Presiden Adalah Pangkopkamtib... Presiden Adalah Pengkopkamtib... Presiden Soeharto mengadakan 3 rangkaian pertemuan yang
menghasilkan keputusan: presiden sebagai Pangkopkamtib,
presiden minta tanggapan & saran dalam menghadapi repelita II,
melantik ka Bakin baru. (nas) |
HARI Senin ini Presiden Soeharto mengadakan tiga rangkaian
pertemuan. Pertama dengan Menteri Hankam Jenderal Panggabean,
Jenderal Soemitro dan Laksamana Sudomo. Dengan disertai Wakil
Presiden Hamengkubuwono, pertemuan itu berlangsung hampir l jam
lamanya. Walaupun wartawan mendesak-desak meminta keterangan,
tidak satu patah informasi-pun keluar dari pejabat-pejabat ini.
Tetapi begitu Sekretaris Negara Sudharmono muncul, maka 2
keputusan Presiden pun diumumkan. Menurut Sudharmono pertemuan
ini untuk "membahas keadaan keamanan di tanah air khususnya yang
menyangkut peristiwa 15 Januari". Untuk itu Presiden telah
mengambil keputusan "dalam rangka penanganan masalah keamanan
dan ketertiban umum, khusus dalam mengatasi sebab-sebab dan
akibat terjadinya peristiwa tadi". Karenanya, "untuk penanganan
yang lebih efektif, praktis, tepat dan lebih
dipertanggungjawabkan sesuai wewenang yang ada berdasarkan
konstitusi, Presiden memegang langsung pimpinan Kopkamtib".
Tegasnya, tambah Sekretaris Negara, Pangkopkamtib langsung di
tangan Presiden.
Dalam keputusan Presiden selanjutnya, semenjak 18 Januari ini
"meniadakan Asisten Pribadi Presiden (Aspri)". karena "Kepala
Negara memandang keadaan sekarang tidak perlu lagi ada jabatan
Aspri". Dengan demikian, menurut Sudharmono, para Aspri selama
ini dikembalikan ke jabatan-jabatan mereka yang lain. Mayjen Ali
Murtopo ke Bakin Mayjen Sujono Humardhani sebagai anggota
DPR/MPR dan Mayjen Suryo kepimpinan Hotel Indonesia. Demikian
pula halnya, Jenderal Soemitro tetap memangku jabatannya sebagai
Wakil Panglima ABRI. Tetapi untuk penyesuaian organisasi
selanjutnya jabatan Pangkopkamtib yang telah dipegang Presiden
Soeharto, Kepala Negara juga telah menunjuk Laksamana Sudomo
sebagai Kepala Staf Kopkamtib.
Kopiah hitam. Pertemuan Kepala Negara selanjutnya berlangsung
dengam pimpinan-pimpinan Golkar, Partai Persatuan, Partai
Demokrasi Indonesia dan pimpinan DPR. Hadir dalam pembicaraan
yang hampir memakan waktu 2 jam ini adalah Amir Murtono,
Martono, Drs Murdopo dan Amirmahmud dari fihak Golongan Karya
lalu HMS Mintareja SH, KH Masykur, Th Gobel dari Partai
Persatuan Sabam Sirait, Ahmad Sukartawijaya dan Murbantoko dari
fihak Partai Demokrasi Indonesia sementara dari fihak pimpinan
DPR adalah KH Idham Chalid, Domopranoto, Sumiskum, J. Naro dan
Isnaeni, Kepada pers, Amir Murtono menilai pertemuan itu sebagai
"konsultasi rutin". Di sini Presiden meminta tanggapan-tanggapan
serta saran-saran dari ketiga kekuatan sosial itu, terutama
dalam menghadapi Repelita II. Dari sini, pembangunan 5 tahun
tahap II kelak "tidak saja tanggung jawab pemerintah, tetapi
scgala sesuatu nya adalah tanggungjawab bersama". Hal yang lebih
penting lagi dikemuka kan oleh ketua DPP Golkar adalah
menyangkut pengamanan Repelita II. "Tidak ada persoalan bagi
kita, sebab pengamanan terakhir di tangan Presiden sendiri" kata
Amir yang hari itu memakai kopiah hitam.
Hari Senin itu juga Presiden Soeharto menerima Kepala Bakin baru
dan yang lama dan sekaligus melangsungkan serah terima. "Kan
sederhana, tidak usah ramai-ramai" kata Letjen Sutopo Yuwono.
Kepala Bakin baru, Mayjen Yoga Sugama setelah itu menyambung:
"Masalah di Indonesia cukup berkembang" yaitu selama 2 tahun
ditinggalkannya sebagai Wakil Kepala Perwakilan Rl di PBB.
Sampai hari itu belum diperoleh kepastian jabatan apa yang akan
dipegang oleh Letjen Sutopo Yuwono.
|