Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 52/IIIIII/26 Februari - 04 Maret 1977
   
Kota

Ke arah utara

Pembangunan kota Gorontalo menggunakan outline planning, berkembang mengarah ke utara dengan Half Ring Road I dan II. Angka kelahiran 2,3%. ada pasar, pusat pertokoan, 4 gedung bioskop, dll.

DENGAN APBD sekitar Rp 300 juta setiap tahun, kota Gorontalo
perlahan-lahan membenahi diri. Perkembangannya tampak mengarah
ke utara, karena kawasan ini masih cukup lengang dengan wilayah
persawahan yang luas. Dengan perencanaan yang disebut Half Ring
Road I dan II, banyak ditarik jalur-jalur jalan baru, termasuk
beberapa jembatan. Seperti Jalan Andalas, Hungginaa, Pangeran
Hidayat, Wuwabu, Timbuli, Taman Pendidikan dan Jalan Panca
Wardana.

Dengan semua itu Walikota Bilondatu agaknya merasa optimis bahwa
kotanya mempunyai masa depan cerah. "Pagi-pagi sudah ada out
line planning yang dapat dukungan masyarakat", ucapnya kepada
TEMPO. Tak lupa ditambahkannya bahwa luas kota Gorontalo masih
cukup sehingga belum terfikirkan perlunya rencana pemekaran
kota, setidaknya hingga beberapa tahun mendatang. Boleh jadi
juga karena Bilondatu memahami angka kelahiran warga kotanya
termasuk rendah, yaitu 2,3%. "Soalnya habis melahirkan terus
dipasang", begitu walikota menggambarkan suksesnya program KB di
wilayahnya.

Berkain Sarung

Tapi Bilondatu lupa menjelaskan angka kematian. Sebab yang agak
aneh di kota ini tak ada tempat pemakaman umum. "Kalau membeli
tanah di sini harus hati-hati, jangan sampai dapat tanah bekas
kuburan", kata seorang pengusaha hotel. Karena menurut si
pengusaha, hampir setiap keluaga mempunyai tempat kuburan
keluarga di samping atau belakang rumah mereka.

Seperti layaknya sebuah kotamadya, Gorontalo tak sepi dengan
fasilitas perkotaan. Pasar Sentral, terminal, pusat pertokoan,
perlistrikan melengkapi kebutuhan penduduk, kecuali air minum
yang masih dalam tahap survey. Tapi kebersihan cukup diragukan
karena sampah ditimbun menggunung terutama di sekitar pasar
sentral. "Maklum gerobaknya lagi rusak", kilah walikota. Tak
mengapa sebab jalan-jalan dalam kota sepanjang 97 km umumnya
sudah mulus. Kendaraan dalam kota berupa bendi yang khas
Gorontalo, siap mengantarkan warga kotanya ke mana saja. Untuk
menghibur diri tak ada kesulitan. Sebab kota yang penuh haji dan
orang berkain sarung ini dan kaum Hawa masih banyak yang
berjalan dengan membalut seluruh badannya (kecuali kedua bola
matanya), kaya dengan tempat hiburan. Bioskop ada 4 buah, klab
malam juga 4 buah yang kesemuanya mendatangkan hostes dari
Manado. Tempat-tempat bilyard, tak terhitung lagi. Itulah
Gorontalo.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta - 24 Jul 2008 | 07:27 WIB
Polisi Akses 160 CCTV Obyek Vital Ibukota - 24 Jul 2008 | 00:15 WIB
Suara NU ke Karsa, Perempuan ke Kaji - 23 Jul 2008 | 21:45 WIB
Pasangan Karsa Langsung Lakukan Konsolidasi - 23 Jul 2008 | 21:35 WIB
Industri Mulai Geser Hari Kerja - 23 Jul 2008 | 21:27 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data