumkan penolakan mereka terhadap cara-cara paksaan
atau setengah kekerasan dalam memberantas rambut panjang.
Mengumandangkan lagu-lagu lembut disertai berbagai poster yang
menyusul spanduk-spanduk yang sebelumnya telah mereka sebar di
hampir seluruh bagian kota Bandung, mahasiswa-mahasiswa itu
memperingatkan bahwa cara-cara yang ditempuh penguasa dalam hal
ini bukan saja cukup lucu, tetapi juga sebenarnya tidak perlu.

Tidak cukup di kota Bandung, hari Rabu pekan lalu tidak kurang
dari 11 orang delegasi mahasiswa ITB datang ke Jakarta dan
berkunjung ke gedung parlemen. Tidak kalah penting daripada
dialog dengan Jamal Ali SH - Ketua Komisi IX DPR yang mewakili
para pimpinan lembaga itu karena ketika itu "sedang sibuk",
adalah sebuah sajak dan seberkas surat yang mereka lampirkan.
Puisi sindiran berjudul "Dongeng Kerbau Gemuk" terdiri dari 5
halaman folio itu di sana-sini mengungkapkan ke semena-mena
seekr kerbau yang "walau dungu tapi gemuk" tetapi "dialah raja
dari segala".

Seloroh. Pada bait-bait berikutnya terdapat dialog antara Kerbau
Gemuk dengan Kerbau Kecil yang kurus. Berkata si Gemuk:
"Percayalah, kami semua Kerbau Gemuk yang bijaksana, sekarang
sedang kubangun negeri ini untuk hari depanmu, tak usahlah kau
turut campur, diamlah di kandang ilmumu, akan beres nanti
semua". Jawab si Kecil: "Jadi kau suruh aku diam saja? Sementara
kawan-kawanku makin kurus serta utang lima pedati rumput telah
berlipat dua belas? Dan kau hangati terus kandangmu sendiri
dalam dunia kuasa yang kau cengkeram?" Tidak sampai di situ
saja, Kerbau Gemuk membentak si Kecil: "Tak perlu lagi kau
berbicara denganku dan .... o, ya, ingatlah Kecil, kau juga
harus memelihara kepribadian Dunia Kerbau, jangan kau pelihara
tandukmu terlalu panjang, kurang sopan lagi pula menjadikan kau
pemberang, agak manja dan acuh tak acuh". Perdebatan tak
berakhir dengan penyelesaian kecuali keputusasaan si Kecil dan
puisi itu sendiri menutup bait-baitnya dengan: "syukurlah kita
semua bukan Kerbau".

Lebih dari itu delegasi ITB membacakan pula sebuah surat terbuka
yang ditandatangani Muslim Tampubolon, selaku ketua umum Dema
ITB berikut 4 orang pembantunya. 7 buah pertanyaan diajukan
dalam surat itu, seperti: Sejauh mana DPR mampu dan bersedia
jadi penyalur aspirasi rakyat? Negeri ini negeri yang sudah
maju, sudah punyakah kita Lembaga Pengatur Rambut Gondrong?
Bangsa kita adalah hangsa yang bermoral, dapatkah dibuktikan
hubungan antara moral dengan rambut gondrong? Negeri ini negeri
beribu kemungkinan, mungkinkah semua ini hanya manifestasi
ambisi pribadi yang ingin menonjol dan berkuasa? Dan setelah
menjawab pertanyaan delegasi bahwa dia sendiri kurang faham akan
status Kopkamtib, Jamal Ali disodori para mahasiswa itu dengan
pernyataan ini: "Jika pelarangan itu berlangsung terus, berarti
kita membiarkan satu kekuatan untuk menentukan peraturan dan
kami melihat selera pejabat dijadikan peraturan". Walaupun wakil
dari DPR tadi tampakllya menanggapi para mahasiswa dengan cukup
serius, tetapi tidak urung anak-anak muda itu berseloroh juga.
"Kegemukan lebih jelek dari gondrong" kata salah seorang dari
mereka, karena itu "lebih baik jika DPR juga mengeluarkan
peraturan yang melarang kegemukan" .

Uskup Agung. Tampaknya Jamal Ali tidak memberi banyak komentar,
kecuali pada akhir pertemuan menyampaikan "terimakasih kalau
saudara-saudara masih percaya atau pura-pura percaya kepada
Dewan Perwakilan Rakyat". Demikian pula belum banyak terdengar
reaksi dari berbagai kalangan, kecuali para mahasiswa ITB sejak
Pangkopkamtib menyatakan kekesalannya atas rambut gondrong.
Hanya Uskup Agung Semarang yang wilayahnya meliputi daerah pilot
proyek pemberantasan rambut gondrong yaitu Jawa Tengah dan
Yogyakarta, Kardinal Harmoyuwono pada Hari Abri baru lalu
mengungkapkan pula kekesalannya dari segi lain kepada
TEMPO."Soal rambut gondrong terlalu dibesar-besarkan" kata sang
Uskup, sebab "masih banyak masalah lain yang lebih penting yang
perlu ditangani". Tidak lupa Kardinal Darmoyuwono menambahkan
bahwa "meskipun kita sedang membangun, toh membangun itu tidak
ada hubungannya dengan rambut gondrong".


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pensiunan Gugat PT Telkom Indonesia Rp 56 Miliar - 25 Jul 2008 | 09:57 WIB
Kejaksaan Periksa Perusahaan Terkait Alat Tes Flu Burung - 25 Jul 2008 | 09:52 WIB
Penahanan dan Penggeledahan PT Pos Mendesak - 25 Jul 2008 | 09:46 WIB
Korban Taksi Maut di Jalan Tol Bertambah - 25 Jul 2008 | 09:18 WIB
Jamaah Haji Beresiko Tinggi Alami Gangguan Kesehatan Dapat Kartu Kendali - 25 Jul 2008 | 08:51 WIB
Indeks Diperkirakan Terus Melaju - 25 Jul 2008 | 08:37 WIB
Investasi di Kawasan Industri Kariangau Belum Capai Target - 25 Jul 2008 | 08:34 WIB
Waktu menonton Televisi menurunkan fungsi Retina Anak - 25 Jul 2008 | 08:28 WIB
Jakarta Cerah di Pagi Hari, Mendung Menjelang Sore - 25 Jul 2008 | 07:29 WIB
Pemerintah Paksa Pelanggan Bisnis Berhemat - 25 Jul 2008 | 01:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data