Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 14/IIIIIIII/03 - 9 Juni 1978
   
Daerah

Angin, Banjir Dan Pasang Laut

Kota Meulaboh dilanda air pasang & luapan sungai Meurobo. Setelah surut, terjadi wabah muntah berak. Aceh selatan disapu pasang laut & angin ribut. kota Pidie dilanda banjir. Hubungan dapat terputus. (dh)

MUSIBAH hama wereng belum terlupakan, malapetaka baru menimpa
Aceh pula. Pertengahan bulan lalu 4 kabupaten di propinsi ini
dilanda angin kencang bersama hujan lebat. Kabupaten-kabupaten
Aceh Barat, Aceh Selatan, Aceh Besar dan Pidie, ditimpa bencana
alam.

Kabupaten Aceh Barat ternyata paling menderita. Ibukotanya,
Meulaboh, di bibir Lautan Hindia itu, dijilat air pasang dan
sekaligus digenangi air hujan luapan Sungai Meurobo. Sebanyak 24
orang meninggal, 40.000 orang harus mengungsi dan hampir 3.000
rumah rusak. Bupati Aceh Barat, drs. Teuku Usman mengirim telek
kepada Darmansyah dari TEMPO, untuk mengabarkan bahwa 2 hari
kemudian air menyusut. Tapi, katanya, wabah muntah berak
berjangkit dan merenggut nyawa 10 orang penduduk. Pencegahan
sudah dilakukan.

Tak kalah menyedihkan adalah rusaknya jalan-jalan yang sudah ada
-- di luar. Jalan-jalan yang pada umumnya masih buruk di
propinsi ini. Seorang penduduk yang berhasil sampai di Banda
Aceh menuturkan perjalanannya dari Meulaboh menelan waktu 7
hari. Menurut ceritanya, jalur jalan Meulaboh-Banda Aceh harus
diperbaiki secara besar-besaran. Banyak jembatan roboh dan tak
sedikit badan jalan yang hilang dari permukaannya semula.

Walau tidak separah Aceh Barat, rumah-rumah penduduk di tepi
pantai di Kecamatan Sawang, Aceh Selatan, habis disapu pasang
laut. Untung penduduknya masih sempat menyelamatkan diri ke
bukit-bukit pinggir desa. Bupati Sukardi Is dalam laporan
langsungnya kepada TEMPO menyebut kerusakan memang tak begitu
berarti di Kota Tapaktuan, ibukota Aceh Selatan. Hanya, katanya,
atap rumah penduduk banyak diterbangkan angin. Air laut memang
menderu, tapi tak sampai menjilat bagian kota.

Hanya Sepeda

Menurut Bupati Sukardi, akibat yang segera terasa adalah
terhentinya denyut lalulintas. Jalan-jalan rusak. Kenderaan yang
masih dapat dipakai hanya sepeda. Premium dan minyak lampu
begitu pula bahan sandang mulai membubung. Bahkan mulai sulit
didapat. Tapi tak ada kekhawatiran kurang pangan sebab
kabupaten ini terkenal sebagai lumbung beras.

Jalan propinsi di Kabupaten Pidie hilang antara km 66 - km 73.
Sisanya terputus karena rusak berat. Beberapa rumah hanyut atau
rusak, 3 orang meninggal. Di sini tak ada bencana karena angin,
hanya banjir -- yang juga menimpa bagian-bagian wilayah ini
hampir setiap tahun. Akibatnya persediaan bahan-bahan pokok
mulai menipis. Sedangkan droping satu-satunya hanya mungkin
lewat udara.

Di Aceh Besar kerusakan terutama pada jalan-jalan penting. Tapi
korban meninggal 5 orang. Sementara itu Gubernur Muzakkir Walad
yang bulan ini harus meletakkan jabatannya, tampak sedih juga
melihat malapetaka di daerah yang akan ditinggalkannya. Tapi
diam-diam ia menyimak angka-angka korban yang masuk sebelum
diteruskan ke Jakarta. Rupanya ia khawatir ada angka yang
berlebih-lebihan untuk mendramatisir peristiwa itu.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data