Lemuru, Di Mana Kamu? Sejumblah pabrik pengalengan ikan di muncar, ja-tim dan bali
sedang suram. pasalnya, ikan lemuru sulit didapat. nelayan pun
terpukul, meski harganya menjadi mahal. untung belum ada phk. |
LUASNYA laut, ternyata, belum menjamin perusahaan pengalengan
ikan (canning) memperoleh suplai ikan dalam jumlah cukup.
Buktinya, pekan lalu, lima pabrik pangalengan ikan di Bali
menjerit sulit mendapatkan ikan lemuru (oil sardine) untuk
pembuatan sarden -- hingga kebanyakan dari mereka kini hanya
bekerja 20%. "Kadang kami malah hanya bekerja satu atau dua hari
dalam sebulan," kata seorang staf Bali Maya Permai.
Kesulitan itu sesungguhnya mulai terasa benar sejak Januari
lalu. Menjelang berakhirnya musim angin barat itu seluruh ikan
yang masuk ke tempat pelelangan ikan (TPI) Pengambengan tercatat
hanya 778 ton, dan di bulan-bulan berikutnya turun jadi 500 ton,
hingga di bulan Juni tinggal 297 ton. Dari jumlah itu, ikan
lemurunya sekitar 90%.
Secara keseluruhan memang, dua tahun terakhir ini, produksi
lemuru dari perairan Bali cenderung merosot. Pada 1984, lemuru
yang bisa diangkat masih 34.562 ton, tapi setahun kemudian turun
jadi 22.235 ton. Dan pada kuartal pertama ini hanya sekitar
1.800 ton. Menurut dugaan Anak Agung Gde Harmoni, Kepala Dinas
Perikanan Bali, penurunan produksi mungkin disebabkan perubahan
musim. Karena itu, Harmoni menganjurkan agar pengusaha, "Tak
semata bergantung pada lemuru, jadi perlu diversifikasi."
Ekonomis tidaknya menggantikan lemuru, jelas, hanya pengusaha
yang tahu. Yang sudah pasti, harga ikan itu di Bali, karena
banyak peminat di tengah menipisnya suplai, kini sudah bergerak
dari harga normal Rp 150-Rp 200, jadi sekitar Rp 575 per kg.
Toh, pengusaha tetap menubruknya. "Yah, terpaksa, daripada
pabrik berhenti," kan Yustinus Guiso, pimpinan Bali Raya.
Nelayan sendiri tidak gembira melihat keadaan itu, sekalipun
menurunnya hasil tangkapan itu bisa dikompensasikan dengan
kenaikan harga. Lihat saja, dari kebutuhan empat pabrik
pengalengan di Pengambengan yang 300 ton sehari, mereka hanya
bisa memenuhi 10 ton. Karena suplai ikan anjlok, maka perusahaan
seperti Bali Raya kini hanya mampu menghasilkan sarden satu
sampai lima ton sehari -- padahal kapasitas terpasang mesinnya
40 ton.
Karena suplai ikan jatuh, pabrik pukul rata hanya bekerja 10
hari sebulan. Ikan kalengan yang bisa dihasilkannya juga turun,
tidak sesuai lagi dengan desain mesin, yang dibuat berkapasitas
20 ton. "Kalau bisa bekerja sampai 10 ton sehari sudah bagus,"
kata seorang staf Bali Raya.
Enam pabrik pengalengan di Muncar, Jawa Timur, seberang
Gilimanuk (Bali) kabarnya juga menghadapi kelangkaan suplai
lemuru kendati di sini di masa normal jumlah lemuru yang masuk
per tahun bisa 12 ribu ton. Menurut taksiran seorang ahli,
kebutuhan lemuru harian di Muncar tercatat 300 sampai 400 ton.
Sekitar 120 ton di antaranya diserap pabrik pengalengan, 50 ton
diasapkan, 60 ton diasinkan dan 100 sampai 200 ton untuk pabrik
pemroses makanan ikan.
Usaha memperbanyak tangkapan ikan sebenarnya sudah dilakukan
para nelayan dengan memperkenalkan jaring kapal purse seiner,
yang mampu menangkap lebih banyak dibandingkan dengan gill net.
Di perairan sekitar Bali itu, termasuk di Selat Bali, kini
beroperasi 300 purse seiner -- dan 170 di antaranya berpangkalan
di Muncar.
Namun, jumlah ikan yang masuk Muncar tahun 1984 lalu, tetap
anjlok ke angka 9,7 ribu ton -- sebelumnya bisa 11 ribu ton.
"Siapa yang menyangka ikan yang dulu banyak sekarang mendadak
seperti hilang," kata Hardy Atmadjaja, pimpinan Blambangan Raya,
pengalengan ikan di Banyuwangi.
Dalam keadaan seperti itu, sejumlah pabrik tetap berusaha tidak
sampai memecat karyawannya. Hanya saja, karena penghasilan
perusahaan turun, apa boleh buat, gaji mareka lalu disunat.
Seorang karyawan Bali Raya, yang dulu menerima upah harian Rp
2.000, sekarang hanya diberi Rp 1.300. "Bahkan ada yang cuma
dapat Rp 700," katanya, sambil sembunyi-sembunyi. Ketika
diingatkan perusahaan sedang mengalami kesulitan, dia malah
menjawab, "Lho, itu 'kan sudah risiko pengusaha."
E.H. Laporan Jalil Hakim dan I Nengah Weja (Biro Ja-Tim)
|