Obituari Seorang pelukis zaini yang selalu melukis benda yang sama
telah meninggal dunia. perahu, ayam, kambing selalu di-ulang
ulang sebagai obyeknya. kemungkinan ia melihat hakikat hidup
di sana dan menggali terus. |
ZAINI meninggal. Negeri ini tak akan berkabung untuk seorang
pelukis yang mati. Dulu Cokod di desa terpencil di Bali pun
meninggal tanpa orang banyak tahu apakah itu berarti suatu
kehilangan.
Apalagi Zaini tidak termashur bagi khalayak ramai. Ia tak dimuat
dalam lembaran gosip atau dibisik-bisikkan berkenaan dengan
perangainya yang luarbiasa, atau percintaannya dengan seorang
wanita, atau pendapatnya yang mengagetkan tentang seni, sex,
politik, pungli atau perusahaan multinasional. Di jaman tatkala
seniman bisa jadi buah-bibir karena menggebrak-gebrak, Zaini ada
atau tidak ada dan orang tak begitu acuh.
Ia sendiri seperti sudah lama mengambil sikap bahwa seorang
seniman tak selalu harus membungkuk agung dengan sejenis rasa
tragedi. Ia biasa mencemooh para pengeluh, ia hidup cukup enak,
tak merasa aneh dengan memiliki barang semacam mesin cuci. Ia
tak pernah berkepul-kepul dengan rasa protes, ia bahkan tak
merasa perlu ngotot dalam perkara pendirian atau pendapat --
bahkan ia menerima kritik tanpa kelojotan lantaran baginya semua
enteng. Ia biasa berkata, "Alah, gampang itu," dengan mulut
separuh tertawa dan tangannya mengipas-ngipaskan handuk kecil
yang selalu dibawanya.
Ia memang bisa menjengkelkan para seniman lain, yang merasa
bahwa banyak hal yang suci dalam pendapat mereka, karena
kesenimanan, bagi mereka adalah semacam kehidupan martelaar.
Dalam hal itu ia memang jauh dari mereka yang sadar atau tak
sadar terpesona akan sejarah kesenimanan Eropah: manusia biasa
yang dalam proses kemudian menganggap diri luarbiasa. Van Gogh
memotong kupingnya sendiri dan Modigliani kelaparan dan Charles
Baudelaire, penyair itu, berkata dalam Mon coeur mis a nu: "Di
antara manusia hanya penyair, pendeta dan prajuritlah yang agung
. . . Lainnya hanya bagus buat dicambuk."
Agung? Zaini tahu betul betapa omong-kosongnya ini.
Ia pandai mengempiskan balon ego kesenimanan yang menggelembung.
Ia sendiri melukis dan kanvasnya tidak akan membuat mata melotot
atau kita merasa minder. Zaini tidak ekspansif. Ia melukis benda
yang itu-itu juga perahu, ayam, kambing, perahu, ayam, kambing,
perahu .... Pelukis Nashar, kawan lamanya, menulis dalam
Surat-Surat Malam --bukunya yang terbit tahun lalu--tentang para
pelukis yang seperti itu: ".... kalau ada pelukis yang
mengulang-ulang melukis obyek yang sama ada kemungkinan ia
melihat hakikat hidup di sana dan menggali terus."
Kita tidak tahu adakah Zaini juga ditarik oleh "hakikat hidup di
sana" itu. Kata "hakikat hidup" mungkin terlalu keren buat dia.
Kanvasnya tidak menunjukkan ia "menggali" -- melainkan
mengesankan bahwa ia terpesona terus-menerus, tiap kali.
Benda-benda itu nampak hanya bagian wadag saja dari suatu sumber
pesona -- yang tak lain adalah keindahan, mungkin dengan "K",
yang hadir di mana-mana tiap saat intuisi kita hidup dan panca
indera kita tergerak.
Maka kanvasnya cenderung untuk tidak bercerita tentang
bentuk-bentuk. Perahu itu hanya beberapa garis yang hemat
seperti goresan lukisan Tiongkok tentang buah pir atau daun
bambu -- sebab perahu itu adalah bagian dari kakilangit, dan
kakilangit itu bagian dari senja yang merah, dan senja itu
bagian dari keindahan, mungkin dengan "K". Garis Zaini seperti
luluh dalam warna. Yang hadir adalah suasana, seperti mimpi.
Mimpi yang nikmat. "Kenapa sih kita takut untuk dibilang
manis?", sekali ia pernah berkata.
A thing of beauty is a joy forever ....
Hidup dengan keindahan mungkin sesuatu yang bisa menyebabkan
kita bersyukur, merasa cukup, tanpa menjadi serakah. Hidup itu
bergerak di dalam, jauh, seperti tatkala kita mendengarkan
perubahan suara gerimis. Di Jepang kuno konon seorang daimyo
biasa menjamu seorang tamunya dengan bersama-sama menyaksikan
fajar. Dan kemudian sang tamu, seorang samurai tentu, akan
berkata: "Terimakasih atas fajar itu."
|