Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/IIIIIIII/17 - 23 Juni 1978
   
Ekonomi dan Bisnis

Mainkan Terus

Perusahaan Heirekens (Belanda) menarik 2 manager di PT Perusahaan Bir Indonesia & mengirim 3 tenaga baru untuk bagian teknik. Pihak buruh setempat mengadu ke DPR & persoalan sampai ke tangan Depnaker. (eb)

AKHIRNYA dua manajer asing yang kontroversiil di PT Perusahaan
Bir Indonesia harus pergi. Keduanya -- F.G. Wolf (manajer
pemasaran) dan W. Dijkstra (manajer produksi) -- ditarik oleh
Heinekens, perusahaan Belanda yang memiliki 71% saham di PT PBI.
Semustinya kericuhan mengenai program Indonesiasi di perusahaan
itu sudah selesai. Ternyata belum.

FBSI (pihak buruh) setempat pada mulanya menuntut supaya masa
tugas Wolf dan Dijkstra diperpanjang tiga tahun lagi. Karena
mereka sudah bertugas 4 tahun di situ, pihak manajemen menimbang
bahwa mereka harus diganti oleh tenaga Indonesia. Tapi karena
tenaga pengganti Indonesia kurang populer, maka pihak buruh
lebih menyukai Wolf dan Dijkstra supaya dipertahankan. (TEMPO, 3
Juni). Ini ronde pertama. Angka buat manajemen.

Minggu lalu pihak buruh kembali mengadakan offensif. Sekali ini
mereka tidak menyebut lagi tentang Wolf aan Dijkstra, mungkin
karena Heinekens sendiri sudah memutuskan supaya keduanya
ditarik. Tapi mereka mengadu ke DPR bahwa pihak manajemen mau
mendatangkan tiga tenaga asing baru, hingga bertentangan dengan
program Indonesiasi. Lantas dua anggota DPR, yaitu Ketua fraksi
Karya Pembangunan Sugiarto dan anggota fraksi Demokrasi
Indonesia Santoso Donoseputro, mengeluarkan keterangan pers yang
mencela sikap manajemen. Ini ronde kedua. Angka buat buruh.

Tiga Akan Masuk

Sementara itu timbul kesan di luar bahwa pihak buruh mungkin
akan mogok jika penyelesaian tidak tercapai dengan pihak
manajemen. Persoalan ini sudah sampai ke tangan Depnaker yang
tegas tidak ingin melihat adanya pemogokan.

Mungkin karena tidak ada kepastian, banyak langganan bir Bintang
memperbesar pesanannya guna menjaga persediaan. PT PBI biasanya
sehari menghasilkan 6000 krat bir Bintang, yang semua terjual
selama heboh itu. "Distributor berlomba-lomba menyimpan stok,
hingga kami sering lembur," kata staf bagian produksinya.
Produksinya sudah terbesar di antara semua produsen bir di
Indonesia. Kini pabriknya di Tangerang dan Surabaya bekerja
penuh.

Kericuhan itu memang membangkitkan publisitas perusahaan. Tanpa
biaya adpertensi, penjualannya meningkat.

Manajemen mengakui bahwa 3 tenaga asing baru akan didatangkan
untuk bagian tehnik, yang tadinya kosong. Jadi walau 2 akan
keluar, 3 lagi akan masuk. Mainkan terus.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Boker Hidup Lagi! - 07 Jul 2008 | 02:27 WIB
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM - 07 Jul 2008 | 01:15 WIB
Pembantai Itu Hanya Diam - 07 Jul 2008 | 00:20 WIB
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang - 06 Jul 2008 | 21:56 WIB
Wakil Presiden Tutup Raimuna IX - 06 Jul 2008 | 21:39 WIB
God Save the Queen di Silverstone - 06 Jul 2008 | 21:01 WIB
Pemerintah Banyuwangi Alokasikan Biaya Berobat Keluarga Miskin - 06 Jul 2008 | 18:12 WIB
Mayoritas SD Negeri di Kabupaten Malang Belum Bersertifikat - 06 Jul 2008 | 18:10 WIB
Panwas Protes KPU Jawa Timur - 06 Jul 2008 | 18:08 WIB
Korban Lumpur Lapindo Banyak Yang Belum Ambil Bantuan Presiden - 06 Jul 2008 | 16:52 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data