Tanahpun Jadi Kokoh Dalam pembicaraan PM Tanaka & Presiden Soeharto, untuk
memperbaiki hubungan dagang antara 2 negara tersebut, Tanaka
akan mendirikan badan kerjasma bantuan ekonomi. (nas) |
DARI 68 orang yang diundang, tercatat 17 yang hadir. Tetapi
tentulah mereka yang tidak datang pada jamuan makan malam
menghormati kunjungan PM Tanaka itu bukan karena memboikot tamu
negara itu. Yang pasti sisa dari 17 itu adalah para tokoh
pemerintahan Indonesia yang secara langsung turun tangan
mengamankan kerusuhan di hampir seluruh bagian Ibukota semenjak
siang hari tanggal 15 Januari itu. Bahkan dari wajah mereka yang
hadir suasana pembakaran kcndaraan dan bangunan-bangunan di luar
terkesan, sekalipun sesekali diselingi senyum. Tanaka sendiri
hanya ketika menyambut jabat-tangan Presiden Soeharto
menyungging senyumnya.
Tetapi sehabis itu, keserba resmian meliputi seluruh dinner.
Masing-masing fihak tampak mencoba menghilangkan kebisingan
tembakan-tembakan petugas keamanan yang menghalau
perusuh-perusuh di luar tembok Istana. Barangkali untuk inilah,
sehingga dalam pidatonya Kepala Negara Indonesia masih
mengucapkan "kunjungan Yang Mulia ke Indonesia dan ke berbagai
negara Asia kali ini, sangatlah tepat waktunya". Lebih dari ini,
sebagai tuan rumah yang baik, Presiden Soeharto tetap memandang
Jepang sehagai patner yang baik. "Jepang yang dewasa ini telah
menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia dianggap mampu
memainkan peranannya yang positif bagi kemajuan dan
kesejahteraan Asia", kata Kepala Negara Indonesia itu.
Badan khusus. Acara-acara kunjungan 4 hari PM Jepang itu tetap
berjalan sebagaimana ditentukan, kecuali acara-acara di luar
lingkungan Istana, seperti ziarah ke Kalibata dan kunjungan ke
Wakil Presiden yang dibatalkan. Beberapa saat sebelum
kerusuhan-kerusuhan mulai terjadi di sekitar halaman Istana,
kedua kepala pemerintahan itu tetap melanjutkan pembicaraan
resmi, meskipun berubah sifatnya dari pertemuan 4 mata menjadi
perundingan yang disertai beberapa Menteri dan pembantu
masing-masing fihak. Demikian pula upacara tukar-menukar tanda
mata. Sebuah vaas bunga hijau muda, reproduksi lukisan-lukisan
Jepang, buku Japan in Picture, sejilid tebal buku karangan
Tanaka dan sebuah tas wanita adalah hadiah dari PM Jepang.
Sebaliknya dari fihak Presiden Soeharto: seperangkat kursi
ukiran Jepara dan sebuah tas perak bikinan Kendari. Hadiah ini
masing-masing dilampiri foto kedua kepala pemerintahan.
Bagaimanapun juga kunjungan 4 hari PM Tanaka bukannya tanpa arti
apa-apa. Dalam beberapa kesempatan, baik ketika melangsungkan
pembicaraan resmi dengan Presiden Soeharto maupun yang
dilontarkannya di hadapan pers sehari sebelum dia meninggalkan
Indonesia, secara bersungguh-sungguh sang tamu hendak
meyakinlran fihak tuan rumah akan niatnya untuk berbaik-baik.
"Saya ingin sekali mengelakkan keadaan buruk menjadi bertan1bah
buruk karena kekurangan saling pengertian" ucapnya kepada para
wartawan, yaitu sehari setelah peristiwa kerusuhan terjadi di
bagian-bagian Jakarta. Untuk ini rupanya diketahuinya pula,
semua berpokok-pangkal dari polah para pengusaha Jepang yang
dirasakan sementara pengusaha Indonesia sebagai menjengkelkan.
