Atlit Daerah, Di Mata Juri Daerah Hari ramayanti dari jakarta meraih medali perunggu pon ix.
murni, juri asal jakarta menilai subyektif. ada rencana
penghapusan lomba yang dinilai berdasar kebijaksanaan dari
olympiade internasional. (or) |
APAKAH yang akan anda katakan jika seorang juri menilai kurang
loncatan anda, hanya lantaran anda tidak mewakili daerah yang
sama dengannya? Anda cuma bisa mendongkol dalam hati. Maklum
juri punya wewenang penuh untuk meilai apa yang anda lakukan,
sesuai dengan pengamatannya. Apalagi penilaian loncat indah
tidak didasari perhitungan angka-angka yang eksak yang terlepas
dari pertimbangan subjektifitas, bukan?
Dalam pertandingan loncat indah PON IX lalu, taktor
subjektifitas itu tak kurang mengkatrol peloncat indah ke tempat
terhormat. Misalnya, peloncat indah Harli Ramayani dari Jakarta.
Ia mungkin tidak akan meraih medali perunggu, seandainya juri M.
Murni tidak memberi perbedaan angka yang tinggi dibanding
penilaiannya terhadap Lie Fung Ing dari Yogya. Murni dari
Jakarta memberi penilaian akhir untuk Harli 345,75. Sedang Lie
Fung Ing ditempatkannya di bawah urutan tersebut dengan
perbedaan angka 10,50. Angka final kedua peloncat itu terpaut
dalam selisih perhitungan yang tipis -- Harli 343,38 dan Lie
Fung Ing 342,84. Keputusan itu dituangkan setelah penilaian
ketujuh juri digodog untuk penentuan akhir.
Sukar Dielakkan
Yang berlaku subjektif, bukan hanya Murni. Juga juri Yogya,
Soepadmo. Ia menempatkan Lie Fung Ing sebagai caIon peraih
medali perunggu. Dan menggeser Harli ke urutan kelima. Perilaku
yang menyolok dari kedua penilai itu menyebabkan mereka
menempati terbawah dalam rangking juri -- Murni menduduki urutan
keenam, Soepadmo di tempat ketujuh. "Faktor subjektifitas juri
itu memang sukar dielakkan dalam menilai loncat indah," ujar
tokoh loncat indah Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI),
Yasin. "Terutama bila yang dinilai itu adalah atlit daerahnva
sendiri."
Hal serupa juga terjadi dalam mata lomba senam. Karena cabang
olahraga ini pun belum mempunyai perhitungan yang pasti. Dalam
Olympiade Montreal, tahun 1976 lalu penilaian juri atas Nadia
Comaneci, bintang senam Rumania yang tanpa kesalahan sama
sekali, tak kurang mengundang protes. Para tukang protes
menganggap hasil penjurian terlalu berlebihan. Comaneci mendapat
nilai 10 hampir untuk setiap nomor peragaannya. Semua itu
dilakukan oleh jurijuri yang sudah teruji kebolehannya. Apalagi
dengan hasil akhir nomor senam PON IX yang masih belum taraf
Olympiade, bukan?
Mengingat nomor-nomor ini memungkinkan subjektifitas juri
dituangkan pada penilaian ketrampilan atlit, Ketua Komite
Olympiade Internasional, Lord Killanin tak kurang mengajukan
rencana untuk menghapuskan semua mata lomba yang penilaiannya
didasarkan pada kebijaksanaan manusia. Ide ini mungkin jalan ke
luar yang terbaik daripada penilaian selalu disertai sikap
ketidak-puasan dari mereka yang dirugikan. Bagaimana di
Indonesia? Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) tampak
belum menyinggung masalah serupa. Atau sikap subjektif para juri
tersebut memang tak perlu dipersoalkan di sini?
|