Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/IV/06 - 12 April 1974
   
Investigasi

Mogok Lagi

Aksi mogok kedua kali melanda Jepang. Gabungan organisasi buruh menuntut kenaikan tunjangan kepada pemerintah. Namun Jepang sedang menghadapi krisis ekonomi. Tuntutan buruh dianggap melampaui batas.

UNTUK kedua kalinya kota-kota terpenting di Jepang hampir lumpuh
samasekali karena dilanda pemogokan. Para pekerja kereta-api dan
bus milik negara dan swasta melancarkan aksi itu setelah
pemimpin-pemimpin dari dua gabungan organisasi buruh gagal
mengadakan perundingan dengan fihak pejabat pemerintah mengenai
berbagai tuntutan mereka. Atas nama tidak kurang dari 2.650.000
buruh kedua serikat buruh tadi telah mengajukan tuntutan
pembayaran tunjangan 30.000 yen (45 sterling) untuk keluarga
miskin dan lanjut usia, penentuan skala upah yang luwes
sebanding dengan perubahan harga-harga, keringanan ongkos-ongkos
yang dipungut oleh dinas pelayanan umum dan diberikan hak kepada
kaum buruh dalam organisasi-organisasi umum untuk mogok.

Sebelum pemogokan itu berlangsung, PM Tanaka sendiri sempat
berusaha menekan serikat-serikat buruh. Bahkan dituduhnya bahwa
tuntutan buruh-buruh itu sudah "melampaui batas". Tentang
tunjangan untuk kaum miskin dan tua, menurut Tanaka, "bukanlah
urusan suatu serikat buruh tetapi merupakan suatu masalah yang
akan dibicarakan oleh suatu partai politik". Tetapi dari fihak
kaum pekerja yang akan mengancam mogok, kekuatiran akan nasib
mereka justru karena melihat perkembangan inflasi yang makin
membingungkan. Untuk ini sempat ditunjukkan bahwa pada akhir
bulan Pebruari ini tadi, indeks harga konsumen untuk kota Tokyo
ada lah 24% lebih tinggi daripada indeks pada waktu yang sama di
tahun 1973. Dan berdasarkan basis nasional, indeks konsumen pada
akhir Januari 1974 berada 23,1% lebih tinggi dari tahun 1973.

Di rumah.

Titik pertemuan rupanya tidak tercapai, justru karena pemerintah
Tanaka sedang bergulat dengan berbagai goncangan dunia yang
mengguyah-guyahkan perekonomian Jepang akhir-akhir ini. Karena
itu dengan cepat pula Komite Bersama Gerakan Buruh Musim Semi
--dengan 63 anggota serikat buruh pemerintah dan swasta --
secara serentak menghentikan kerja mereka sehari penuh.
Akibatnya para langganan kereta-api dan bus harus tinggal di
rumah karena tiada pengangkutan ke tempat kerja mereka. Yaitu
terutama di kota-kota yang berhubungan dengan
pelabuhan-pelabuhan di seluruh Jepang, seperti Hokkaido, Shikoku
dan Kyushu. Tetapi agaknya pemerintah Tanaka tetap sadar bahwa
gelombang-gelombang pemogokan akan tetap bermunculan dalam
waktu-waktu mendatang.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data