Mihun Bakso Dan Mogok Di Solo Pekan olah raga atlet cacat kawasan timur jauh, meliputi asia
dan pasifik selatan (fespic games) iv diwarnai pemogokan
atlet-altet indonesia, karena kecewa dengan fasilitas yang
tersedia. (or) |
PEKAN olah raga atlet-atlet cacat kawasan Timur Jauh ternyata
harus berakhir dengan cerita tak sedap. Bukan saja karena
turunnya hujan deras yang merusakkan acara penutupan yang
dilakukan Menpora Abdul Gafur, Minggu sore pekan lalu di Stadion
Sriwedari, Solo. Tapi karena sebelumnya, acara lomba yang
diikuti 600 atlet lebih dari 22 negara -- dan dibuka oleh
Presiden Soeharto -- itu sempat dihebohkan oleh aksi mogok
atlet-atlet tuan rumah.
Aksi ini berlangsung hanya sekitar beberapa jam, Jumat minggu
lalu. Lebih dari 130 atlet yang mewakili Indonesia di 12 cabang
olah raga menolak berangkat ke stadion untuk bertanding. Soalnya
sepele. Mereka kecewa dengan fasilitas yang tersedia. Mulai soal
sepatu spike (sepatu khusus atletik). Lalu, soal makanan. "Masa,
makan siang kami hanya diberikan bakso, dengan mihun," gerutu
Yan Soebhiyanto, 31. Atlet asal Mojokerto, Jawa Timur, yang
buntung tangannya ini, (ia ikut dalam nomor lari, lompat, serta
lempar) salah satu atlet yang ikut mogok itu. "Selama seminggu
bertanding, kok, kami hanya diberi uang saku "Rp 15.000" omel
Memet Lesmana, salah seorang atlet lainnya.
Sebelum mogok, para atlet itu sebenarnya sudah mengirim utusan,
di antaranya Memet Lesmana tadi, untuk berunding dengan pimpinan
kontingen. Tapi, utusan itu tak bertemu dengan Ketua Kontingen
Suwarso Rubriq. Maka, kasus yang menampar kubu tuan rumah itu
pun terjadi: para atletnya mogok tak mau bertanding. Hanya
berkat campur tangan beberapa sesepuh Yayasan Pembina Olah Raga
Cacat (YPOC), seperti Pairan Manurung, kasus mogok itu akhirnya
bisa diselesaikan dan para atlet pun kemudian kembali
bertanding.
Toh, pekan olah raga atlet cacat kawasan Timur Jauh, meliputi
Asia dan Pasifik Selatan (FESPIC Games) IV itu jadi sedikit
bernoda. Sebab, inilah pertama kali dalam sejarah FESPIC (Far
Eastern Sports for Paraplegics International Confederation)
Games yang dlmulai di Jepang pada 1975 lalu, ada atletnya yang
mogok. Celakanya lagi, mereka adalah atlet tuan rumah. Hal yang
mengisyaratkan terjadinya sesuatu dalam pengurusan atlet itu.
Padahal, berlangsung dua tahun sekah, lomba antara penderita
cacat (amputasi, tunanetra, paraplegia, dan cerebralpalsy) itu,
sesungguhnya diselenggarakan dengan maksud menerbitkan
kegembiraan buat mereka. Baru setelah itu, akhirnya prestasi.
Dengan niat itu juga, antara lain, pemerintah, kendati harus
mengeluarkan dana Rp 1 milyar lebih, bersedia jadi tuan rumah.
Tapi itulah. Seperti diceritakan beberapa atlet lain pada TEMPO,
selama kejuaraan mereka merasa kurang dihargai. Atau malah
seperti didiskriminasikan dalam pelbagai hal. Misalnya, tampak
beda yang mencolok antara menu yang disuguhkan buat atlet tamu
dan makanan yang mereka terima. Belum lagi soal pakaian dan
alat-alat. Semua itu makin menambah rasa tak puas karena
minimnya honor seperti yang tadi sudah disebutkan. "Terus terang
saja, banyak teman yang sudah berkeluarga. Mereka 'kan ingin
membawa oleh-oleh sepulang dari sini. Dengan uang saku Rp 15.000
bisa dapat apa?" kata Memet Lesmana, atlet yang juga buntung
tangannya.
Betulkah para atlet itu didiskrimasikan dan honor yang begitu
kecil? Ketua Kontingen Indonesia Suwarso Rubriq, 48, yang jadi
sasaran protes para atlet itu, membantahnya. "Sungguh saya ini
celaka. Bermaksud menolong, malah jadi sasaran," kata penilik
sebuah SD yang juga jadi pegawai di Departemen P & K Solo itu,
masygul.
Menurut dia, dana untuk kontingen Indonesia sebenarnya sudah
diatur rapi. Besarnya sekitar Rp 87 juta. Dalam SK disebutkan
pemberiannya dilakukan: Rp 30.000 untuk uang saku bagi tiap
atlet untuk setiap TC. Dibagikan dua kali untuk dua gelombang.
Pertama untuk TC I dari 6-26 Juni sekitar 225 atlet cacat itu
memang sudah disiapkan sejak bulan itu. Lalu TC II yang
dilakukan selama seminggu menjelang kejuaraan dimulai. Total,
para atlet masing-masing akan menerima Rp 60.000. Dan tak akan
ada honor tambahan, selama dan setelah pertandingan selesai.
Namun, karena prestasi para atlet bagus karena bisa menjadi
pengumpul medali emas terbanyak kedua, setelah Australia --
menurut Suwarso, dia dan bendahara berunding dan kemudian
memutuskan untuk memberikan insentif Rp 15.000 orang. Tapi
putusan ini rupanya jadi sumbu yang meledakkan aksi itu. Sebab,
para atlet jadi salah mengerti. "Di TC dapat masing-masing Rp
30.000, kok, setelah main dan menang cuma dapat Rp 15.000,"
cerita Suwarso lagi.
Tak heran, begitu mendengar pelbagai pengaduan para atlet,
Pairan Manurung, Ketua I YPOC, sempat tertegun dan akhirnya
menangis karena haru. "Untunglah anak-anak setelah saya jelaskan
posisi kita sebagai tuan rumah dan janji akan menyelesaikan
kasus itu, akhirnya mau mendengar dan kembali bertanding," ujar
Manurung. Kasus ini belakangan diselesaikan, dan para atlet
mendapatkan tambahan insentif uang saku, selain yang Rp 15.000
tadi, sebanyak Rp 30.000 per orang.
Cukup pantas. Sebab, meskipun sempat buat malu, kontingen atlet
cacat kita itu cukup berprestasi. Bisa mengumpulkan 75 emas, 104
perak, dan 28 perunggu. Hanya setingkat di bawah juara umum
Australia yang mengumpulkan 104 emas, 44 perak, 28 perunggu.
Posisi ini meningkat tajam dari kedudukan sebagai peringkat ke-7
di FESPIC Games III di Hong Kong, 1984. Prestasi mereka ini
bahkan belum pernah bisa dicetak oleh atlet kita yang normal,
kendati yang terakhir ini mendapat fasilitas dan juga honor,
yang boleh jadi lebih besar.
M.S., Laporan Kastoyo Ramelan (Solo)
|