Kini Muncul Apollo Di kabupaten asahan (sumatera utara) setelah pukat harimau
dikenal pukat apollo. jenis alat ini dapat menguras ikan dan
udang. dikhawatirkan hasil lautan asahan yang berupa udang
merosot drastis. |
SESUDAH pukat harimau, para nelayan di kabupaten Asahan
(Sumatera Utara) mengenal pula pukat Apollo. Keduanya sama
dipakai untuk menangkap udang dan ikan. Tapi adalah jenis Apollo
rupanya dikenal paling hebat menguras hasil lautan hingga
dikuatirkan Asahan pun menyusul nasib Bagan Siapi-api (Riau).
Dulu sebagai penghasil ikan utama, Bagan Siapi-api kini kurang
menarik bagi tauke-tauke pukat yang mulai beralih ke Asahan.
Mereka telah memasang pukat sampai dekat ke pantai - tak perduli
larangan pemerintah -dan menjerat induk udang.
"Pembiakan udang akan terganggu kalau pukat itu masih terus
beroperasi ke pantai," kata ir. Martin W. Batubara Kepala Bagian
Perencanaan Dinas Perikanan Sumatera Utara. Tapi tak pula mudah
untuk mencegah mereka, mengingat mereka tak segan menyogok
pejabat. Adakalanya mereka dibekali izin juga. Kapal pukat
semestinya dilarang beroperasi dalam batas 6 mil dari pantai.
Karena induk udang sudah demikian banyak terjerat, ada
kemungkinan Sumatera Utara akan mengekspor udang yang berukuran
tambah kecil. Sekarang pun sudah mulai kelihatan begitu. Asahan
tahun ini ditaksir bisa menghasilkan udang sekitar 6000 ton
saja, atau separoh dari jumlah yang dicapai tahun 1975.
Perikanan Sumatera Utara menghasilkan $ 31 juta (di antaranya $
29 juta dari udang) dalam ekspor 1976. Apakah keduanya pukat
harimau dan Apollo itu perlu dikenakan Opstib supaya nilai
ekspor tidak merosot? "Kita damai-damai jajaIah,'' tauke-tauke
pukat biasanya berkata.
|