Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 32/IV/12 - 18 Oktober 1974
   
Ekonomi dan Bisnis

Tertib Pikulan

Pertamina telah mengizinkan PT Antar Rumah Minyak Tanah, menjual minyak ke rumah-rumah penduduk. Hal ini di dukung oleh pemerintah DKI. Para pedagang eceran akan diterima menjadi pegawai negeri. (eb)

JAKARTA setiap hari menghirup 2.700 ton minyak-tanah. Tapi itu
hanya pada hari-hari biasa. Khusus sekitar hari-hari Lebaran,
bisa lebih banyak lagi yang bisa menimbulkan kesulitan
distribusi karena armada yang dapat menampungnya kewaahan. Itu
sebabnya menjelang Hari Raya Idul Fitri ini, Direktur PDN
(Perbekalan Dalam Negeri) Pertamina telah mengizinkan PT Antar
Rumah Minyak Tanah (ARMT) untuk menjual minyak ke rumah-rumah
penduduk menggunakan mobil-mobil kecil. Setiap mobil dilengkapi
dengan 60 jeriken minyak a 20 liter.

Pikulan Pensiun

Gagasan J. Saragih dari PT ARMT itu sesungguhnya bukan barang
baru. 1« tahun yang lalu, Gapermigas pernah punya rencana
yang serupa untuk menyalurkan minyak ke rumah-rumah (TEMPO,
13 Januari 1973). Untuk itu Gapermigas mendapat kredit Rp 300
juta dari sebuah bank pemerintah yang˙20digunakan untuk membeli
100 truk minyak & jerikennya. Namun gara-gara selisih harga
Gapermigas, yang Rp 2 di atas HET (Harga Eceran Tertinggi)
DKI, sepucuk instruksi Ali Sadikin˙20membatalkan rencana itu.
Tapi bukan itu saja alasan pelarangan Gubernur˙20DKI. Menurut
DKI, Gapermigas waktu˙20itu tidak memperhitungkan efek-efek˙20
sosial yang bakal timbul. Maksudnya?˙20Kalau waktu itu diizinkan,
para pengecer minyak tanah bakal kehilangan mata
pencahariannya. Lagi pula, apa yang akan dilakukan oleh PT
Antar Rumah itu hanya bersifat sementara. Yakni selama bulan
puasa & hari raya. Dan justru dimaksudkan. untuk dapat
menstabilkan harga minyak sesuai dengan HET DKI, yaitu
Rp 16,50 per liter.

Direktur PDN Pertamina juga membenarkan bahwa penjualan minyak
ke rumah-rumah di-pinggir jalan yang dapat dilalui mobil bukan
untuk mematikan lapangan kerja ribuan pedagang eceran. Malah
Pertamina sedang menyiapkan˙20pola penjualan minyak baru yang
akan menampung pedagang-pedagang eceran˙20& pikulan itu. Dan
bukan sekedar secara musiman seperti sekarang ini, yang
nanti tidak akan dibenarkan lagi. Misalnya dengan merubah
status tukang-tukang pikul minyak itu menjadi pegawai tetap.
Sedang kayu pikulannya boleh dipensiunkan, diganti dengan
gerobak-gerobak dorong yang sanggup masuk-keluar kampung.
Makanya dalam rangka gagasan itu fihak DKI menyebut usaha
yang dikelola Saragih sebagai usaha "modernisasi".

Oknum-oknum

Adapun di mata para penjaja minyak sendiri, macam-macam
tanggapan timbul terhadap "modernisasi" itu. Ashar, seorang
pengusaha pangkalan di Jatinegara, menilainya sebagai usaha
yang baik. "Hanya saja", begitu catatan Ashar, "mestinya kami
yang selama ini mengusahakan pangkalan minyak˙20juga
diikut-sertakan". Baginya, soal apakah dia juga akan dijadikan
pegawai˙20negeri terserah, pada pemerintah saja˙20"Yang, penting
usaha saya jangan hancur gara-gara modernisasi ini". Sikap˙20
"terserah kebijaksanaan pemerintah umum-nya juga diperdengarkan
kalangan pemikul minyak. Apalagi bilamana pikulan diganti
dengan kereta dorong˙20yang sanggup masuk ke kampung-kampung
yang tidak dilalui mobil, seperti yang diharapkan mpul.
Pemikul minyak yang mengambil jatah dagangannya dekat kantor MBAU
seharinya dapat, menghabiskan 200 liter. Artinya ia harus
bolak-balik ke pangkalan 4 x sehari, karena dengan, 2 kaleng
yang dipikulnya ia hanya dapat mengangkut 50 liter sekali jalan.
Sedang pasal menjadi pegawai negeri, bagi Ompul yang˙20punya
seorang Isteri dan 4 anak, tidak menjadi soal "asal cukup
untuk menghidupi keluarga saya". Sama halnya seperti Ompul,
Odin yang masih bujangan (23 tahun) merasa bahwa penghasilannya
akan lebih terjamin dengan di-pegawai-kan. Hanya saja, lulusan
SMP yang berasal dari Tangerang itu˙20ragu-ragu apakah peralihan
ke pegawai negeri itu akap berjalan lancar. "Soalnya,
oknum-oknum pemerintah suka mengambil keuntungan dari masa
peralihan begini", ujar bujangan yang kepingin mencari
pekerjaan yang dapat memungkinkannya menyambung SMA-nya yang
terputus.

Akhirnya, bagaimana komentar para˙20ibu rumah-tangga? Bagi
nyonya Husain,˙20isteri seorang anak buah Ali Wardhana, rencana
Pertamina yang disokong oleh˙20DKI itu disambutnya dengan
gembira.˙20Sebabnya, karena ia berharap nantinya tukang-tukang
minyak akan mampir ke rumah-rumah secara teratur dengan harga
yang seragam pula. Dengan demikian, "saya tidak perlu lagi
menunggu lama serta tawar-menawar lagi" ujar nyonya itu.
Walhasil, dari cuplikan-cuplikan keterangan konsumen & pedagang
eceran yang bakal terkena "modernisasi", jelaslah bahwa
kepentingan konsumenlah yang dinomer-satukan. Untuk itu, armada
pengecer yang beroperasi sendiri-sendiri dan pada musim˙20panen
suka kembali ke pedalaman menuai padi itu perlu ditertibkan.
Sebab˙20seperti yang sudah pernah dikemukakan oleh Gapermigas, tidak
tertibnya jari-jari pemasaran itulah penyebab fluktuasi harga minyak.

Namun siapa yang menjamin, bahwa justru dengan
di-pegawai-negeri-kan, ratusan pedagang kecil itu tidak
kehilangan semangat dagangnya yang justru menuntut servis
lebih baik bila kompetisi bertambah tajam? Bagaimana bisa
dijamin, bahwa dalam posisi sebagai pegawai Pertamina atau DKI
mereka tinggal, sekedar berusaha menghabiskan˙20jatah minyaknya
lantas pulang? Makanya, sebelum mengambil langkah drastis, perlu
juga difikirkan pola kepegawaian yang bagaimana yang dapat
menghidupkan gairah kerja armada pengecer ini dengan harapan
adanya promosi serta mencegah pemerasan konsumen bila gaji
tak memadai.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data