Mereka terkena opstib Ny. hasibuan dijaring opstib di kantor bea cukai halim. orang
memberikan kehormatan sebagai ratu pungli. korban
opstib, djaenuddin, pegawai kantor pajak, masih syok dan
malu. mereka "dirumahkan". |
DARI sekian orang-orang terkenal yang tak berbahagia, kita
temukan seorang ratu yang berduka sejak menerima
pengangkatannya. Ia tidak terpilih dalam satu kompetisi terbuka
dengan ukuran-ukuran yang sudah pasti. Ia meloncat ke dalam
kolom-kolom surat kabar, kena betot dengan tiba-tiba. Mahkota di
kepalanya bukan kehormatan. Inilah "Ratu Pungli" yang berumah di
kawasan Pasar Minggu dalam sebuah komplek perumahan yang
terbilang sederhana.
Wajahnya keras. Rambut di kepalanya sudah mulai memutih.
Selintas orang akan lebih suka menghindarinya karena angker,
daripada menyebutnya sebagai ratu. Suaminya tewas tahun 1969
dipatuk serangan jantung. Sejak itu ia menanggung hidup 7 nyawa
(cucu, ibu, anak, menantu, keponakan dan pembantu). Tapi ia
punya pekerjaan tetap di Bea Cukai sejak 21 tahun yang lalu
(1956). Sekarang ini pangkatnya III A, dengan gaji kotor Rp 50
ribu sebulan. Sembilan bulan lagi, ia sudah diharapkan memasuki
kotak pensiunan.
Pada suatu hari di Kantor Bea Cukai Halim -- di mana ia duduk
sebagai Kepala Seksi Keuangan/Penagihan/Penunggakan - muncullah
tangan Opstib. Ia, menurut laporan, ketahuan meminta uang lebih
dari orang-orang yang berurusan dengan bea cukai di situ. Orang
banyak mengerumuninya dan ada yang berteriak, bahwa dialah "Ratu
Pungli". Para wartawan menjepret wajahnya. Ia seolah
dipertontonkan sebagai contoh. Nyonya ini tentu saja pada
mulanya menolak. Tetapi Opstib bukanlah anak bawang. Sudomo
mendesak. Ia dijanjikaul tidak akan dipecat asal saja suka buka
mulut. Pikir punya pikir, nyonya ini setuju.
Lalu khalayak ramai pasang kuping, angka-angka yang selarna ini
hanya dalam dugaan kini ketahuan berapa pastinya. Nyonya ini
telah menerima sekitar Rp 50 ribu setiap minggu. Kurang lebih
angka ini muntah jadi Rp 300 ribu dalam sebulan. Besarkah ini,
atau kecilkah ini -- mulanya bukan merupakan faltor-faktor
yang penting dalam pemberian mahkota "Ratu Pungli".
"Julukan itu memang menyakitkan, masih terasa di sini (menunjuk
dada). Tapi biarlah, biar ibu saja yang menderita. Ibu rela jagi
begini, memang sudah nasib," kata nyonya Hasibuan pada Widi
Yarmanto dari TEMPO.
Kalimatnya itu terasa pahit. Seakan-akan ia merasa diperlakukan
dengan tidak adil. Seolah-olah ada orang lain atau banyak orang
lain, yang sebetulnya lebih berhak dipilih. Ya ilah, betul saja.
Nyonya itu mengangguk. Lalu siapa? "Ah, tak usah saya katakan,"
tangkisnya. "Biarlah saya saja yang jadi korban. Tak usah
merembet ke yang lain. Kalau saya buka semuanya, nantinya malah
tidak karuan." Jadi harus tetap bungkam-bungkam saja.
"Tapi di samping itu, hati ibu sendiri juga sudah mengatakan
lebih baik tak usah bicara apa-apa. Ibu tak sampai hati pada
orang lain yang ikut terlibat." Masak bu? "Ya, biar sakit tapi
tidak apa, ibu rela menderita untuk orang lain."
Perbedaan yang menyolok yang terjadi dalanl rumah nyonya yang
berusia 54 tahun ini lebih santer terdengar lewat mulut
pembantunya. Sejak koran 5 September mengumumkan penobatannya
lengkap dengan potret, suasana rumah yang semula segar mendadak
jadi misterius. Semua penghuni rumah lebih suka diam. "Nyonya
memang kelihatannya angker tapi hatinya baik. Sekarang ia banyak
diam. Untung ada Coki," ujar pembantu itu.
