Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 49/IV/08 - 14 Februari 1975
   
Nasional

Optimisme Malik Apa Opec?

Sidang khusus opec di algiers, aljazair, berikhtiar untuk membantu mengatasi resesi. iran dan saudi arabia akan mengurangi produksinya, aljazair menolak. adam malik optimis, akan terjadi kompromi. (nas)

SEPERTI biasa setiap kembali dari luar negeri, Menlu Adam Malik
membawa pulang kabar yang membuat lega banyak orang. Dari sidang
khusus negara-negara penghasil minyak (OPEC) di Algiers pekan
lalu, Malik menjawab pertanyaan pers, bahwa negara-negara OPEC
"akan berusaha keras untuk membantu dunia yang sekarang dalam
keadaan resesi". Tidak dijelaskan tindakan yang bagaimana akan
ditempuh OPEC untuk membantu resesi dunia (khususnya: Barat)
kini. Tapi melihat suara keras yang dilontarkan Presiden
Houari Boumedienne dari Aljazair untuk "konfrontasi" dengan
Barat, sementara fihak menyangsikan apakah optimisme Adam
Malik itu merupakan suara buat OPEC. Suara keras Aljazair
yang, didukung sayap radikal dalam 0PEC seperti Libia dan Irak
bahkan sampai melontarkan gagasan agar negara negara minyak
tidak lagi menerima dollar yang makin kendor nilainya. Tetap
mata uang Dinar untuk penjualan minyaknya. Lebih jauh lagi.
Akhir dan kawan-kawan bahkan setuju kalau negara-negara OPEC
itu membentuk kartel produsen untuk barang-barang tambang
lainnya, dan bukan hanya untuk minyak.

Sekalipun begitu, tidak selnua negara OPEC itu berteriak
senyaring Aljazair Arab, Saudi dan Iran - dan negara minyak
terbesar -- agaknya bersusah mencari jalan keluar seperti
diharapka Indonesia. Menteri Perminyakan Arab Saudi, Sheik Zaki
Ahmad Yamani, yang kabarnya meninggalkan kursinya sebelum sidang
berakhir, dengan tegas menyatakan tidak tertarik akan usul
Aljajair. Begitu juga Menteri Jamshid Amouzegar dari Iran. Kedua
negeri minyak itu lebih suka untuk menarik manfaat dari
kemacetan ekonomi di dunia industri yang bagaimanapun merupakan
sumber impor negeri mereka. Tentu saja bukan dengan menurunkan
harga minyak seperti diinginkan Amerika tapi dengan menyalurkan
surplus petro-fulus mereka untuk melumasi roda-roda industri
dunia Barat: Tapi resep yang diajukan Yamani dan Amouzegar --
yang didukung oleh Kuwait dan beberapa Emirat Arab lainnya -
telah disambut dengan rasa penuh was-was oleh kalangan dunia
bisnis dan pemerintahan negara-negara industri (lihat box). Bagi
Indonesia yang menggunakan uang minyaknya untuk pembangunan di
dalam negeri, reep Arab Saudi dan Iran itu tentu tidak
merupakan persoalan. Hanya dengan cara begitu, setidaknya bisa
dipandang sebagai alternatif jalan keluar untuk menurunkan suhu
konfrontasi seperti dilansir Ijazair.

Seberapa jauh harapan Malik itu bisa berhasil, itu tergantung
dari pertemuan orang-orang minyak yang kini tengah mempersiapkan
kertas-kertas kerja mereka menjelang pertemuan OPEC tingkat
Menteri di Wina 21-Pebruari ini. Dari sidang khusus di Algiers,
agaknya sudah bisa diterka hasil pertemuan Wina nanti di mana
Indonesia akan diwakili oleh Dirut Pertamina Dr Ibnu Sutowo.
Seperti pertemuan Wina yang sudahsudah, sayap lunak OPEC akan
kembali menjalin kompromi engan grup radikal yang dipimpin
Aljazair. Mengharapkan dari Arab Saudi dan Iran agar bisa
menekan sikap keras sementara anggotanya, berkali-kali terbkti
tidak berhasil banyak. Dibekali dengan uang minyak yang
lGnelimpah, negeri seperti Iran dan Arab Saudi lebih suka untuk
mengerem produksinya daripada merasa ada suatu perpecahan dalam
tubuh OPEC. Tindakan Presiden Ford yang menaikkan cukai impor
minyak dengan harapan mengendorkan arus impor minyak Arab
ternyata tidak mempan membuat lunak Aljazair yang pembangunannya
sangat tergantung dari uang minyak.

Menghadapi kenyataan begitu, agaknya egara-negara industri
tidak punya barlyak pilihan kecuali jika Amerika Serikat mau
menurut pada anjuran Presiden Giscard D'Estaing: mengadakan
pertemuan segitiga antara negara produsen, konsumen dan
negara-negara berkembang. Tidak disangsikan lagi Indonesia akan
menyambut usul D'Estaing sebagai dikemukakan Adam Malik begitu
tiba di Halim Perdanakusuma Jumat lalu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Hong Kong Wajibkan Label Produk Impor - 24 Jul 2008 | 20:46 WIB
DPR akan Bertemu Pimpinan KPK - 24 Jul 2008 | 20:35 WIB
Subsidi Pertanian 2009 Bakal Naik - 24 Jul 2008 | 20:17 WIB
Keluarga Yakin Jika Nanik Dibunuh Ryan - 24 Jul 2008 | 20:07 WIB
Djoko Suprapto Masih Jalani Pemeriksaan - 24 Jul 2008 | 19:54 WIB
BLT Bojonegoro Dicairkan Besok - 24 Jul 2008 | 19:49 WIB
Pasangan Karsa Unggul di Jombang - 24 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gubernur Tak Percayai Hasil Quick Count - 24 Jul 2008 | 19:27 WIB
Kasus Alih Kawasan BSD Diselidiki - 24 Jul 2008 | 19:15 WIB
Dada Janji Bangun Stadion Persib - 24 Jul 2008 | 19:14 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data