Arah Apa ? Demonstrasi mahasiswa anti investor Jepang sejak kunjungan
pronk mengambil arah baru, disamping itu muncul isu pri dan
non pri. Laksus Kopkamtibda menyerukan aksi-aksi tersebut
berhenti. |
PERKEMBANGAN demonstrasi kecil-kecilan sejak kunjungan Pronk
nampaknya telah mengambil arah baru. Meskipun modal asing masih
jadi pusat sorotan -- terakhir dalam diskusi di Balai Budaya --
tapi sasaran kekesalan mulai tampak dipersempit. Kini suara anti
tingkah laku investor Jepang kian mengatasi suara anti lainlain.
Setelah memorandum GMUI di Bappenas mulai menyerempet Jepang
delegasi mahasiswa ITB dan kemudian mahasiswa Fakultas Hukum Ul
datang langsung ke KDB Jepang -- yang letaknya bersamaan dengan
kantor-kantor dagang (yang juga Jepang, tentu saja). Poster
"Mahasiswa Menuntut" misalnya pendek dan jelas: "Stop
Imperialisme Ekonomi Jepang". Dan langsung saja kritik-kritik
terhadap para teknokrat, yang dilontarkan misalnya oleh majalah
Ekspres dan harian Pedon?an, tenggelam oleh suara mahasiswa yang
nampaknya tidak lagi menggugat teknokrat itu. Seruan untuk
meninjau kembali strategi pembangunan yang diteriakkan dari
kampus UI 24 Oktober yang lalu juga nampaknya untuk sementara
disimpan--mungkin dilupakan.
Klasik. Sebab bagi kelompok "Mahasiswa Bertanya" misalnya, soal
yang penting agaknya lebih sederhana dan jelas dari soal
"strategi pembangunan". Dalam demonstrasi ke Bank Indonesia
(diterima oleh Brigjen Durmawel) mereka antara lain membawa
poster: "Kredit Untuk Siapa? Cukong Atau Pribumi? Liem Bian
Koen, Liem Bian Kie, Liem Boen Hwa, atau Dullah dan Atmo?".
Tentu saja ini tidak langsung berhubungan dengan suara
anti-Jepang. Tapi seperti halnya aksi-aksi ke KDB Jepang, para
mahasiswa telah mempergunakan bahasa yang lebih menyangkut
perasaan "orang banyak" dalam protes mereka: membicarakan soal
pribumi dan non-pribumi, menyuarakan "dugaan" tentang adanya
"permainan" antara "cukong" dengan pejabat. Pendeknya, satu tema
klasik-populer-ringan. Meskipun dengan risiko, bisa menaikkan
semangat rasialisme, suara macam itu agaknya hanya sambungan
saja dari suara bisik-bisik atau keras di kalangan masyarakat
pengusaha pribumi. Tentu saja yang menyolok ialah disebutnya
nama Liem Bian Koen & Kie di situ sebab itu adalah nama dua
tokoh Angkatan 66 yang dulu aktif menegakkan "Orde Baru", yang
entah karena apa kini seolah-olah dianggap sebagai "cukong".
Seorang anggota demonstrasi menyatakan penjelasannya: "Mereka
itu sangat pro-modal Jepang, yang kini banyak kawin dengan
pengusaha nonpnbumu".
Yang juga menarik ialah sikap Kopkamtibda Jakarta. Mungkin
karena ingin konsekwen dengan "wajah baru" penguasa, tak ada
tindakan apa-apa terhadap demonstrasi ini. Aksi-aksi mahasiswa
itu dinilai "masih wajar". Hanya waktu muncul pula sejumlah
pemuda yang dipimpin veteran demonstran Yulius Usman dengan
menamakan diri "Oposisi Angkatan Muda" (OAM), Laksus Kopkamtibda
menyerukan agar aksi-aksi berhenti. Alasannya ialah munculnya
"gerakan oknum-oknum pemuda yang tidak dapat
dipertanggunawabkan" dan hanya "latah ikut-ikutan dengan tujuan
mencari popularitas dan dapat menjurus ke arah anarkhisme".
Diam-diam sebenarnya para pemimpin aksi-aksi sejak kedatangan
Pronk setuju benar akan penilaian Laksus tersebut. Tapi untuk
menghentikan aksi-aksi, itu tergantung dad arah apa yang diambil
para mahasiswa. Yang jelas, mereka hanya minta perhatian atas
beberapa hal. Hasrat buat mementaskan kembali peristiwa Bangkok
di Jakarta kini nampaknya bukan hasrat mereka umumnya. Suara
mereka terasa panas, tapi sebenarnya perhitingan mereka cukup
dingin.
|