Hari-hari terakhir belanda di ... New york : cornell university, 1986 resensi oleh: alfian. (bk) |
PRISONERS AT KOTA CANE
Oleh: Leon Salim
Diterjemahkan oleh: Audrey R. Kahin, Ithaca
Penerbit: New York, Modern Indonesia Project, Cornell
University, 1986, 112 halaman
PENGETAHUAN kita tentang hari-hari terakhir kekuasaan kolonial
Belanda di Indonesia menghadapi serbuan Jepang amatlah terbatas.
Literatur tentang itu sangat langka. Meskipun panglima tentara
Belanda untuk Indonesia, Letnan Jenderal Hein Ter Poorten, telah
menyerah kepada Jepang di Kalijati pada tanggal 9 Maret 1942,
hal itu belum merupakan akhir kekuasaan efektif Belanda di
Nusantara ini. Di Sumatera, sebagian penting kekuatan militer
Belanda masih bertahan sekitar tiga minggu lagi sebelum bertekuk
lutut pada tanggal 28 Maret 1942.
Keinginan penguasa kolonial setempat untuk terus mempertahankan
Sumatera setelah Jawa jatuh dan menyerah telah menimbulkan
suasana kemelut atau krisis yang terus meningkat ketegangannya.
Di Padangpanjang, kota kecil yang terletak di pusat alam
Minangkabau, kemelut tersebut semakin menjadi-jadi setelah
rakyat banyak tahu dari mulut ke mulut tentang rencana Belanda
untuk melakukan "bumi hangus" dalam menghadapi serbuan tentara
Jepang. Hal itu telah menimbulkan kecemasan yang luar biasa,
yang sekaligus juga memperkuat rasa persatuan dan kesatuan di
dalam masyarakat. Tokoh-tokoh pejuang nasionalis berusia muda
yang masa itu banyak bergerak di bawah tanah melihat kemelut ini
sebagai kesempatan untuk memerdekakan bangsanya dari penjajahan
kolonial. Mereka menggerakkan massa. Di Padangpanjang, otak
gerakan baru ini adalah Chatib Sulaiman dan Leon Salim. Mereka
berdua adalah aktivis Pendidikan Nasional Indonesia (PNI) dan
oleh karena itu merupakan kader atau pengikut militan dari Hatta
dan Sjahrir.
Sejalan dengan pemikiran dan garis politik Hatta-Sjahrir, Chatib
Sulaiman dan Leon Salim ingin mengusir kolonialisme Belanda,
dan pada waktu yang sama juga mengobarkan semangat
antimiliterisme Jepang. Oleh karena itu, kemelut yang terjadi
pada waktu itu mereka lihat sebagai peluang untuk memerdekakan
diri, yaitu merebut kekuasaan dari tangan penguasa Belanda
sebelum tentara Jepang memasuki wilayah tempat mereka
berpengaruh, Minangkabau. Dalam waktu yang relatif pendek,
mereka bersama sejumlah tokoh muda lain dari berbagai aliran
politik berhasil menyusun kekuatan yang bergerak menuju tujuan
memerdekakan diri itu. Puncak gerakan itu ialah demonstrasi
besar yang direncanakan akan terjadi di beberapa tempat pada
tanggal 12 Maret 1942. Menurut Leon Salim (pada waktu itu
berumur 30 tahun), ada dua hal penting yang ingin dicapai dengan
demonstrasi itu, yaitu: (1) menuntut penyerahan kekuasaan dari
pemerintah kolonial ke tangan rakyat Indonesia, dan (2)
menentang rencana "bumi hangus" Belanda dalam melawan serbuan
tentara Jepang.
Tetapi, pada pagi hari tanggal 12 Maret yang bersejarah
tersebut, penguasa kolomal menangkapi tokoh-tokoh penggerak
demonstrasi yang direncanakan itu di beberapa tempat di Sumatera
Barat. Di Padangpanjang, Chatib Sulaiman dan Leon Salim yang
menjadi otaknya ditangkap bersama empat tokoh pemuda lainnya.
Mereka dari PNI Hatta -- Sjahrir dan PSII. Ironisnya ialah
karena sebenarnya rencana demonstrasi tersebut sudah dibatalkan
oleh para penggerak sendiri pada malam harinya. Leon Salim
ditangkap setelah kembali dari Batusangkar menyampaikan
keputusan bahwa demonstrasi dibatalkan.
