Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 16/IIIIIIII/17 - 23 Juni 1978
   
Kota

Betul Juga, Banjir

Rencana kanalisasi sungai badung yang belum terlaksana & tidak adanya saluran pembuangan air ke laut, mengancam kota Denpasar terendam air. Hujan yang deras melumpuhkan kota, ketinggian air sampai 1 m. (kt)

SUDAH lebih setahun Pemda Kabupaten Badung menghimbau Pemda
Propinsi Bali agar realisasi kanalisasi Tukad (Sungai Badung
dipercepat. Sungai ini membelah dua Kota Denpasar, penuh sampah
dan dangkal. Lebih-lebih lagi Sungai Badung boleh dikata tak
punya muara. Sebab yang ada hanya kecil, tak seimbang dengan air
yang ada. Maka kekhawatiran pun sudah lama mengganggu warga
kota, sewaktu-waktu Denpasar akan digenangi air.

Betul juga. Dua pekan lalu -- meskipun menurut ramalan cuaca
waktu itu Bali berawan terang -- hujan turun dengan deras. Kota
Denpasar lumpuh karena air. Sebelah menyebelah Tukad Badung
diluapi air tinggi. Di bagian-bagian kota tertentu, air mencapai
1 meter di dalam rumah.

Termasuk juga di antaranya di Renon, wilayah baru yang menjadi
pusat pemerintahan. Kantor gubernur yang baru dan bertingkat
dengan arsitektur Bali memang tak apa-apa. Tapi kantor keuangan
yang menggunakan arsitektur modern (dan orang Bali menyebutnya
arsitektur aneh) juga ditelan air. Tak sedikit arsip rusak di
kantor ini.

Got-got belum berfungsi baik, di samping ada yang sedang dalam
perbaikan," kata seorang penjabat di Pemda Badung menuturkan
penyebab genangan air itu. Usaha perbaikan selama ini memang
ada, tapi biayanya tak pernah cukup. Sementara itu menurut Ketut
Nadia dari PU sadung," sudah saatnya Denpasar mendapat proyek
khusus penanggulangan banjir sebagaimana yang diberikan untuk
Jakarta." Apalagi, tambah Nadia, keadaan Kota Denpasar datar,
tidak ada saluran pembuangan air ke laut. Akan halnya Tukad
Badung sendiri minat Pemda Propinsi Bali bukannya tak ada.
Sebuah tim khusus dari DPRD Bali sudah lama repot mengurusi
rencana kanalisasi sungai itu. Tapi persoalannya tetap itu-itu
juga bagaimana mencari ganti rugi bagi tanah rakyat sekitar 5
hektar di sepanjang tepi sungai itu. Dan tentu pula biaya.

Perencanaan Kota

Lebih dari itu perencanaan Kota Denpasar dan daerah baru Renon
sendiri "seperti tidak memperhitungkan bahaya banjir." Ini
penilaian ir. Robi Sularto dari BIC Bali. Katanya, karena
Denpasar hampir datar dengan air laut setiap kali pasang naik,
semustinya perencanaan saluran sanitasi lebih dulu dimatangkan.
Karena itu, jangan heran kalau para pelancong sering mengeluh
kalau kebetulan datang ke kota ini sedang dalam keadaan
tergenang air.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pensiunan Gugat PT Telkom Indonesia Rp 56 Miliar - 25 Jul 2008 | 09:57 WIB
Kejaksaan Periksa Perusahaan Terkait Alat Tes Flu Burung - 25 Jul 2008 | 09:52 WIB
Penahanan dan Penggeledahan PT Pos Mendesak - 25 Jul 2008 | 09:46 WIB
Korban Taksi Maut di Jalan Tol Bertambah - 25 Jul 2008 | 09:18 WIB
Jamaah Haji Beresiko Tinggi Alami Gangguan Kesehatan Dapat Kartu Kendali - 25 Jul 2008 | 08:51 WIB
Indeks Diperkirakan Terus Melaju - 25 Jul 2008 | 08:37 WIB
Investasi di Kawasan Industri Kariangau Belum Capai Target - 25 Jul 2008 | 08:34 WIB
Waktu menonton Televisi menurunkan fungsi Retina Anak - 25 Jul 2008 | 08:28 WIB
Jakarta Cerah di Pagi Hari, Mendung Menjelang Sore - 25 Jul 2008 | 07:29 WIB
Pemerintah Paksa Pelanggan Bisnis Berhemat - 25 Jul 2008 | 01:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data