Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/IIIIIIII/25 November - 01 Desember 1978
   
Daerah

Mendadak Ramai, Karena Nikel

Jumlah penduduk Soroako naik berlipat ganda. Selain tenaga kerja pada PT Inco, datang pula pedagang, penjahit & penjual jasa lain. PT Inco menyediakan listrik & rumah yang bisa dicicil oleh karyawannya.

DIBUKANYA penambangan nikel di Soroako (Sulawesi) membuat kota
kecil di tepi Danau Matano itu berkembang agak pesat. Tahun 1969
penghuninya hanya 700, sekarang berlipat menjadi 6200 orang.
Empat ribu orang di antaranya sengaja datang menjual tenaga pada
PT INCO yang mengusahakan penambangan. Sisanya mengikuti arus.
Ada pedagang, penjahit, tukang cukur dan macam-macam lagi.

Sebenarnya bukan hanya Soroako yang kebagian tuah dari usaha
penambangan yang akan menghasilkan 45.000 ton nikel pertahun
itu. Tapi juga beberapa daerah yang bertebar puluhan kilometer
dari daerah penambangan. Pada tahun 1973 ketika Soroako mulai
ramai didatangi orang, Desa Wawondula (30 km di pedalaman), baru
ditempati beberapa orang penduduk asli. Sekarang sudah dihuni
3200 orang. Sekitar 1000 di antaranya bekerja di proyek
penambangan. Begitu pun desa Wasuponda, dari sebuah desa yang
lengang sekarang benar-benar sudah hidup. "Yang amat menarik,
87% dari penduduk desa yang mendadak jadi ramai ini, berumur di
bawah 35 tahun," kata Christopher J. Dagg, bekas diplomat asal
Kanada yang mengepalai bagian pengembangan daerah dari INCO.

Yang dilakukan perusahaan tambang nikel untuk Desa Wawondula dan
Wasuponda benar-benar merupakan pekerjaan membangun kota baru.
Untuk dua desa itu perusahaan tadi sudah mengeluarkan biaya
sebesar $ 1,8 juta meliputi pembangunan sekolah, penyediaan air
dan balai pengobatan. Untuk pembangunan perumahan saja sudah $
1,5 juta yang dikeluarkan.

Rumah-rumah panggung yang didirikan INCO itu ada yang berharga
Rp 200.000 sampai Rp 11 juta dan boleh dibeli dengan mencicii
oleh karyawan. Penduduk yang bukan karyawan belum dapat
kesempatan membeli rumah panggung itu, tapi mereka sudah boleh
mencicipi listrik yang disumbangkan perusahaan tersebut sebesar
5 MW. Tenaga listrik itu datang dari Pusat Listrik Tenaga Air di
Lamingko dengan memanfaatkan arus air Sungai Larona. PLTA yang
berkapasitas 165 MW itu pertengahan Nopember ini diresmikan
Menteri Pertambangan dan Energi, Subroto.

Kota Nikel yang terletak berdampingan dengan Soroako, di mana
berpusat seluruh kegiatan administratif penambangan merupakan
sebuah kota kecil dengan gaya khas. Di sini berdiam tenaga asing
dan tenaga teras bangsa Indonesia. Kota ini memiliki rumahsakit
dan sekolah untuk anak-anak orang asing maupun khusus untuk anak
karyawan Indonesia. Ada balai pertemuan dan ada toko serba-ada
yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang memegang kartu
karyawan.

Faktor kedudukan menentukan boleh tidaknya seorang menikmati
fasilitas di kota yang disejukkan dengan AC itu. Karyawan biasa,
seperti sopir atau tenaga kasar dalam pekerjaan penambangan
tidak bisa berbelanja di semua toko di situ. Juga, tak bisa
menyekolahkan anaknya di sana, meskipun ia penduduk asli dan
bekerja sejak eksplorasi dilaksanakan hampir sepuluh tahun yang
lalu.

"Suami saya bekerja sejak ekpolorasi. Meskipun kami tidak dapat
perumahan di Kota Nikel no problem .... Yang sangat berat adalah
soal pendidikan. Kami bisa menyekolahkan anak kami sampai SMP,
tapi proyek tidak mau menerima," keluh Nyonya Tene yang tinggal
di sebuah rumah panggung menghadap Danau Matano.

Pihak INCO punya alasan untuk membuat perbedaan kesempatan
antara karyawan bawah dan yang lebih tinggi. "Soalnya kalau
semua diterima sekolah di sini, siapa lagi yang mengisi bangku
sekolah pemerintah?" jawab Benny Wahyu, seorang insinyur yang
mengurusi hubungan kemasyarakatan PT INCO.

Betapapun, anak Nyonya Tene yang umurnya sudah 15 tahun itu, dua
tahun ini menganggur. SMP lain di luar yang ada di kota Nikel,
paling dekat ada di Wawondula berjarak 30 Km. Kalau Nyonya Tene
menyekolah kan anaknya ke sana, itu artinya ia harus menyediakan
ongkos bagi si anak Rp 600 sehari. Gaji suaminya hanya Rp 35
ribu sebulan.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Gusti Randa Batal jadi Calon Walikota Padang - 25 Jul 2008 | 19:25 WIB
Omset Bisnis 'Esek-esek 'di Internet US$ 3 Juta Per Detik - 25 Jul 2008 | 19:15 WIB
Listrik Byar-Pet Alat Penyimpanan Darah Gampang Rusak - 25 Jul 2008 | 19:07 WIB
Angkutan Berat Di Jawa Barat akan Ditertibkan - 25 Jul 2008 | 19:00 WIB
Ketokohan Soekarwo dan Gus Ipul, Pemicu Kemenangan Kar-Sa - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Pemakaman di Hari Kelahiran - 25 Jul 2008 | 18:59 WIB
Duta Besar Inggris Lakukan Penghijauan di SMA Khadijah - 25 Jul 2008 | 18:43 WIB
Dua Desa di Parigi Terendam Banjir - 25 Jul 2008 | 18:41 WIB
Meski Kemarau, Kalimantan Tengah Diguyur Hujan - 25 Jul 2008 | 18:33 WIB
BPK Puas pada Laporan Keuangan Badan Intelijen - 25 Jul 2008 | 18:31 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data