Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 06/IV/13 - 19 April 1974
   
Desa

Lumbung Tanpa Padi

Panen padi bimas di gambut, Kal-Sel luas persawahan 5.924 ha. Konon pemiliknya tuan tanah dari hulu sungai utara, Martapura, Banjarmasin, hingga gambut dikenal penghasil padi, namun kurang makan. (ds)

APRIL ini waktunya panen padi Bimas di kecamatan Gambut
Kalimantan Selatan, sementara di desa Malintang ataupun Gambut
sendiri mulai bertanam di huma-tahun. Kecamatan ini terdiri dari
lima desa: Malintang, berpenghuni 2608 jiwa Tambak Sirang 4293
jiwa: Guntung Papuyu 2511 jiwa Kabuau 2478 jiwa dan Gambut
10.082 jiwa. Luas areal persawahan 5924 ha. Itu menurut catatan
Dinas Pertanian kabupaten Banjar, yang memperincinya begini:
luas pertanaman I alias sala tahun 378 ha, luas pertanaman II
atau huma-tahun 5924 ha. DaIam musim tanam tahun lalu dari 378
ha, rusak 288 ha, sehingga yang bisa dipanen sampai Maret hanya
93 ha. Ini lantaran turunnya hujan yang kurang bersahabat. "Padi
diserang sundep dan beluk", kata seorang petugas pertanian.
Sementara sebagian penduduk menyebutnya karea "ampangau" alias
serangan walan sangit. Padi memang masih nampak kuning, tapi
ketika bijinya dipencet maka ujudnya "hampa barat" alias kadar
berasnya amat kurang. Perkara bikin kecewa ini tak luput pegang
peranan adalah hama tikus. Menurut catatan Dinas Pertanian
kabupaten di sana, Gambut menghasilkan padi kering dalam musim
tanam tahun lalu 12.940,10 ton, sedang di tahun 1972 mencapai
17.203 52 ton.

Lumpur & humus.

Bahwa Gambut sebagai penghasil biji padi, tak ada orang
Kalimantan Selatan yang belum mengetahuinya. Kalau toh tak
sempat datang sendiri ke desa itu, lewat nasi yang disuap pun
orang akrab menyebut Gambut -- meski sesunguhnya bukan beras
Gambut betul yang dimakannya. Sebab ada juga beras keluaran
jirannya yaitu kecamatan Aluh-Aluh, Sungai Tabuk atau Kertak
Hanyar. Bersama tiga kecamatan ini -- yang merupakan daerah
persawahan pasang surut di kabupaten Banjar, Gambut merupakan
lumbung padi kabupaten itu. Juga menolong kebutuhan beras untuk
Banjarmasin. Ketimbang Gambut "dalam produksi, Aluh-Aluh lebih
unggul" komentar seorang pejabat pertanian kabupaten Banjar
kepada TEMPO Tapi bak pemeo buat dadih -- yang asalnya susu
kerbau, tapi toh sapi yang dapat nama, begitu adanya Gambut yang
terlanjur tersohor jauh sebelum tiga kecamatan lainnya itu
muncul.

Gambut terletak di tepi jalan raya yang sibuk menuju lapangan
udara Syamsuddin Noor Banjarmasin, muncul dalam peta bumi Zuiler
en ooster afdeling van Borneo semenjak tahun 30an. Sebelum itu
hanya belukar dengan kayu-kayu garam yang merayahi kawasannya.
Semula jalan raya Banjarmasin-Martapura pun bukan seperti adanya
sekarang, melainkan lewat jurusan Martapura Lama sekarang --
alias jalan sungai: Lulut-Sungai Tabuk-Keliling Benteng-Sungai
Batang-Teluk Selong -- Keramat Pakauman. Tapi serentak terbuka
jalan melewati Gambut di zaman Belanda, Gambut pun mulai
membenahi rawanya. Ini dikerjakan oleh petani Hulu Sungai Utara
-- yang memang terbilang sebagai petani gigih dan perantau.
Begitu riwayat Gambut yang memang bertanah gambut, yaitu
campuran tanah lumuh dan humus, serta-merta merupakan sumber
persawahan yang diandalkan. Lebih-lebih setelah pengairannya
diatur: air asam yang kecoklatan dialirkan ke sungai Martapura,
sementara pasang Barito diundang menyinggahi tanah sawah.

Hujan & tikus.