Seperti yang diungkapkan Menlu Adam Malik sehabis pembicaraan
resmi antara kedua kepala pemerintahan itu, sang tamu
menjanjikan untuk mendirikan badan khusus yang bernama Badan
Kerjasama Bantuan Ekonomi. Badan ini dimaksudkan untuk
membimbing pengusaha-pengusaha Jepang dan sekaligus menampung
keluhan-keluhan fihak yang merasa dirugikan.
Patner. Meskipun demonstrasi dan kerusuhan yang menyambutnya
hampir di luar dugaan, tetapi barangkali PM Jepang itu tidak
hanya sekedar berbasabasi. Sebab justru dengan keributan
keributan itu "akan saya pakai sebagai kesempatan untuk meminta
perhatian orang-orang Jepang agar mereka meninjau kembali segala
sesuatu yang ad pada diri mereka" kata Tanaka. Yang diketahuinya
tetapi mungkin tidak sempat diucapkannya adalah bahwa para
pengusaha dari negara-negara di mana orang-orang Jepang
berdagang, selama ini sedikit sekali yang melemparkan keluhannya
secara resmi, melalui Kedutaan atau Perwakilan Dagang Jepang
yang ada misalnya. Sehingga kejengkelan-kejengkelan yang ada
lebih banyak dihlap kan secara emosionil, sementara dari fihak
pengusaha Jepang makin mengulah kelicikannya. Tetapi semua
rupanya sudah serba terlanjur. "Kalau hujan turun, tanah pun
jadi kokoh" kata Tanaka mengutip pribahasa Jepang sewaktu
diminta para wartawan menanggapi demonstrasi-demonstrasi yang
menyambut nya di berbagai negara. Tetapi akan benar-benar kokoh
atau tidakkah tanah setelah disiram hujan kerusuhan yang cukup
deras itu, dari segi kepcntingan ekonomi Jepang tampaknya juga
sudah diperhitungkan sebagai kemungkinan. Berkata Tanaka:
"Meskipun kita berusaha memelihara hubungan baik, kita tak dapat
meral!lalkan apa yang akan terjadi nanti". Sebab itu, katanya
pula, kamipun sudah membicarakan kemungkinan penggalian
bahan-bahan mentah di Uni Soviet.
Apakah dengan begitu dapat diartikan Jepang tidak sepenuhnya
melihat Indonesia dengan kedua matanya? Mungkin juga. Sebab
Tanaka sendiri mengutip angka-angka seperti yang pernah
diungkapkan Menteri Emil Salim yang menggambarkan betapa
kecilnya volume perdagangan kedua negara ini dibanding seluruh
nilai niaga Jepang dengan negara-negara lainnya. Mengambil
contoh tahun silam, menurut Tanaka, hanya US$ 2 milyar modal
Jepang yang berlalu-lintas dengan Indonesia dari volume
perdagangan luar negeri Jepang yang seluruhnya bernilai US$ 94
milyar. Dan memang bagi Jepang angka 2 milyar itu tak banyak
artinya, meskipun bagi Indonesia yang sedang menumbuhkan diri
akan bermakna sebaliknya. Tetapi lebih penting dari ini, rupanya
bukanlah semata-mata terletak pada besar kecilnya nilai niaga
kedua negara. "Kerjasama sebagai partner yang sederajat antara
semua bangsa" kata Presiden Soeharto ketika mengadakan jamuan
makan malam untuk sang tamu, "sungguh merupakan jawaban yang
tepat atas masalah besar dunia dan kemanusiaan itu". Dan Tanaka
telah memengucapkan janjijanji untuk itu, malahan mungkin
diulanginya kembali dalam pesawat helikopter yang membawanya
bersama Presiden Soeharto dari Bina Graha menuju lapangan
terbang Halim Perdanakusuma untuk kembali ke negerinya.
|