Di Depan Lobang Kubur Putih Kota Cape Town, Afrika Selatan dilanda kerusuhan, akibat
bangkitnya kekuatan kulit hitam menuntut persamaan hak dengan kulit putih. Orang kulit putih ketakutan, karena menindas kulit hitam. |
HARI itu, 12 Agustus lalu, dekat kota Cape Town Afrika Selatan,
polisi melepaskan tembakan langsung ke arah 1000 orang pemuda
hitam. Mereka menuntut dilepaskannya rekan-rekan mereka yang
ditahan sehubungan dengan kerusuhan yang membawa korban di kota
Soweto 2 bulan lalu. Sebanyak 26 pemuda hitam mati dan 50
lainnya luka-luka.
Rangkaian kerusuhan sebagai akibat dari perjoangan orang
berwarna menuntut hak persamaan mencapai puncaknya sejak tahun
lalu. Januari 1975, pemerintah minoritas kulit putih, Vorster
menghidupkan kembali suatu peraturan kuno dalam pendidikan:
bahasa Afrika (Bantu) seperti halnya bahasa Inggeris harus
diajarkan di sekolah-sekolah. Dan frekwensinya harus seimbang
(50-50). Murid sekolah sadar dibatasinya pelajaran bahasa
Inggeris akan membatasi pula kesempatan mereka untuk mencapai
kedudukan agak mendingan dalam pekerjaan. Ini berarti pula
mereka makin jauh dari persamaan hak yang mereka perjuangkan.
Sejak saat itu sampai bulan Juni tahun ini keluar 15 protes.
Rentetan protes itu berasal dari berbagai organisasi, dari
Serikat Guru Afrika sampai kepada Partai Reformasi Progresip,
orpol orang putih. Tapi semua protes tak pernah digubris oleh
Michiel C. Botha, Menteri Pendidikan Khusus untuk Suku Bantu.
Gerilya Hitam
Walau peraturan belum dilaksanakan secara menyeluruh, murid
sekolah tahu bahwa peraturan itu akan dipaksakan pada tahun
1977. Dan Mei lalu terjadi pemogokan di beberapa sekolah.
Sebulan kemudian, 16 Juni, 10.000 murid sekolah di Soweto
mengadakan gerak jalan protes menuju stadion Orlando. Polisi
telah menunggu. Dan jawaban atas tuntutan mereka: peluru. Dan di
tanggal sial itu, 140 pemuda mati, 1128 luka-luka. Tapi kantor
pemerintahan, sekolah, perpustakaan, klinik, toko, bis dan mobil
hancur terbakar. Insiden ini merupakan peristiwa terburuk yang
pernah terjadi di Afrika Selatan. Korbannya adalah bocah dan
pemuda sekitar 12 - 20 tahun.
Komentar perdana menteri Vorster di muka parlemen: "Kita tidak
akan terintimidasi dan akan terus memaksakan hukum dan
memelihara ketertiban. Ini akan dilakukan dengan segala risiko".
Dan James T. Kruger, kepala polisi, menganjurkan agar pemuda dan
murid sekolah begabung dan aktif dalam organisasi pemuda
seperti Konvensi Rakyat Hitam atau Orgnisasi Pelajar Afrika
Selatan, perkumpulan yang aktif di lingkungan sekolah dan
universitas hitam. Seolah-olah kerusuhan itu hanya berpangkal
kepada "kenakalan remaja" saja. Sedikitpun Vorster tak
menyinggung biang penyebab huru hara itu: Rasialisme.
Pertumpahan darah di Afrika Selatan membuat khawatir rezim
rasialis lain di Afrika: Rhodesia. Perdana menterinya, Ian
Smith, menganggap peristiwa Soweto bisa merembet. Telah lama
Rhodesia dan juga Afrika Selatan diganggu kaum gerilyawan hitam.
Mereka beroperasi dari wilayah Mozambik yang berbatasan dengan
kedua negara itu. Daerah pemukiman kulit putih Umtali' -- kota
kedua terbesar setelah Salisbury -- pernah dihujani serangan
mortir dan meriam. Diduga ini merupakan tindakan balasan
terhadap serangan tentara Rhodesia ke wilayah Mozambik tak lama
sebelumnya. Serangan itu telah menewaskan 300 gerilyawan hitam
dan orang sipil Mozambik. Kemungkinan besar akan terjadi perang
terbuka Mozambik - Rhodesia.
Tak bisa lain: Afsel dan Rhodesia sedang dilanda krisis,
menghadapi bangkitnya kekuatan hitam. Memang tak bisa lain: di
negeri hitam itu orang putih yang sejumput itu menggali lubang
kuburnya sendiri, dengan menindas.
|