Macam-Macam Saja Delegasi KNPI menghadap Bappenas dan DPR mereka menyampaikan
pokok-pokok pikiran penyempurnaan Pelita II. Pemuda dan
mahasiswa masih melakukan aksi di Bappenas, Kopkamtib dan di
Hotel Indonesia. |
ORANG-ORANG yang berkantor di Bappenas sekarang ini sedikit
lega. Bukan lantaran tidak ada demonstrasi atau delegasi, tapi
justru sebaliknya: begitu banyak dan begitu beraneka ragam /anr
muncul--dan Bappenas bukan satu-satunya sasaran. "Paling tidak
teman senasib karni sekarang terus bertambah", kata seorang
karyawan di ged'ung di Taman Suropati itu. Tapi tidak karena
banyak teman itulah maka wajah Deputy Ketua J.B. Sumarlin amat
cerah ketika menerima delegasi Komite Nasional Pemuda Indonesia
(KNPI) Sabtu pagi pekan yang silam. Dipimpin oleh David
Napitupulu -- ketua KNPI, sekretaris bidang mahasiswa, pemuda
dan pelajar Golkar dan wakil ketua komisi 11 DPR -- delegasi
bekas pemimpin mahasigwa tahun 1966 ternyata membawa
"Pokok-pokok fikiran". Isinya bersifat umum sekali. Justru
karena itulah maka tidak ada debat sengit dengan Sumarlin, dan
sang Menteri tentu saja banyak senang di pagi itu. Perlu
dicatat: sejak banyak rombongan datang unjuk rasa ke Bappenas,
utusan KNPI inilah satu-satunya yang diterima oleh pejabat
tertinggi di situ (Widjojo sedang ke sidang IGGI).
Mungkin ini disebabkan karena yang datang dianggap lebih punya
bobot di belakangnya. Misalnya di antara peserta ada Kapten TNI
(AU) Dr Abdul Gafur, bekas demonstran 1966, kini ABRI dan Golkar
sekaligus. "Kami tidak mengeritik Bappenas, kami cuma
menyumbangkan pokok-pokok fikiran untuk penyempurnaanPelita
kedua nanti", katanya menjawab pertanyaan seorang wartawan yang
mencegatnya di teras Bappenas. Keterangan perwira AURI ini
diperjelas lagi oleh tokoh KNPI lainnya, Hatta Mustafa. Katanya
kepada wartawan TEMPO: "Kami tidak sependapat dengan petisi 24
Oktober Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia yang menginginkan
perubahan strategi pembangunan". Bekas pimpinan DMUI ini
menganggap stMtegi pembangunan yang digariskan oleh GBHN sebagai
"sudah tepat dan tidak bisa diganggugugat, kecuali melalui
sidang MPR".
Gemuk. Di tengah-tengah arus berbagai delegasi dan demonstrasi,
gerakan tokoh-tokoh pemuda yang diakui resmi oleh pemerintah ini
memang tidak bisa lain dari menarik perhatian, terutama bagi
yang sempat menyaksikan perjuangan mereka di tahun 1966. Lebih
gemuk, lebih sopan dan dengan pakaian menyenangkan di mata,
mereka--yang sebagian juga anggota DPR -- Sabtu pagi itu,
kemudian juga mendatangi DPR. Hanya entah lantaran merasa kurang
patut, David Napitupulu yang punya posisi penting di parlemen,
akhirnya mengakhiri aksinya di Bappenas dan tidak sempat
bermuka-muka dengan Sumiskum yang menerima delegasi dalam
kedudukannya sebagai pimpinan DPR. Tapi ketika masih di teras
Bappenas, Kapten Abdul Gafur sempat juga membentak seorang
wartawan yang bertanya tentang posisinya sebagai anggota ABRI
yang ikut aksi KNPI itu. "Kami ke sirii sebagai pemuda",
jawabnya kesal. Ternyata bukan cuma Gafur yang ABRI dalam
rombongan tersebut. Sebab Letnan Kolonel Utomo, anggota staf dan
bekas ajudan Mayjen Ali Murtopo, juga ikut ambil bagian. "Oh,
mas Utomo? Ah, dia kan dari Generasi Muda ABRI", Hatta Mustafa
memberi penjelasan lagi.
Ternyata Sumiskum boleh dianggap lebih progresif dari
bekas-bekas pejuang 1966 ini. Sumiskum punya bukti bahwa soal
kredit modal kepada pribumi sudah diajukan oleh DPR pada bulan
September 1972, tapi realisasinya baru dilakukan setelah
demonstrasi mahasiswa ke Bank Indonesia baru-baru ini. "Dengan
demikian nampaknya peranan demonstrasi itu lebih kelihatan dari
saran DPR', katanya. Sambil bergurau, Sumiskum melanjutkan:
"Agaknya memang lebih efektif berdemonstrasi dari pada berdebat
di DPR".
Wajar. Dan fikiran macam yang lewat di benak Sumiskum itu memang
sedang dipraktekkan oleh kalangan pemuda dan mahasiswa ibu kota
dengan dukungan sepenuhnya dari enam organisasi ekstra
universitas--HMI, PMKRI. IPMI, GMKI, GMNI dan Somal--melalui
memorandum mereka yang menilai aksi-aksi mahasiswa sekarang ini
sebagai "positif dan wajar". Bersamaan dengan munculnya seorang
"seniman" yang meneriakkan nasib rakyat kepada pemimpin melalui
sajaknya di halaman Bappenas, Laksus Kopkamtib Jakarta juga
kebagian demonstrasi. Sekelompok mahasiswa IKIP yang kesal
dengan larangan-larangan demonstrasi berusaha menemui Letkol
Mugni--kepala penerangan yang kemudian dimutasikan -- yang
selama ini memikul beban sebagai juru bicara pelarangan
demonstrasi. "Mana demokrasi, apakah kami butuh surat bebas
dialog?" begitu anara lain poster mereka. Esok harinya, para
demoristran "Oposisi Angkatan Muda" Julius Usman, Butje dan
Totok dibebaskan dari tahanan. Tidak jera, sebaliknya mereka
malah menantang: "Aksi-aksi kami akan jalan terus", kata Junus
Usman. Tapi sebelum ketahuan kapan dan bagaimana aksi Julius
yang bakal muncul, Kesatuan Aksi Ummat Islam datang pula
mempersoalkan RUU Perkawinan. Dan ketika masih lelah mengurusi
orang-orang yang mempersalkan aturan-aturan perkawinan ini,
polisi harus pula sebentar mcnahan Louis Wangge yang memimpin
Komite And Kemewahan beraksi Jumat malam pekan lalu di Hotel
Indonesia. Pemilihan ratu-ratu cantik dan mulus itulah yang jadi
sasaran mereka. "Ingat penderitaan rakyat, stop kemewahan Ratu
berpesta, cukong gembira", begitu tertulis pada poster-poster
yang mereka beberkan di pintu masuk Bali Room. Tapi Gubernur Ali
Sadikin yang ditemui wartawan dengan cepat menjawab: "Bagi saya
ini bukan kemewahan". Tambahnya pula, "Saya yang selalu menerima
tamu-tamu luar negeri memerlukan bantuan ratu-ratu ini".
|