Ihwal Dok Dumai Dok dumai, proyek pertamina di propinsi riau baru 20% rampung. dapat
berfungsi atas bantuan alri, pengelolaan bekerjasama dengan inter
maritime managemen (imm). pelabuhan terbesar di indonesia. (eb) |
DOK Dumai -- salah satu dari sekian banyak proyek Pertamina
--sampai sekarang masih terkatung-katung. Proyek ini terletak 4
Km sebelah barat kota Dumai, propinsi Riau, di kawasan Pangkalan
Sesai. Menurut rencana, proyek yang makan tempat seluas 300 Ha
ini diharapkan dapat menampung urusan perawatan dan pemeliharaan
armada Pertamina. Baik tanker maupun kapal lainnya. Diresmikan
oleh Dr. Ibnu Sutowo Agustus 1972, dan dinyatakan beroperasi
sejak awal 1973. Sayangnya, proyek yang "baru 20% rampung, agak
terhambat penyelesaiannya". Begitu keterangan ir Tatang
Sunandar, Kepala Bidang Perkapalan & Telekomunikasi Pertamina
Wilayah II, ketika menerima kunjungan KSAL Laksamana TNI/AL R.S.
Subiyakto ke Dumai, beberapa waktu lalu.
Dari 9 bangunan utama sebagai perlengkapan dok yang komplit,
baru dua gudang yang rampung. Jalan utama menuju kota Dumai baru
separoh diaspal. Sementara tanah 200 Ha yang kabarnya cukup
beres pembebasannya dari rakyat, kini kembali jadi sawah.
Kendati demikian, dok itu ternyata sudah banyak manfaatnya bagi
kapal-kapal Pertamina maupun ALRI. Itu terutama berkat sebuah
dok apung dengan daya angkut 20 ribu ton, panjang 227 meter dan
lebar 40 meter. Lalu sebuah bengkel terapung, yaitu KRI Dumai
milik ALRI yang dulu bernama USS Tide Water (164 x 23 meter)
sebelum dihadiahkan oleh AL-AS pada TNI-AL.
Bisa mengganggu
"Inilah fasilitas perbengkelan utama dok Dumai sekarang", ujar
Tatang. Setidak-tidaknya sampai proyek dok Pertamina terwujud
secara komplit. Sebab insinyur itu maklum, melihat penyakit yang
diderita Pertamina sekarang ini, belum ketahuan kapan dok Dumai
itu bisa rampung. Dan dok ALRI yang dikaryakan itu, ternyata
besar jasanya bagi Pertamina sehingga armada Pertamina bisa
terawat denRan baik. Sejak 1973 sampai semester ptrtama 1976,
dok apung Dumai itu kabarnya sudah mendandani 72 tanker, 108
kapal dan 48 sarana lainnya. Semua sarana itu seperti kata
Kepala P & T Wilayah II itu, "masih dalam keadaan baik"
Di KRI Dumai sendiri tak kurang dari 28 anggota TNI-AL yang
dikaryakan. Juga terdapat peralatan perbengkelan buatan
Polandia, yang semula direncanakan untuk proyek Dok TNI-AL di
pelabuhan Belawan. Kalau saja semua peralatan dan personil itu
dimanfaatkan dengan baik, pasti akan amat berguna bagi
perkembangan TNI-AI. sendiri. Khususnya mengingat Dumai akan
menjadi salah satu pangkalan utama dalam apa yang dikenal
sebagai sistim Kosisnal yang akan diterapkan 2 tahun lagi.
Selama ini pengelolaan dok Dumai itu tetap berjalan dengan baik
berkat kerjasama dengan maskapai Inter Maritime Management (IMM)
yang berpusat di Jenewa dan antara lain punya kantor di
Singapura. Patut diketahui IMM termasuk salah satu perusahaan
yang lagi menuntut Pertamina dalam urusan tagihan sewabeli
beberapa tankernya. Kabarnya kerjasama antara dok Dumai dengan
IMM selama ini berjalan baik. Namun tahun depan kontrak
manajemen dengan IMM itu sudah akan berakhir.
Sekalipun begitu Tatang Sunandar percaya bahwa 575 personil dok
Dumai "sudah akan siap untuk mengurusnya sendiri". Namun yang
kini menjadi pertanyaan: Apakah masalah gugatan tanker-tanker
yang disewa-beli Pertamina itu akan mengganggu kelancaran dok
Dumai? Beberapa fihak yang mengetahui memang beranggapan begitu.
"Adalah Dumai yang kini merupakan satu-satunya pelabuhan
samudera terbesar di Indonesia yang mampu menampung
tanker-tanker raksasa 100 ribu sampai 120 ribu ton bobot mati",
kata seorang pejabat minyak.
|