Kini Gambut nampsknya belum seluruhnya tenggelam sebagai bahan
cerita di hari kemarin, tapi masih berjaya -- baik areal
sawahnya maupun mutu padinya. Dewasa ini pemilik sawah di sana
terdiri dari para tuan tanah Hulu Sungai Utara, Martapura dan
Banjar-masin, tak ada kecuali baik pribumi maupun non-pribumi.
Singkat-nya mereka selalu kebagian hasil panen terbesar
ketimbang petani penggarapnya, yang melupakan penduduk desa itu
sendiri. Sehingga jangan heran sekalipun ada sawah membentang
dengan hasil terbilang tak mengecewakan, namun anggaplah adanya
gubug yang doyong di sana sebagai hal biasa. Kalaupun ada
beberapa rumah yang rada lumayan, konon itu rumah pemilik sawah
ataupun kerabatnya. Dan tak kurang dari bupati Suindiyo sendiri
yang pernah melayangkan ucapan bersayap "janganlah Gambut hanya
berbangga sebagai lumbung, tapi lumbungnya saja tanpa padi".

Tapi terlepas dari perkara lumbung saja atau padi saja, yang
jelas desa kecamatan yang pernah jadi ibukota kewedanaan ini,
sekarang sedang digalakkan usaha Bimas, meski tanahnya kurang
sip untuk itu. Halangannya selain sawah lebih banyak dikuasai
tuan-tanah, pun kurang mungkinnya Gambut mengikuti sistim
pemupukan. Sebab galangan dan petak pengairan yang belum
memungkinkannya. Kalau toh diberi pupuk, bakal larut terpencar.
Namun ada juga beberapa petani di desa Malintang mulai musim
tanam I974 ini diperkenalkan dengan Bimas. Harapan bakal
berhasilnya pembimasan itu cukup ditunggu dengan berdebar, sebab
ancaman tikus bukanlah sepele. Apa lagi dua tahun belakangan ini
musim suka memperolok-olok patokan yang pernah ada di zaman
nenek-moyang dulu: musim hujan bisa saja berkepanjangan.

Hujan berlebihan bisa memusnahkan padi, tapi tidak berarti
memusnahkan pula tikus-tikus. Bila semula makhluk bergigi lentik
ini mencium ancaman bahwa buru-buru mereka boyong bikin sarang
di belukar. "Nah, inilah yang menyulitkan" keluh seorang petugas
pertanian "racun tikus smpai sekarang belum juga datang". Tapi
petani yang terbilang mampu, tak begitu kewalahan menghadang
taktik "gerilya tradisonil" kaum tikus itu. Yaitu sekeliling
sawah dipagari dengan plastik setinggi 4 meter, dengan
kemiringan 30 derajat. Dengan begitu tikus tak mudah meniti
sebah licin. Tapi harus dijaga juga jangan sampai ada ranting di
dekat pagar itu, yang memungkinkan tikus bisa meloncat. Selain
itu dilakukan pula ronda di sepanjang pinggiran sawah dengan
menenteng lampu petromak, menyigi kalau-kalau ada tanah yang
dikorek. Ketimbang gigit jari, tentu tak ada salahnya digigit
nyamuk sedikit. Berapa ongkos empang plastik itu? "100 x 4 x Rp
100/ha sama dengan Rp 40 ribu perhektar" jawab seorang petugas
pertanian sembari mencakar-cakar angka di kertas.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Boker Hidup Lagi! - 07 Jul 2008 | 02:27 WIB
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM - 07 Jul 2008 | 01:15 WIB
Pembantai Itu Hanya Diam - 07 Jul 2008 | 00:20 WIB
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang - 06 Jul 2008 | 21:56 WIB
Wakil Presiden Tutup Raimuna IX - 06 Jul 2008 | 21:39 WIB
God Save the Queen di Silverstone - 06 Jul 2008 | 21:01 WIB
Pemerintah Banyuwangi Alokasikan Biaya Berobat Keluarga Miskin - 06 Jul 2008 | 18:12 WIB
Mayoritas SD Negeri di Kabupaten Malang Belum Bersertifikat - 06 Jul 2008 | 18:10 WIB
Panwas Protes KPU Jawa Timur - 06 Jul 2008 | 18:08 WIB
Korban Lumpur Lapindo Banyak Yang Belum Ambil Bantuan Presiden - 06 Jul 2008 | 16:52 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data