Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 46/IIIIIIII/13 - 19 Januari 1979
   
Daerah

Setelah Sumatera, Jawa Siap-siap

Banjir telah melanda Aceh, Riau dan Jambi. Banjir ini diakibatkan oleh penebangan hutan & curah hujan yang besar. Di Jambi hubungan darat terputus.(dh)

MUSIM angin pasang timur yang berlangsung dari Nopember lalu
sampai April mendatang akan meninggalkan banyak kesan. Seperti
dikatakan Menteri Pekerjaan Umum Purnomosidi Hajisarosa,
akibatnya pun berupa banjir masih akan berkepanjangan. Setelah
Aceh, Riau dan Jambi giliran selanjutnya diperkirakan adalah
daerah-daerah di pantai utara Pulau Jawa.

Daerah-daerah pantai utara Jawa itu dikenal sebagai penghasil
60% produksi pangan nasional. Kegawatan dikawatirkan bisa
terjadi. Tapi seperti dikatakan Menteri Purnomosidi pula, para
petugas sudah disiapkan. Terutama di daerah aliran Sungai
Cimanuk, Pemali dan Comal.

Sungguhpun begitu cerita banjir dari Sumatera belum sepenuhnya
reda. Khususnya Aceh dan Jambi.

Aceh

Banjir di sini berlangsung dua pekan terakhir ujung 1978 lalu.
Yang terutama menderita dua daerah tingkat dua: Kotamadya Banda
Aceh dan Kabupaten Aceh Besar.

Di Banda Aceh aspal jalan mengelupas sepanjang 20 kilometer.
Beberapa rattls meter tanggul Sungai Aceh ambrol. Begitupun
sebuah jembatan di Desa Peuniti. Mencatat kerusakan itu semua
Walikota drs Jakfar Ahmad MA sampai pada kesimpulan angka
kerugian Rp 300 juta.

Di Kabupaten Aceh Besar kerugian lebih besar. Sebab daerahnya
lebih luas Tercatatlah 6000 hektar sawah tergenang air. Separo
areal itu dinyatakan musnah sama sekali. Jalan yang rusak
meliputi jalan propinsi dan jalan kabupaten. Seluruhnya I00
kilometer. Sehingga di daerah yang terkenal masih langka jalan
yang baik itu, akan lebih menderita. Rumah yang hanyut 25 buah,
sementara jembatan yang ambruk 14 buah. Tidak terhitung jumlah
hewan hanyut yang sampai dua pekan lalu masih belum jelas
datanya, kerugian tadi menurut Bupati Bachtiar Panglima Polem
bernilai Rp 1,4 milyar.

Banjir di Aceh menurut kalangan pejabat maupun masyarakat
setempat di nilai lebih hebat dari banjir Juli, 5 bulan
sebelumnya. Sekalipun sungai yang meluap cuma Sungai Aceh. Akan
halnya Sungai Daroy yang tepi kiri kanannya banyak dihuni
penduduk sekali ini tenang-tenang saja.

Sungai Aceh meluap memang karena banyak hujan hari-hari terakhir
1978 itu. Tapi tak dapat dihindari pula pendapat karena hutan
seluas 64 ribu hektar di kawasan Aceh Besar gundul. Sebab ketika
air surut lumpur berwarna kuning kemerahan mengental sampai
puluhan centimeter tingginya di rumah rumah penduduk. Dan itu
seperti dikatakan penduduk di Kecamatan Indra puri "seperti
tanah gunung di Seulawah." Tapi pendapat ini dibantah. "Hujan
deras sepanjang akhir tahun ini bisa saja menjadi sumber banjir,
seperti halnya di banyak daerah lain," kata seorang staf Dinas
Kehutanan Aceh.

Sementara petugas Dinas Kehutanan Aceh membantah hutan gundul
sebagai penyebab banjir, di Riau justru Gubernur Soebrantas
sendiri mengesankan hal itu. Ini katanya sehubungan dengan
praktek penebangan kayu oleh pihak-pihak tertentu yang
semata-mata hanya mengandalkan keuntungan tanpa memperhatikan
kelestarian lingkungan. Sampai-sampai ia meminta agar Dinas
Kehutanan benar-benar "mempunyai kemauan dan kemampuan menjaga
kelestarian hutan-hutan tadi."

Banjir di Riau juga terjadi di penghujung tahun lewat (TEMPO,
30 Desember 1978). Akibatnya 2000 hektar sawah rusak, ribuan
ternak mati, 1500 bangunan termasuk rumah, tempat ibadah maupun
sekolah berantakan. Jalanjalan tak terkecuali. Alhasil untuk
perbaikan keseluruhannya menurut Gubernur Riau memerlukan biaya
Rp 2,8 milyar.

Petugas Dinas Kehutanan di Aceh boleh saja mengelak. Tetapi
rakyat Jambi pun menuding hal serupa sehubungan dengan banjir
yang terjadi di beberapa tempat di propinsi ini di akhir tahun
yang sama. Banyak hutan gundul di ambi akibat penebangan baik
oleh pengusaha pemilik konsesi maupun oleh pihak lain dalam
hubungan transmigrasi dan penebangan rakyat.

Meskipun begitu petugas dinas m tcorologi Jambi mengatakan
bahwa curah hujan 1978 memang lebih besar dibanding 5 tahun
sebelumnya. Tapi diakui banjir di Jambi mungkin juga karena
dangkalnya sungai Batanghari, kecuali di sekitar kolam pelabuhan
dan Amban luar yang sering dikeruk. Tak heran tinggi air di
sungai itu rata-rata naik 15 CM tiap hari sejak minggu ketiga
Desember.

Sampai-sampai administrator pelabuhan Jambi buru-buru
mengumumkan agar kantor-kantor di wilayahnya mengamankan dokumen
dan menyediakan alat pengaman secepat mungkin.

Tahun I955 Jambi mengalami banjir dalam ukuran cukup parah.
Dikawatirkan keparahan itu terulang lagi. Yang jelas hubungan
darat Jambi-Muara Bungo dan Jambi-Bangko sudah putus sejak awal
Desember. Itulah sebabnya harga saur-sayuran naik sampai
rata-rata 100%.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Boker Hidup Lagi! - 07 Jul 2008 | 02:27 WIB
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM - 07 Jul 2008 | 01:15 WIB
Pembantai Itu Hanya Diam - 07 Jul 2008 | 00:20 WIB
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang - 06 Jul 2008 | 21:56 WIB
Wakil Presiden Tutup Raimuna IX - 06 Jul 2008 | 21:39 WIB
God Save the Queen di Silverstone - 06 Jul 2008 | 21:01 WIB
Pemerintah Banyuwangi Alokasikan Biaya Berobat Keluarga Miskin - 06 Jul 2008 | 18:12 WIB
Mayoritas SD Negeri di Kabupaten Malang Belum Bersertifikat - 06 Jul 2008 | 18:10 WIB
Panwas Protes KPU Jawa Timur - 06 Jul 2008 | 18:08 WIB
Korban Lumpur Lapindo Banyak Yang Belum Ambil Bantuan Presiden - 06 Jul 2008 | 16:52 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data