Coki adalah cucu nyonya Hasibuan, umur 1« tahun. Dia memang
merupakan obat capek di dalam rumah yang kadangkala bisa merubah
suasana yang tiba-tiba jadi beku. Anehnya, pembantu tadi tidak
sampai minggat karena tekanan suasana itu. Mungkin karena
permintaannya untuk tambah teman bekerja sekarang dipenuhi,
dengan datarnya pembantu baru. "Jadi sekarang saya tidak capek
lagi," ujarnya dengan tertawa.
Pagi hari tanggal 5 September tatkala ia dipanggil oleh para
tetangga untuk melihat gambar nyonya rumah ia tertawa
terpingkal-pingkal. Hanya saja kemudan ia ingin nyobek koran
itu. "Entah kena apa,' tuturnya.
Nyonya Hasibuan sesungguhnya seorang wanita yang gemar bekerja.
Ia tak pernah ikut-ikut kelompok arisan, hal itu dianggapnya
hanya kumpul-kumpul mendesas desuskan trang lain. Di dalan
kntpleks Bea Cuka, dulu ia mendapat julukan "Ibu asramu"
karena di rumahnya menutnpang beberapa karyawan bea cukai.
Hubungan mereku bagus, bahkan ia sangat disukai karena bisa
ngemong.
Dua hari sebelum kedatangan Sudomo ke Halim, ia telah mendapat
firasat buruk. Tubuhnya lesu dan rasa ringsek. Memang ia punya
penyakit ginjal dan empedunya tidak berfungsi lagi. Tapi sudah
lama tidak kambuh-kambuh, ia jadi heran dan mengeluh pada
menantunya hal yang sebenarnya tak pernah dilakukannya sebelum
itu. Apalagi hari Sabtu tanggal 3 September, pulang kantor ia
masih tampuk segar. Tak ada kejanggalan. Hanya Senin paginya ia
berkata pada anak dan menantunya: "Kalau ada apa-apa nanti di
koran jangan kaget !"
Benar saja. Anaknya yang tertua (24 tahun) terkesima pagi-pagi
di depan koran. Anak ini sanngat sensitif. Orang yang mencoreng
muka ibunya itu langsung dirasakannyu menoreh mukanya sendiri.
Hampir seminggu kemudian ia tidak bisa ke kantor. Sang ibu
sudah membawa pulang kaset radio dan barang-barang lain dari
kamar kantornya, karena ia akan dialihkan ke pusat. Melihat
kelakuan anaknya ia cepat mendekati menantunya. "Harapan saya
hanya pada suamimu. Doronglah dia dengan moril. Suruhlah dia
bekerja seperti biasa. Dialah satu-satunya yang bisa
diharapkan!"
Menantunya mengakui betapa mahkota "Ratu" itu membuat nyonya
Hasibuan keok. Akan tetapi tetap ada hal-hal yang sedikit
meringkan penderitaan mereka. Urusan dalam negeri rumah tangga
memang jadi loyo, tetapi hubungan famili dan tetangga tetap
biasa-biasa saja. "Mungkin karena ini Jakarta, kau ya kau, aku
ya aku," kata menantunya. "Tapi mungkin juga karena barangkali
mereka menganggap ini lumrah. Mama kan hanya isterinya! "
Lalu ia berbisik, menurut mertuanya, kesulitan mereka asal
mulanya datang dari para calo yang tersinggung. Janda Hasibuan
ini konon keras. Kalau "syarat" tidak dipenuhi, ia tidak akan
sudi melayani. Sudah banyak calo yang diusir. "Dan begitu pak
Domo datang mereka memanfaatkan kesempatan itu," ujarnya.
Ibu itu kini tampaknya lebih memikirkan perasaan anaknya
daripada perasaannya sendiri. "Anak saya yang paling besar itu,
dialah yang paling menderita. Ia malu. Kemarin ketika ada
wartawan datang ke rumh, menimyai ibu tentang kasus itu, ibu
menangis. Padahal ia laki-laki."
Lain halnya dengan anaknya yang kedua yang tinggal di Bandung
itu. Lebaran yang lalu, ia tetap muncul sebagaimana biasa.
Tampak biasa. Seakan-akan tak tahu apa yang sedang menimpa
mamanya. Sama sekali tidak menangis. Tak ada satupun kebiasaan
yang dilupakannya. Rupa-rupanya iaborusaha benar untuk menjaga
agar semuanya tetap berlangsur sebagaimana adanya dahulu. Hanya
saja kalau dulu hendak pulang kembali, ia selalu minta duit,
kini tidak. "Ini kebiasaan buruk," kata nyonya Husibuan.
