Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 37/IIIIII/13 - 19 November 1976
   
Kota

Pelabuhan Itu

Dermaga pelabuhan jayapura hanya 132 meter. gudang-gudang dapat menampung 5.000 ton. lautnya makin dangkal akibat erosi dari gunung yang menggundul dan penimbunan untuk areal parkir kantor gubernur.(kt)

KELUAR masuk Irian Jaya bagian timur cuma ada dua cara. Lewat
udara dan lewat laut. Ini pun hanya dapat jika melalui Biak atau
pulau Yapen. Untuk hubungan antar kota lainnya tak ada cara
selain lewat udara. Lewat laut mempunyai arti lebih besar. Bukan
saja karena naik kapal laut lebih murah ketimbang naik pesawat
terbang, tapi jumlah barang yang bisa diangkut dengan kapal jauh
lebih besar. Karenanya pelabuhan Jayapura yang menghadap teluk
Yos Sudarso mempunyai arti begitu vital.

Di Jayapura, orang akan segera tahu kalau ada kapal mendarat.
Lihat saja jumlah buah-buahan atau barang-barang yang ada di
pasar. Kalau ada barang baru datang, berarti ada kapal merapat.
Biarpun, arus kapal tidak sederas pelabuhan pusat di Tanjung
Priok.

Mempunyai dermaga cuma 132 meter panjangnya dan kedalaman
sekitar 9 meter saja, gudang yang dikelola sekarang hanya bisa
menampung barang-barang sejumlah 5 ribu ton saja. Ini gudang
yang menampung barang-barang masuk dan menyerap 284 tenaga, 80
orang sendiri berasal dari Irian asli. Sepuluh tahun terakhir
ini, pelabuhan Jayapura nyaris jadi sempit. Bukan karena
pagar-pagar yang dulu ditembok Belanda untuk batas dermaga kini
telah dirombak dengan adanya kantor gubernur baru yang hingga
kini belum selesai juga. Bagian yang kini untuk kantor gubernur
tadinya dimaksudkan untuk pelabuhan dan gudang barang-barang
atau bahan yang mudah terbakar. Gudang tinggal sebuah saja "dan
ini tentu saja sangat kurang", kata Adpel Jayapura A. Rantung.
Tambahnya: "Seharusnya ada gudang lini II. Dan sebetulnya ada 14
gudang kosong. Lihat saja itu!". Tangannya menunjuk ke beberapa
gedung yang kini sebagian digunakan oleh Dolog (Depot Logistik)
milik AD, Lakbangda kini disebut Bappeda dan EMKL Varunapura.

Sapi & Kambing

Beberapa gedung lagi dulunya milik Nieuwenhuijs, EMKL di zaman
Belanda dulu, kini belum jelas nasibnya. Kabarnya sudah
dibereskan dengan membayar 600 juta gulden. Hendarin
Hendamihardja, Kasub Direktorat Pengurusan Hak Tanah mengatakan
bahwa baru sejak 5 Juni 1976 lalu, semua milik Belanda dicatat
dan diusut. "Termasuk gudang-gudang di kawasan pelabuhan
Jayapura", ujar Hendarin.

Pelabuhan Jayapura ini memang banyak mempunyai hal-hal yang
musykil. Bukan saja karena kekurangan gudang, tapi juga tidak
mempunyai tempat parkir. "Bayangkan saja", ujar Adpel Rantung,
"jalan utama dan jalan umum kota Jayapura jadi terganggu kalau
ada pembongkaran barang". Itu baru barang-barang yang berupa
semen dan beras. Bisa dibayangkan kalau yang turun dari kapal
barang-barang yang lebih besar seperti mesin milik PLN yang
beratnya saja 50 ton. Adalah pemandangan biasa kalau yang turun
dari kapal binatang-binatang seperti sapi atau kambing lantas
berkeliaran ke jalan-jalan keliling kota. Masalah terakhir yang
mengancam kelestarian pelabuhan ini ialah: laut di teluk Yos
Sudarso jadi dangkal. Pengukuran teluk ini memang belum kami
lakukan, karena tidak ada biaya, ujar Rantung, tapi dilihat dari
kenyataan dan penglihatan, pendangkalan tampak jelas.

Perluasan

Apa yang ada pada Rantung tentang data-data kedalaman pelabuhan
Jayapura ini berasal dari tahun 1950. Dengan penuh harap Rantung
berkata lagi: "Pengukuran ini mendesak sekali". Biarpun sebegitu
jauh belum pernah terdengar adanya kapal yang kandas atau saling
bertubrukan. Maklum, alur kapal sepi. Tapi ada beberapa sebab
yang menjadikan teluk itu semakin dangkal. Antara lain adanya
dua bangunan yang baru berdiri di seputarnya: di kawasan dekat
dermaga minyak dan gedung gubernuran yang rencananya lautnya
akan ditimbuni untuk lapangan parkir. "Juga adanya erosi dari
gunung-gunung di sekitar teluk yang kini mulai gundul", tambah
Rantung.

Rantung dan stafnya memang mempunyai rencana besar untuk
mengatasi hal ini. Yaitu perluasan daerah pelabuhan yang tadinya
cuma 4 hektar jadi 20,5 hektar. Dan ini akan mengeruk beberapa
kawasan seperti Gajahputih yang kini jadi kompleks perumahan AL.
Juga beberapa jalan protokol, nantinya akan masuk kawasan
pelabuhan. Rencana besar ini tentu saja akan menelan biaya
besar. Tapi "kami memang terhambat oleh fasilitas yang sangat
minim. Motor tempel saja kami tidak punya", kata Rantung. Dia
tidak menyebutkan berapa jumlah biaya dan kapan akan dimulai
rencana tersebut, tapi memugar pelabuhan yang jadi mulut
pengembangan dan pembangunan Irian Jaya, memang perlu mendapat
perhatian utama.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

GELIAT SANG JAWARA - 07 Jul 2008 | 03:51 WIB
Boker Hidup Lagi! - 07 Jul 2008 | 02:27 WIB
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM - 07 Jul 2008 | 01:15 WIB
Pembantai Itu Hanya Diam - 07 Jul 2008 | 00:20 WIB
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang - 06 Jul 2008 | 21:56 WIB
Wakil Presiden Tutup Raimuna IX - 06 Jul 2008 | 21:39 WIB
God Save the Queen di Silverstone - 06 Jul 2008 | 21:01 WIB
Pemerintah Banyuwangi Alokasikan Biaya Berobat Keluarga Miskin - 06 Jul 2008 | 18:12 WIB
Mayoritas SD Negeri di Kabupaten Malang Belum Bersertifikat - 06 Jul 2008 | 18:10 WIB
Panwas Protes KPU Jawa Timur - 06 Jul 2008 | 18:08 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data