Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 02/XIIIIII/08 - 14 Maret 1986
   
Nasional

PHK "Model BNI"

Sekitar 600 karyawan BNI 1946 di kantor pusat akan dirumahkan. Secara bertahap mereka akan disalurkan ke lembaga-lembaga lain. Komputerisasi salah satu penyebabnya. M. Chriskaligis menyanggah ada PHK.(nas)

BERWAJAH ketat, lebih dari lazimnya, dengan handy-talky di
tangan, dan borgol di saku celana, para Satpam berserakan
bersiaga menjaga semua pojok vital menjelang pintu masuk.
Itulah, pemandangan seru, di kantor BNI 1946 Pusat, Jalan Lada,
Jakarta Kota, Senin siang pekan ini.

Selama 30 menit lebih, sejak pukul 14.00, memang ada brifing.
Isinya: sampai akhir Maret ini, Direksi akan merumahkan sekitar
600 dari 2.500 karyawan kantor pusat lembaga keuangan terbesar
pemerintah itu. Penjelasan yang menciutkan hati itu disampaikan
secara serentak di semua divisi dan bagian oleh atasan unit
masing-masing. Di Divisi Umum saja, misalnya, terhitung 10
Maret, sekitar 100 orang, menurut bunyi surat resminya,
"dibebaskan dari kewajiban untuk hadir di kantor".

Menurut surat pemberitahuan yang ditandatangani Kepala Divisi
Umum Hartoko Tjokrojudo tanggal 1 Maret, upaya merumahkan
karyawan ini berpangkal pada SK Direksi No. KP/051/DIR/R tanggal
21 Februari 1986. Intinya: Mereka yang dirumahkan tetap mendapat
hak seperti gaji, dan berkewajiban menjaga hal-hal yang
menyangkut rahasia bank. Dalam setahun, Direksi akan
mengusahakan penempatan kembali para karyawan yang dirumahkan
ini. Misalnya, disalurkan di pusat-pusat pelayanan listrik dan
telepon yang baru, di kantor-kantor kas/cabang yang juga baru,
atau anak perusahaan yang kelak akan dibentuk. Bagi yang
bersedia berhenti atas permintaan sendiri, diberikan imbalan
yang memadai, tanpa mengurangi hak pensiun.

Langkah merampingkan jumlah karyawan ini, agaknya, tak
terelakkan lagi. Meski gemuk dengan kekayaan Rp 8,5 trilyun,
bank itu terseok menggendong beban hampir 12.900 karyawan.
Deregulasi perbankan Juni 1983, yang membebaskan bank pemerintah
menentukan sendiri tingkat bunga deposito, dan menghapuskan pagu
kredit, menyebabkan BNI 1946 menghadapi kenyataan buram. Yakni,
biaya naik, tapi laba turun. Dari laba Rp 92 milyar pada 1984,
jadi Rp 36 milyar pada 1985.

Tapi laba yang merosot itu, agaknya, bukanlah satu-satunya
penyebab perlunya menciutkan pegawai. BNI 1946 sendiri mulai
melaksanakan komputerisasi, untuk mempercepat pelayanan dan juga
efisiensi.

Komputerisasi ini, dalam rencana delapan tahun, mengakibatkan
BNI 1946 kelebihan 1.500 karyawan. Akibatnya, "Kami tidak
menutup kemungkinan adanya pemutusan hubungan kerja," kata
Direktur Utama BNI 1946 Somala Wiria. (TEMPO 15 Februari 1986).

Seorang pensiunan Direksi BNI 1946, yang enggan disebut namanya,
mengatakan tindakan efisiensi seharusnya sudah dilaksanakan 12
tahun silam. Jadi, jauh sebelum ada deregulasi Juni 1983. Dengan
Surat Edaran No. SE/010/Dir tanggal 4 Maret 1974 Direksi kala
itu mencanangkan: perlu ditingkatkan pendayagunaan pegawai, dan
kemungkinan merumahkan karyawan. Sehingga, bagi pensiunan
Direksi ini, adalah aneh, "Mengapa beberapa tahun terakhir ini
tetap menerima pegawai baru, dengan akibat seperti sekarang,
ratusan karyawan terancam PHK."

Benarkah? Dirut Somala Wiria, Senin pekan ini, tak masuk kantor.
"Bapak sakit," ujar seorang staf sekretarisnya. Yang jelas
menurut M. Chris Kaligis, Kepala Bagian Humas, tidak benar ada
PHK. Brifing yang dijaga ketat Satpam itu, katanya, "Hanya soal
reorganisasi biasa, dan pembagian tugas-tugas baru."


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta - 24 Jul 2008 | 07:27 WIB
Polisi Akses 160 CCTV Obyek Vital Ibukota - 24 Jul 2008 | 00:15 WIB
Suara NU ke Karsa, Perempuan ke Kaji - 23 Jul 2008 | 21:45 WIB
Pasangan Karsa Langsung Lakukan Konsolidasi - 23 Jul 2008 | 21:35 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data