Siap Banjir Seadanya Penanggulangan banjir di jakarta dilakukan dengan pengaturan &
pembangunan riolering dan penggusuran penghuni di pinggir kali
ciliwung. pembuatan waduk, banjir kanal, sumur pompa belum
terlaksana. (kt) |
SEPERTI biasanya di setiap penghujung tahun Jakarta tak luput
dari bahaya air bah. Begitu juga diramalkan bakal terjadi pada
penghujung tahun ini atau selambat-lambatnya awal tahun depan.
Dan ini tampaknya masih tak dapat dielakkan. Namun "hal-hal
rutin yang bisa kita lakukan untuk menanggulangi kemungkinan
bahaya banjir, tetap kita lakukan", kata Syariful Alam, jubir
Balai Kota. Dia pun menunjukkan pembuatan ataupun perbaikan
selokan di beberapa tempat. "Kemampuan kita hanya terbatas pada
urusan pengaturan dan pembangunan riolering", ucapnya tegas. Di
samping itu juga dalam hal menggusur penduduk yang selama ini
mendiami tepi-tepi kali ataupun banjir kanal.
Sampai dengan akhir Agustus yang lalu sudah 2.616 KK yang pindah
dari tepi kali Ciliwung wilayah Jakarta Pusat. Sebelum musim
hujan datang seluruh penghuni yang berjumlah sekitar 10.000 jiwa
atau 3.057 KK di pinggir Ciliwung tadi sudah meninggalkan tempat
itu. Tak sedikit di antara mereka yang tergusur itu menggunakan
kesempatan untuk "mudik" ke kampung halaman setelah mengantongi
sejumlah uang pindah.
Banjir yang sering melanda Jakarta adalah "banjir kiriman".
Artinya bila ada hujan besar di wilayah Bogor akan berakibat
banjir bagi Jakarta. Bila jenis banjir serupa ini yang datang
maka korban pertama adalah mereka yang berdiam di tepi-tepi kali
Ciliwung dan Banjir Kanal. Paling tidak dengan penggusuran dan
pembersihan tepi-tepi kali ini kemungkinan pengerukan untuk
melancarkan jalannya air bah kiriman itu kurang gangguan.
Demikian pula jalan inspeksi bisa dibangun di pinggiran kali itu
untuk memudahkan pengawasan bil terjadi banjir. Tapi harap
maklum semua ini baru salah satu upaya mengurangi akibat yang
lebih besar. Karena masalah pokok untuk mengatasi banjir di
Jakarta belum semuanya bisa terlaksana. Seperti pembuatan waduk,
banjir kanal dan rumah pompa yang menurut Ali Sadikin
membutuhkan biaya sebesar Rp 207,5 milyard. Belum lagi untuk
pembangunan suatu sistim riolering guna menampung air dari tiap
rumah yang dalam perhitungan dibutuhkan biaya sekitar Rp 242
milyard.
Sudah Diperhitungkan
Cuma, di beberapa tempat seperti di jalan Pasar Senen
normalisasi jalan berikut penatarannya tak bisa melepaskan kesan
seakan-akan kerja perbaikan jalan tersebut juga menimbulkan
akibat yang kurang baik bagi penduduk yang berada di bagian
barat jalan tersebut. Dengan ditinggikannya jalan tersebut
mendekati musim banjir ini rupanya cukup menimbulkan rasa
khawatir bagi mereka, karena dengan lebih tingginya jalan di
hadapan rumah mereka bukan tak mungkin di musim hujan kelak
rumah mereka akan jadi tempat limpahan air. Apalagi belum ada
selokan yang akan menampung curahan air itu. "Itu sudah
diperhitungkan", kata Syariful Alam. Terutama mengingat juga
bahwa rumah-rumah dan toko-toko di sekitar tempat itu sedang
dalam taraf siap dibongkar. Yaitu sehubungan dengan Peremajaan
Proyek Senen Phase ke-II. Jadi penduduk kawasan itu harap
tenang-tenang saja, sambil menunggu pembongkaran silakan
bergenang-genang air.
Tapi pembuatan selokan di beberapa wilayah yang terkena proyek
MHT, tampaknya juga kurang memperhitungkan kemungkinan banjir.
Ada yang letak saluran airnya lebih rendah dari permukaan sungai
sehingga kalau nanti saluran itu penuh air bukannya mengalir ke
kali tapi sebaliknya. Misalnya di sekitar Kelurahan Rawa,
Jakarta Pusat.
|