Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 05/IV/06 - 12 April 1974
   
Pendidikan

Ribut Di Cijantung

Murid SMP, SMA ign. Slamet Riyadi, Cijantung, melakukan aksi tidak puas terhadap gurunya, karena organisasi, sistem keuangan sekolah kacau. Akhirnya yayasan sekolah dibekukan, dibentuk pejabat sementara.

MENDADAK sekitar 13 orang guru SMP dan SMA Ign. Slamet Riyadi
Cijantung pagi hari dua minggu yang lalu dikunci dalam sebuah
ruangan. Sementara itu hampir semua pelajar dari dua tingkatan
sekolah yang berada dalam satu kompleks itu berjajar baris
dengan beberapa poster di tangan Sehingga peristiwa pertengahan
bulan itu berhasil menarik beberapa instansi pemerintah seperti
Polisi, Kodim, bahkan Bakin turun tangan di samping sudah tentu
keuskupan sebagai badan yang menangani sekolah yang diasuh
Katholik itu.

Tapi tentu saja berita penyekapan guru itu tidak benar
seluruhnya. "Kami hanya mengamankan guru-guru dari kemungkinan
rasa tidak puas murid-murid", kata Jerry. Dari kacamata golongan
murid seperti yang diterangkan Jerry, peristiwa itu terjadi
bukannya tanpa alasan. Aksi yang dilancarkan murid-murid SMP dan
SMA itu menurut Ketua I OSIS sekolah itu terdiri dari beberapa
hal yang kurang disukai kaum pelajar. Misalnya Jerry menyebut
seorang guru A yang akan didudukkan sebagai kepala sekolah SMP
sebagai orang yang tidak disukai. Kemudian cara pembayaran
dengan sistim kotak: murid memasukkan bayaran sekolahnya ke
dalam kotak. Ini dianggap kurang memuaskan. Sebab, "buat apa
tata usaha?", tanya murid kelas III itu Iagi. Lantas ketidak
puasan sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Ign. Slamet
Riyadi itu juga disebabkan karena para pelajar merasa mutu SMP
kian lama kian menurun. Kata Jerry, dibanding dengan SMP
lainnya, SMP Slamet Riyadi jauh di bawah mutu. "Dibanding dengan
ketika saya di SMP itu, yang sekarang terasa lebih rendah",
katanya.

Organisasi.

Membela bahwa akinya itu benar, Jerry menyebutkan bahwa tidak
ada aksi coret dan, "besoknya kami sudah sekolah lagi".
Peristiwa itu bagi pimpinan sekolah Drs Sumardi nampaknya
dianggap persoalan intern. Berpangkal, "dari masalah keuangan
yang melingkar-lingkar sampai tidak karuan", kata Sumardi.
Sekolah yang terletak dekat kompleks baret merah Cijantung itu
-- sebagian besar muridnya berasal dari keluarga ini -- memang
mempunyai riwayat yang cukup unik. Bangunan yang kini menampung
SMP, SMA dan SD itu pada mulanya didirikan sedikit-sedikit. Atas
usaha pribadi Sumardi inilah pada tahun 1967 mulai dibuka SMA
dengan murid yang berjumlah 7 orang. Dua tahun kemudian menyusul
SMP. Dan pada tahun 70 sempat dimasukkan ke dalam lingkungan
perguruan Strada. Cuma setahun umurnya, kemudian dikembalikan
lagi di bawah Yayasan Ign. Slamet Riyadi yang dibentuk kemudian.
Namun nampaknya yayasan itu belum sempat menjamin lancarnya
organisasi sekolah yang dulunya diusahakan pribadi itu, sampai
ketika peristiwa itu terjadi. Sehingga terpaksa yayasan
dibekukan dengan menunjuk Pastor A. Jito sebagai caretaker untuk
menyelamatkan sekolah itu. Dan tidak kurang Jito sendiri yang
menyebut peristiwa itu ada hubungannya dengan organisasi yang
belum beres. Sang pastor mengibaratkan sekolah itu sebagai
perusahaan yang mulai dari usaha keluarga. Kemudian berkembang
dan sudah tentu ini menuntut organisasi yang berbeda ketika
masih diasuh oleh satu orang. "Perusahaan yang berkembang itu
ternyata laris dan laku", kata Jito, "dan tentu saja membutuhkan
organisasi yang barui". Barangkali karena tidak dibarengi dengan
pembaharuan organisasi itulah timbul kekacauan soal keuangan.
Timbul issue korupsi. "Saya sendiri tidak bisa membuktikan
korupsi itu, namun dalam kondisi yang macam itu kejadian korupsi
bukan tidak mungkin", kata pastor lagi.

Barangkali berpangkal dari organisasi yang belum baik benar,
makanya terjadi peristiwa macam itu. Sehingga sekolah yang
diasuh Katholik itu terpaksa penyelesaiannya diserahkan kepada
keuskupan. Dan Pastor Jito sebagai caretaker diberi waktu 5
bulan untuk membuat struktur organisasi baru . Walaupun dari
pada pelajar maupun pimpinan sekolah dan Pastor Jito sendiri ada
perbedaan pandangan tentang peristiwa itu, nampaknya pada soal
keuangan mereka hampir berpendapat sama. Setidaknya perbaikan
organisasilah mungkin yang kini patut dilakukan. Karena misalnya
kalau mengandalkan suka atau tidak suka kepada seseorang --
maksudnya kepada A -- "nanti bisa terjadi pula pada orang lain",
kata pastor. Agaknya Jito bermaksud tidak mau terburu-buru
membuat vonis dan yakin sumber kerusuhan itu adalah karena
organisasi yang belum baik betul.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data