Citanduy Dan Banjir 25 Tahunan Pemerintah mendirikan proyek pengembangan wilayah sungai
citanduy pada thn 1968 yang mempunyai master plan
penanggulangan banjir 25 tahunan. Pengerjaan dilakukan dalam 3
tahap, tahap I selesai thn'81. (dh) |
KABUPATEN Ciamis bagian selatan merupakan daerah yang paling
sering terkena bencana banjir. Sebelum 1920, daerah bagian
selatan ini masih berupa rawa-rawa yang cukup luas. Selain rawa,
melewati daerdh itu ada sebuah sungai yang cukup panjang,
Citanduy dengan beberapa anak sungainya.
Tahun 1923 Bupati Tasikmalaya Wiratanuningrat mencoba menembus
daerah rawa-rawa Lakbok dan Rawa Biuk untuk dijadikan persawahan
dengan membuat tanggul-tanggul sepanjang Citanduy. Usaha ini
kemudian diteruskan dengan membuka daerah-daerah irigasi teknis
Rawa Onom, Ciputrahaji sampai Lakbok. Rawa-rawa sudah
direklamasi menjadi persawahan.
Jumlah penduduk yang menempati daerah itu makin meningkat
membentang sepanjang aliran Sungai Citanduy sepanjang lebih dari
80 km (dari Banjar sampai muara di Samudera Indonesia). Penduduk
yang tak kebagian tanah buat persawahan di lembah-lembah, mulai
menebang hlltan. Akibatnya merusak aliran sungai, erosi dan
sedimentasi, frekwensi dan debit banjir makin meningkat. Karena
sungai-sungai yang ada sekarang telah ditanggul, banjir menjadi
tidak merata dan terkonsentrasi padd daerah-daerah tertentu.
Karena kerusakan-kerusakan itu, tahun 1968 Pemerintah mendirikan
Proyek Pengembangan Wilayah Sungai Citanduy.
Proyek ini mempunyai master plan Penanggulangan Banjir 25
tahunan. Yaitu banjir yang mungkin berulang tiap 25 tahun
sekali. Seperti halnya banjir yang melanda Ciamis baru-baru
ini menurut Kepala Proyek ir Rachadjo termasuk dalam banjir 25
tahunan yang penanggulangannya masih dalam feasibility study."
Pengamanan
Tahap pertama dari master plan tadi adalah pengamanan lembah
Citanduy-Ciseel. Tahap pertama ini dikerjakan mulai 1969/1970
dengan membuat tanggul-tanggul. Tapi ternyata tanggul-tanggul
ini baru mampu menahan banjir tahunan. Dalam tahun anggaran
74/75 tanggul-tanggul tadi dirombak menjadi tanggul penahan
banjir sepuluh tahunan. Berikut tahun 76/77 ditingkatkan lagi
menjadi penahan banjir 25 tahunan. Pengerjaan pengendalian
banjir tahap pertama yang secara intensif dikerjakan mulai 1977
ini diharapkan selesai tahun 1981. Biaya yang tersedia berjumlah
US$12,5 juta berasal dari USAID Loan.
Dalam tahap ini akan dibuat sudetan sungai Ciseel yang semula
bermuara di km 15,460, dibelokkan sehingga bermuara di km
36,910. Berarti memperpendek muara sekitar 21 Km. Kelebihan
debit banjir di hulu dimasukkan ke tempat penampungan Wanareja
dengan 2 klep otomatis. Apabila muka air Citanduy turun, air
yang ditampung Wanareja melalui klep otomatis kembali mengalir
ke Citanduy. Jembatan kereta api no. 1452 bekerja sebagai pintu
yang mengendalikan debit banjir.
Di km 23,03 dibuat aliran ke dalam penampung banjir di
Nusawuluh. Selanjutnya ke pelimpah banjir rawa Cipanggang. Di
sebelah kiri dibuat saluran ke arah Segara Anakan. Untuk
mencegah air masuk kembali di muara lama Ciseel dibuat klep
otomatis. Dengan adanya sudetan dan pelimpah-pelimpah banjir,
diharapkan Muka Air (MA) Citanduy di daerah muara tidak lebih
dari + 2.00.
|