Ke Alamat Terakhir 12 dewan mahasiswa Jakarta, Bandung & Bogor berusaha menemui
Presiden Soeharto untuk mengadakan dialog langsung mengenai
situasi dewasa ini, sebagai upaya kunjungan ke alamat
terakhir. |
HANYA beberapa hari setelah Aspri Presiden Ali Murtopo berseru
agar para pemuda dan mahasiswa "menghentikan
demonstrasi-demonstrasi yang tak tentu arah" 12 Dewan Mahasiswa
dari Jakarta, Bandung dan Bogor berusaha menemui Presiden
Soeharto. Berbicara di depan seminar Keluarga Berencana oleh
Komite Nasional Pemuda Indonesia diPalembang, Ali Murtopo
memperingatkan bahwa "kalau ingin menuntut harus ada tujuannya
dan jangan sampai dikomando orang lain". Sehingga
sekurang-kurangnya bagi pembantu pribadi Kepala Negara RI itu,
demonstrasi para mahasiswa hari Senin pekan lampau itu akan
tetap menjadi tanda-tanya: untuk apa dan siapa di belakang
'mereka? Tetapi pertanyaan itupun tetap belum terjawab. Sebab
dengan rombongan yang hampir berjumlah 100 orang,
mahasiswa-mahasiswa tadi tidak juga berhasil dijumpai. Melalui
penjagaan cukup ketat dari petugas-petugas anti huru-hara,
mereka mendatangi Bina Graha, Sekretariat Negara dan rumah
kediaman Presiden Soeharto di jalan Cendana dalam usaha mereka
mengadakan dialog langsung "mengenai situasi dewasa ini" dengan
Presiden Soeharto. Mereka terdiri dari pimpinan Dema-Dema
Universitas Trisakti, Universitas Jayabaya Ikip dan Universitas
Muhammadiyah, Sekolah Tinggi Tehnik Nasional Universitas
Indonesia, Sekolah Tinggi Olahraga, Uni versitas Kristen
Indonesia, Universitas Atmajaya, Universitas Pajajaran
(Bandung), Institut Pertanian Bogor dan Institut Tehnologi
Bandung.
Atau sebaliknya.
Bagaimanapun juga tampaknya Kepala Negara hari itu mencoba
menghindari para mahasiswa walaupun kemudian seorang petugas
keamanan menjanjikan kesediaan Presiden menerima mereka "dalam
waktu dekat". Di luar tuduhan Ali Murtopo akan adanya semacam
komando yang menggerakkan berbagai demonstrasi akhir-akhir ini
tetapi rupanya keinginan para mahasiswa dari 12 perguruan tinggi
tadi untuk langsung berhadapan muka dengan Kepala Negara dapat
dianggap sebagai kunjungan ke alamat terakhir. Seperti pernah
terjadi tentu saja Presiden Soeharto tidak akan melupakan
janjinya untuk menerima kedatangan para anak muda itu tetapi
apakah -- kalau dialog itu sudah terjadi -- akan cukup melegakan
hati kedua fihak? Bagi Presiden Soeharto tidak banyak yang harus
diungkapkan kecuali dengan segala iktikad baik akan meneruskan
pembangunan sementara diakui pula adanya berbagai kepincangan
yang akan terus disempurnakan. Sebaliknya dari fihak para
mahasiswa dan pemuda yang biasanya sulit mengekang kesabaran
apakah jawaban itu cukup memberi jaminan untuk menenangkan
keresahan mereka. Karena itu sementara kalangan menduga bahwa
dialog langsung dengan Presiden itu barangkali akan merupakan
pertanda berakhirnya aksi-aksi para anak muda akhir-akhir ini.
Atau sebaliknya. Orang ingat bahwa pertemuan semacam itu pernah
terjadi di tahun 1970 -- waktu Komite Anti Korupsi beraksi.
|