Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 30/IIIIIII/24 - 30 September 1977
   
Kota

Lagu Itu Mulai Dilupakan

Tulungagung sering banjir akibat luapan sungai brantas. berkat usaha warga dan pemda banjir dapat diatasi. lagu nasib kota tulungagung yang dinyanyikan karena banjir, berangsur mulai dilupakan.

"OH nasib Tulungagung" adalah sebuah lagu langgam yang pernah
cukup populer di tahun 50-an. Khususnya di daerah ini. Lagu itu
menggambarkan betapa merananya nasib kota ini di saat-saat air
sungai Brantas banjir dan menggenangi kota serta sekitarnya.
Tapi lagu berirama lembut ini segera pudar didesak lagu-lagu
berirama keras belakangan ini.

Bersamaan dengan itu pihak Pemda Kabupaten Tulungagung juga
secara perlahan berusaha melupakan bait-bait lagu tadi dari
ingatan para warga kota ini khususnya. Setidak-tidaknya semenjak
4 tahun terakhir ini. Yaitu antara lain dengan memperbaiki
tanggul-tanggul, memasang pompa-pompa penyedot, pengerukan
sungai-sungai yang ada di dalm kota dan meninggikan jalan di
beberapa bagian kota. Dengan adanya usaha-usaha ini, terutama
melalui pompa-pompa penyedot tadi, memang akhir-akhir ini kota
Tulungagung sudah dapat dikatakan bebas banjir.

Bahkan kesibukan menghapus banjir ini banyak menarik perhatian
daerah-daerah sekitarnya, terutama yang juga kerap kecipratan
banjir sungai Brantas. Lebih menarik lagi karena kemudian yang
terbebas dari banjir bukan saja kawasan kota, malahan juga
beberapa kawasan Kabupaten Tulungagung. Sebab ternyata tanah
Rawa Bening dan rawa Gesikan sudah berhasil dikendalikan
sehingga desa-desa di sekitarnya tak pernah tergenang air lagi.

Kotor

Jembatan Grobogan yang berada di tengah-tengah kota dan masih
merupakan peninggalan Hindia Belanda memang belum juga diganti.
Karena rupanya pihak Pemda Kabupaten Tulungagung berpendapat
jembatan itu masih cukup kuat, walaupun bebannya semakin berat
juga -- terutama karena peranannya secara langsung menghubungkan
kota Tulungagung dengan Trenggaiek. Hanya saja melalui dana
Inpres di kiri kanan jembatan telah ditambah jalur untuk
kendaraan lambat dan pejalan kaki. Sayang bahwa kota Tulungagung
akhir-akhir ini tampak semakin kotor. Sampah berserakan di
mana-mana, bagaikan tak ada niat warga kota ataupun pemerintah
daerah untuk menyingkirkannya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pemerintah Diminta Naikkan Cukai Rokok - 25 Jul 2008 | 20:29 WIB
Trendi Berkampanye Secara Estafet - 25 Jul 2008 | 20:24 WIB
Kalla Minta Direksi Merpati Dirombak - 25 Jul 2008 | 19:34 WIB
Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data