Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 33/IIIIIII/15 - 21 Oktober 1977
   
Musik

Diam mengasah kebencian

Iwan abdulrachman, dkk. mempertunjukkan musik folk di tim. sebelumnya penonton mengejek pertunjukkannya, tapi setelah pemain bersemangat, penonton diam.

ADA orang bilang kami memainkan musik folk yang santai untuk
pelarian. Itu kami tolak," ujar Iwan Abdulrachman di panggung
terbuka TIM. Bersama 40 kawan-kawannya ia muncul kembali dengan
gegap-gempita. Dengan mulut menganga lebar, dengan gitar, dram,
flut, harmonika, tanggal 1 dan 2 Oktober itu mereka membuktikan
diri benar-benar tidak loyo. "Memang kami diam. Tapi kami diam
untuk mengasah kebencian," lanjut Iwan, yang kelihatan agak
kelewatan semanatnya malam itu.

Tak kurang 13 buah lagu mereka umbar ke telinga para penonton
yang semula agaknya mengira akan mendengar musik jreng. Waktu
Iwan dan kawan-kawannya muncul secara tenang-tenang saja, dengan
begitu banyak pemain, orang mulai mengejek. Apalagi tatkala
insinyur pertanian ini mengeluarkan secarik kertas dari
kantongnya yang berisi urutan lagu, dengan gaya yang lugu.
Ejekan mulai dilontarkan dari arah belakang. Tapi semua gangguan
tiba-tiba padam begitu saja tatkala lagu pertama, Fortunate
Paradise garapan Benny Subardja, melayang.

Gunung Tinombala

Kompak, disiplin? sopan, trampil, tapi sederhana. Inilah ciri
utama Iwan dan kawan-kawan. Orang yang menginginkan melihat
seorang cewek di panggung, mungkin akan kecewa karena rombongan
ini cowok melulu. Tapi hal tersebut hampir tak terfikirkan
--didesak oleh variasi dalam penyusunan acara. Apalagi Rudy
(Sobrun) Jamil tetap juga di sana. Ia ngumpet waktu acara
dibuka, nyaris para penggemarnya kecewa. Tapi tak lama Iwan
memanggilnya sehingga acara tambah santai dan komunikatif.
Berbeda dengan acara penampiian di Gelanggang Renang Ancol, di
mana Rudy ditampilkan hanya untuk kesempatan ambil nafas bagi
para pemain. Malam ini Rudy berulang-ulang dipanggil. Ia
merupakan bagian dari pertunjukan Grup Pencinta Lagu Universitas
Padjadjaran ini telah sempat tampil bulan Agustus lalu untuk
memeriahkan pekan ISMI Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Pertengahan Oktober ini sudah ada rencana mereka tetirah ke
kampuskampus di Singapura dan Malaysia dengan biaya yang mereka
kumpulkan sendiri, tanpa cari omprengan ke sana ke mari.

Pada sebuah lagu bernama Fatamorgana, mereka bertanya: "Apakah
kita harus berpaling?" Maksudnya: dari situasi sekitar. Sedang
Benny Subardja sempat mengungkapkan tragedi di Gunung Tinombala
dalam sebuah lagu yang cukup apik. Lagu-lagu lainnya, seperti
Haben, menunjukkan betapa besar potensi yang mendekam dalam diri
anak-anak muda ini. Dengan sebuah tongkat kecil, tanpa diikuti
gaya orang berkuasa, Iwan berhasil menyatukan suara
teman-temannya sehingga padu dengan aransemen yang dikerjakan
dengan rapih.

Rudy Jamil menyanyikan 2 lagu yang lucu. Sementara Iwan sempat
juga menunjukkan kebolehan suaranya. Kesempatan lainnya jatuh ke
tangan Benny Subardja yang menyanyi dengan penuh perasaan. Anak
muda ini banyak menciptakan lagu. Ia telah memberikan debur yang
keras tapi juga menyediakan saat-saat yang romantis, sehingga
musik malam itu tidak hanya batu keras tetapi juga sentuhan
manis. Army Noor menambahkan lagu yang kedengarannya aneh tetapi
amat tajam.

Army menuliskan kesunyian, luka dan hati yang keras. Diperkuat
lagi oleh Albert dan Okky Rahmat Mulyadi dengan pianonya,
sehingga malam itu bukan sekedar lagu-lagu tong sampah karena
benar-benar dikerjakan. Mungkin inilah yang paling penting
dikemukakan. Bahwa kendatipun mereka amatir, garapan mereka
profesional.

Arya Yunior

Rudy Djamil khususnya amat menonjol 2 malam itu sebagai pembawa
acara badutan yang mengesankan. Kata-kata yang keluar dari
mulutnya tak pernah menemui jalan buntu. Improvisasinya amat
lancar dan gesit. Terbayang betapa ia menggunakan otak, mata
serta pengetahuan lingkungannya dalam menggarap para penonton
dengan lelucon seradak-seruduk tapi amat simpatik. Tulisan,
tukang minuman, sampai gigi ompong Iwan, disikatnya jadi lucu.
Kawan-kawannya sendiri hampir tak bisa menahan ketawa oleh
keajaiban Rudy. "Habis saya berlatih sekali saja, sudah itu
improvisasi di panggung. Makanya lihat, kawan-kawan banyak
yang ketawa, sebab yang di panggung beda dengan yang di
latihan," ujar Rudy.

Di samping Iwan, boleh disebut grup Arya Yunior yang mengawali
pertunjukan. Dengan penyanyi pokok Dian Anggraeni, grup
beranggota 4 cewek dan 1 cowok ini kelihatan semakin mantap.
Penggarapan aransemen makin matang. Tercium bau jazz. Mereka
banyak membawa lagu dari tangan Titiek Hamzah. Kadangkala paduan
suara mereka juga terdengar seperti Dara Puspita.

Tetapi musik mereka jauh lebih keras, sementara ulah mereka
tetap sopan. Pakaian rapih, gerak-gerik sederhana saja. Arya
Yunior memiliki harapan yang baik, seandainya saja mereka tetap
dapat bersatu terus. Kelihatan adatangan yang kuat di belakang
mereka. Sedang lagu yang mereka ciptakan sendiri merupakan tanda
baik. Mereka juga diharap akan segera menghentikan kebiasaan
nyontek lagu-lagu piringan Barat. Sebab kalau itu terlalu
banyak, mereka tidak akan pernah benar-benar menjadi mereka
sendiri.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pensiunan Gugat PT Telkom Indonesia Rp 56 Miliar - 25 Jul 2008 | 09:57 WIB
Kejaksaan Periksa Perusahaan Terkait Alat Tes Flu Burung - 25 Jul 2008 | 09:52 WIB
Penahanan dan Penggeledahan PT Pos Mendesak - 25 Jul 2008 | 09:46 WIB
Korban Taksi Maut di Jalan Tol Bertambah - 25 Jul 2008 | 09:18 WIB
Jamaah Haji Beresiko Tinggi Alami Gangguan Kesehatan Dapat Kartu Kendali - 25 Jul 2008 | 08:51 WIB
Indeks Diperkirakan Terus Melaju - 25 Jul 2008 | 08:37 WIB
Investasi di Kawasan Industri Kariangau Belum Capai Target - 25 Jul 2008 | 08:34 WIB
Waktu menonton Televisi menurunkan fungsi Retina Anak - 25 Jul 2008 | 08:28 WIB
Jakarta Cerah di Pagi Hari, Mendung Menjelang Sore - 25 Jul 2008 | 07:29 WIB
Pemerintah Paksa Pelanggan Bisnis Berhemat - 25 Jul 2008 | 01:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data