Dara Mahkota Menang. Tapi Orang Kuatir |
DUA peristiwa penting dalam bridge tahun ini terjadi di Jakarta.
Pertama perebutan medali PON IX. Kedua, pembentukan regu
nasional untuk Kquaraan Timur Jauh di Manila, akhir Oktober
mendatang.
Di arena PON IX, praktis tidak terjadi kejutan. Regu putera dan
puteri DKI Jaya dengan mudah menaklukkan lawan-lawannya. Kedua
tim meraih medali emas. Sebaliknya regu putera Jawa Timur yang
diandatkan untuk memperoleh medali perak. Mereka gagal
menundukkan tim Jawa Tengah, dar, regu Jawa Barat. Sehingga tak
kebagian apa-apa - medali perak dan perunggu masing-masing
direnggut oleh tim Jawa Tengah dan Jawa Barat. Untunglah
kekecewaan tim Jawa Timur itu ditebus oleh pemain-pemain puteri
mereka sesuai dengan target semula. Medali perunggu direnggut
oleh mojang Jawa Barat.
Untuk jenis pasangan, Ny. Els Tobing/Ny. Laya dari DKI Jaya
dengan mudah merebut medali emas. Kedudukan selanjutnya
ditempati oleh pasangan Jawa Barat, Ny. Sutrisno Ratih dan
pasangan DKI Jaya, Ny. Hartono/Linda Sitompul. Sedangkan di
bagian putera, terjadi kejutan, pasangan kuat pada
berguguranmenjelang final. Pasangan 'top' Indonesia dewasa ini,
Waluyan/Sakul, cuma berhasil merebut medali perunggu. Medali
emas jatuh pada pasangan tak dikenal dari NTB, Amin/Masinambow
dan medali perak pada pasangan Kalimantan Barat,
Handoyo/Mahmuddin.
Dari 7 daerah yang ambil bagian, 6 untuk beregu putera dan 4
beregu puteri, hanya Sulawesi Utara saja yang tidak memperoleh
medali. Kegagalan Sulawesi Utara dalam PON IX memang sangat
drastis. Seoab daerah itu dikenal sebagai 'gudang' olahragawan
bridge. Dalam nomor beregu, Sulut sudah gugur di babak
prakwalifikasi dengan tidak munculnya pasangan Manoppo
Bersaudara.
Untuk membentuk regu nasional 1977, PB GABSI menyelenggarakan
invitasi dengan mengundang regu-regu yang dianggap punya
keholehan saat ini Yang diundang adalah pemenang I, II dan III
PON IX, juara I, II dan III Antar Gabungan dalam Kejuaraan
Nasional 1976 di Yogyakarta, serta pasangan Manoppo Bersaudara
dan Lasut/Aguw yang pernah tiga kali berturut-turut menjuarai
turnamen Timur Jauh.
Dua regu dari Sulawesi Utara, menyatakan kesediaan mereka. Juga
3 regu Jakarta. Akan regu dari Jawa Tengah dan Jawa Barat
sebagai juara II dan III PON IX tidak bisa ambil bagian,
berhubung dengan waktu yang sempit. Idem dito dengan regu
Surabaya. Mereka tidak dapat hadir berhubung soal cuti bagi
pemain yang sukar diperoleh. Lalu untuk melengkapi regu menjadi
6, maka diambil satu tim lagi dari Jakarta.
Dengan demikian, 6 regu yang ambil bagian dalam invitasi ini, 2
dari Manado dan 4 dari Jakarta. Tim Manado disebut Regu
Cenderawasih (Manoppo Bersaudara bersama Lasut/ Bandu), dan Regu
Merak. Jakarta turun dengan Regu Rajawali (pemegang medali emas
PON IX, Waluyan/Sakul dan Yassin/Suryadi), Regu Merpati
(Sabri/Gardea dan Yuniarto/ D. Tuerah), Regu Perkutut (Max
Horhoruw/Suwondo dan Nayoan/Yulius) dan Regu Dara Mahkota
(Fransz/Karamoy dan Fred/Dodo Syarifuddin).
Invitasi yang dimulai tanggal 5 s/d 9 Agustus diadakan di Press
Club atas kerjasama PB GABSI dengan SIWO/PWI Pusat dan Sasana
Gajah Mada.
Yang Gugur dan Yang Takluk
Pertarungan antara Manado dan Jakarta ini dimulai dengan
menegangkan. Di ronde pertama masih tampak supremasi Manoppo
Bersaudara. Mereka menundukkan regu Merak 18-2, Dara Mahkota
11-9, dan Perkutut 12. Tapi di Ionde lainnya, Manoppo
Bersaudara ditundukkan oleh Merpati dengan 0-20. Paling akhir
secara tragis dibikin minus 4 oleh Regu Rajawali. Dengan skor
demikian, Manoppo Bersaudara terpaksa masuk kotak. Juga regu
Merak. Yang masuk semi final tinggal 4 regu Jakarta.
Dalam babak semi final permainan tampak agak santai. Suasana
inilah yang menyebabkan regu Perkutut lengah. Sehingga Dara
Mahkota lolos dari lobang jarum, dan muncul di final bersama
regu Rajawali. Akan regu Merpati kehilangan komando, menyerah
4-16 lawan Dara Mahkota.
Pertarungan final antara Rajawali lawan Dara Mahkota betul-betul
tegang. Karena regu favorit Rajawali berangsur-angsur kendur.
Sebaliknya regu Dara Mahkota yang dapat angin di babak semi
final. Mereka secara meyakinkan mengumpulkan angka demi angka
dari kesalahan lawan yang sudah lelah. Akhirnya Dara Mahkta
unggul dengan angka 206-109. Dan ke luar sebagai juara invitasi
nasional 1977.
Yang Pahit dan Gelap
Regu Juara Dara Mahkota otomatis merupakan regu nasional 1977
yang akan mewakili Indonesia dalam Kejuaraan Timur Jauh di
Manila. Tim ini merupakan regu baru yang prestasinya selama ini
praktis belum terlihat. Sebagai pasangan, partnership di antara
mereka pun masih baru, sehingga sukar diramalkan bisa sukses di
Manila nanti. Selain itu, menurut pengamat bridge di ibukota,
banyak sekali faktor yang tidak mendukung regu ini. Mereka
mengusulkan agar secara kesatria, Dara Mahkota bersedia
melepaskan predikat regu nasional, dan menyerahkannya kepada
regu yang memang pantas untuk meraih target merebut kembali
Piala Rebullida dari Taiwan.
Bagi Manoppo Bersaudara hasil yang mereka peroleh sekarang
benar-benar merupakan pil pahit. Mereka tampak memiliki
kebolehan bermain. Sayang pasangan Lasut/Bandu tidak dapat
berbuat banyak, sehingga mereka kehilangan kepercayaan pada diri
sendiri. Selain itu, regu-regu dari Manado ini kurang
ber-sparring partner, sehingga sukar mengukur dalamnya sumur.
Akan Waluyan/Sakul dan Yassin/Suryadi yang selama sepuluh hari
berjuang merebut medali emas PON IX, dilihat secara fisik mereka
memang pantas kalah dalam invitasi ini.
Melihat pertarungan dilakukan dalam kondisi sebagian peserta
tidak pada bentuk prima, tak heran pengamat bridge meragukan
nilai akhir Dara Mahkota. Adakah Dara Mahkota mampu membalikkan
prasangka itu? Agaknya dari forum turnamen Timur Jauh lah
pembuktian itu akan datang.
|