Kini lebih dari 2 minggu ny. Hasibuan hijrah ke Bea Cukai
Pusat. Di tempatnya yang baru ia lebih banyak bengong. Di sana
tidak ada kursi. Tak ada meja. Lebih dari itu, memang tidak ada
kerja. Ia cuma duduk berjam-jam menunggu di mana akan
ditempatkan. Seperti masuk ke dalam suatu jaring yang tak jelas.
Itu menyesalkan mengapa tidak ada pejabat di utusnya yang
memberikan dorongan moril kepadanya. Kadangkala ia tampak
ditemani oleh sebuah majalah, lalu mengisi teka-teki silang.
"Saya tidak tahu, di pusat ini saya ditempatkan di mana," kata
nyonya asal Tapanuli itu. Sementara bapak Sekretaris Dirjen
Kusmayadi juga hanya bisa menggeleng: "Saya juga tidak tahu
di bagian mana ibu ini!"
Sambil menunggu ia ngendon di belakang Poliklinik. Seharian
penuh di sana. Mengaku sakit tidak enak badan. Ketiku salah
seorang pegawai menawarkan agar ia duduk menunggu di
dalam ruangan saja, ia tegas menolak. "Saya malu,"
jawabnya. "Saya malu, malu sekali!"
Izin Buka Mulut
Bagaimana orang yang "kena Opstib" yang lain? Djaenudim yang
semula bekerja di kantor Pajak tidak hanya malu, tetapi juga
seperti orang bingung. Pegawai ini menutup diri setelah kena
sanksi "dirumahkan". Rumah miliknya hasil angsuran
bertahun-tahun tampak sepi. Rumah bercat jambon yang agak
lusuh itu memang digelung tembok dan pagar besi. Maklum gajinya
hanya Rp 47.500.
Ia memakai kain dan peci, seperti seorang santri. Suaranya pelan
dan bergetar. Terus terang ia mengakui kegugupannya. "Saya masih
belum pulih, saya masih syok. Dan saya juga masih tidak bisa
menghilangkan rasa gemetar " ujarnya pada TEMPO.
Ia tak bersedia menceritakan kisah pungli yang didalanginya. Ia
masih dikejar bayang-bayang, saat-saat ia dipergoki oleh
Opstib. Belum lama, waktu ia masih bertugas di Kantor Pajak di
jalan Kali Besar, Jakarta Kota, Sudomo langsung menatap ke
matanya. Ia tak bisa berkutik. "Menghadapi pak Domo, saya
seperti dituntun buat mengaku. Mulut ini terasa tidak bisa buat
membohong. Saya sendiri tidak tahu, mengapa saya jadi penurut "
kata Djaenudin.
Sudomo datang siap dengan barang-barang bukti - berupa kaset
rekaman antara wajib pajak dengan petugas pajak (di dalamnya
menyangkutlah nama Djaenudin). Lelaki yang menghidupi tiga anak
yang masih kecil itu jadi gamang. Selera makannya hancur. Pulang
ke rumah kemudian ia langsung mengurung diri. Tiga hari tidak
melihat matahari berjalan di atas kantornya. "Saya memang malu,
saya tidak tahu bagaimana omongan tetangga," katanya dengan
polos. Apalagi ia termasuk beken di kampung Jati Padang Pasar
Minggu tempat tinggalnya itu. Lalu ia berangkat ke Bandung
menjenguk orangtua. Masa kerjanya selama 11 tahun telah hancur
berantakan.
Sampai kapan akan dirumahkan, ia tak tahu. Sudah pasrah. Ia pun
salah kesalahan yang sudah dilakukannya. Anehnya, ia juga
mengaku, kalau saja mau, ia bisa membeberkan sebuah rentetan
cerita yang pasti akan menarik. Lalu kenapa tidak mau'? Tidak
berani barangkali? Jawabnya senada dengan nyonya Hasibuan.
"Sudah begini, mau diapakan lagi. Biarlah tetangga mencemohkan
saya. Ini memang nasib saya."
Tapi kemudian ia sempat kasih janji, satu ketika tidak akan
ragu-ragu lagi untuk membuka mulut lebar-lebar. Menuturkan
segalanya dengan jelas dan terang. Menunjuk, menceritakan,
siapasiapa dan bagaimana antara sesama temannya yang juga terima
lebih besar dan lebih banyak. Tapi kapan, kapan bung Djaenudin?
Lelaki itu menjawab lirih: Nanti kalau sudah ada izin dari
Bapak Dirjen Pajak untuk membuka mulut." Waktu hendak dipepetkan
lagi, ia cepat-cepat memotong: "Wah lama-lama saya bisa pingsan
di depan isteri saya."
|