Biru Malam Masih Jalan Dirjen perhubungan darat di depan komisi V DPR menyatakan akan
memberhentikan operasi ka biru malam alasannya PJKA
memperhatikan pengembangan KA yang berkapisitas besar &
murah.(eb) |
PADA mulanya ia bernama Bintang Fajar, kemudian dirobah menjadi
Biru Malam yang seterusnya dikenal sebagai Bima. Berangkat dari
Jakarta-Kota jam 16.00, ia tiba di Surabaya keesokan paginya
sekitar 08.00. Sepanjang malam para penumpangnya bisa tidur
berbaring. Ia tadinya sengaja dihadirkan untuk memenuhi
permintaan masyarakat akan angkutan kereta-api yang
menyenangkan. Untuk mereka yang mampu. Kini harga tiketnya Rp
12.100 untuk kelas utama dan Rp 8.600 untuk kelas ekonomi.
Selain itu ada pula tarif -- lebih rendah -- khusus untuk mereka
yang turun di pertengahan jalan seperti Cirebon dan Surakarta.
Dari 124 tempat duduk/tidur yang tersedia, rata-rata 90% terisi
tiap bulan.
Jelas KA Bima ini masih disukai. Tapi mendadak Dirjen
Perhubungan Darat, Sumpono Bajuadji, mengungkapkan di Komisi V
DPR bahwa Bima akan dihapus. Alasannya: Pendekatan sekarang ini
ialah pada perbaikan jenis kereta-api (kelas II dan III) yang
bertarif relatif rendah.
Tampak bahwa PJKA memperhatikan pengembangan rangkaian
kereta-api yang berkapasitas besar seperti KA Mutiara dan KA
Senja (312 s/d 416 penumpang). Tapi kenapa KA Bima yang bergerak
lancar selama lebih 10 tahun akan harus ditiadakan, para pejabat
Departemen Perhubungan sendiri rupanya bingung. Apalagi belum
kelihatan bahwa ia merugikan PJKA.
Reaksi para anggota DPR sendiri rupanya cenderung
mempertahankannya. Jika tiket KA Bima dinaikkan lagi, demikian
tanggapan orang, akan tetap ada golongan mampu yang
membutuhkannya. Toh orang memandangnya lebih aman ketimbang naik
bis-malam yang ber-AC. Kaum bisnis yang tidak terlalu
tergesa-gesa akan lebih senang bepergian dengan KA Bima
ketimbang membayar tiket Garuda yang Rp 23.000 untuk
Jakarta-Surabaya.
Deperhub rupanya menyadari juga hal ini, sesudah direnungkannya
kembali, hingga akhir minggu lalu dikeluarkannya penjelasan:
"Pengoperasian KA Bima tetap dijalankan sejauh masih diminta
pengadaannya oleh masyarakat dan masih tersedia sarananya."
Dengan kata lain, tergantung pada permintaan pasar.
|