Musyawarah yang berakhir dengan keputusan pembatalan demonstrasi
berjalan sengit pada malam 11 Maret. Beberapa tokoh pergerakan
dari berbagai aliran menginginkan agar demonstrasi dibatalkan
atau ditunda mengingat persenjataan Belanda terlalu kuat untuk
dilawan pada waktu itu. Tetapi para tokoh muda ingin terus
dengan rencana semula. Akhirnya muncullah tokoh Abdullah,
seorang guru di sekolah Adabiah Padang yang juga pengikut
militan Tan Malaka yang bergerak di bawah tanah. Dia mendukung
sepenuhnya tekad pemuda untuk melakukan aksi demonstrasi. Tetapi
dia mengemukakan tanggal 12 Maret yang direncanakan bukanlah
waktu yang tepat, karena tentara Jepang pada waktu itu belum
akan sampai di perbatasan Sumatera Barat. Oleh karena itu,
Belanda akan dapat menghancurkan demonstrasi tersebut dengan
mudah. Lain halnya kalau tentara Jepang sudah sampai di
perbatasan, Belanda akan berpikir keras dalam menghadapi suatu
demonstrasi yang terjadi pada waktu mereka menghadapi kekalutan
yang ditimbulkan oleh ancaman tentara Jepang yang sudah semakin
dekat. Argumentasi kader Tan Malaka tersebut rupanya masuk di
akal para perencana dan penggerak demonstrasi. Keputusan
tercapai. Demonstrasi ditunda sampai saat yang tepat, yaitu
bilamana tentara Jepang telah muncul di perbatasan. Tetapi
setelah keputusan pembatalan atau penundaan tersebut dicapai dan
disampaikan ke berbagai tempat, penguasa kolonial menangkapi
sejumlah tokoh muda yang menjadi otak dan penggeraknya.
Buku yang berisi memoir dan ditulis dalam bentuk catatan harian
ini sebagian besar memuat kisah pengalaman Leon Salim sewaktu
ditangkap, diinterogasi, dan ditawan sebagai tahanan politik.
Penahanan Leon Salim bersama lima tokoh lainnya terjadi pada
waktu tentara Belanda mulai bergerak meninggalkan Sumatera
Barat, mundur untuk maksud bertahan di Kota Cane, di pedalaman
Aceh Tenggara. Secara cukup terinci Leon Salim mengungkapkan
pengalaman perjalanannya sebagai tahanan dalam komisi tentara
Belanda dari Padangpanjang yang ditinggalkannya pukul dua siang
tanggal 12 Maret menuju Kota Cane yang dicapainya pukul 5 sore
tanggal 18 Maret 1942.
Leon Salim dan kawan-kawan dibawa ke Kota Cane untuk diadili di
mahkamah militer Belanda atas makar merencanakan demonstrasi
tanggal 12 Maret. Pada tanggal 19 sampai dengan 22 Maret, mereka
melalui proses prapengadilan. Pada tanggal 23 Maret, tiga dari
mereka yang sudah menandatangani proses verbal, termasuk Leon
Salim, mengira akan diadili dalam mahkamah militer lengkap. Di
luar dugaan mereka sendiri, mereka hanya dihadapkan ke depan
seorang kapten yang bertindak sebagai komisioner dari mahkamah
militer. Si kapten kelihatan panik sekali. Setelah tanya jawab
singkat, si kapten mengembalikan mereka ke penjara. Pada malam
harinya mereka dengar bunyi mesin dan perintah bersahutan.
Tentara Belanda menyingkir dari Kota Cane, lari ke Gunung Setan.
Pada tanggal 25 Maret tentara Jepang memasuki dan menduduki kota
kecil tersebut. Malamnya para tahanan Belanda dibebaskan,
termasuk Leon Salim dan kawan-kawan.
Pada tanggal 28 Maret Mayor Jenderal Overakker, setelah
menyembunyikan diri selama tiga hari di Gunung Setan, turun
menyerahkan diri tanpa syarat kepada tentara Jepang di Kota
Cane. Maka, tamatlah riwayat perlawanan terakhir tentara Belanda
dalam mempertahankan daerah jajahannya di Indonesia. Pada
tanggal 31 Maret Leon Salim meninggalkan Kota Cane pulang
kampung ke Padangpanjang yang dicapainya pada tanggal 2 April
1942. Belanda sudah enyah dan marsose telah tiada, tetapi Jepang
dengan militerismenya datang mengganti.
SEBAGAIMANA telah dikemukakan di atas, kegunaan buku ini
terutama terletak pada informasi yang diberikannya tentang
hari-hari terakhir kekuasaan Belanda di Sumatera sebelum
bertekuk lutut kepada Jepang. Pengantar yang cukup baik yang
ditulis oleh penerjemahnya, Audrey Kahin, banyak manfaatnya
dalam membantu pembaca untuk memahami makna memoir Leon Salim
ini lebih mendalam. Ada satu hal lagi yang menarik yang
terungkap oleh buku ini, yaitu suasana keakraban yang dapat
terjalin antara para tokoh pergerakan nasional dari berbagai
aliran politik. Leon Salim, umpamanya, adalah seorang kader
militan PNI Hatta-Sjahrir yang sewaktu ditangkap bekerja sebagai
administratur Sekolah Diniyah Padangpanjang. Chatib Sulaiman,
tokoh utama PNI Hatta-Sjahrir di Sumatera Barat, pernah menjadi
kepala HIS Muhammadiyah di samping berbagai kegiatan lainnya.
Pengaruh besar yang diperlihatkan oleh kader militan Tan Malaka,
Abdullah, dalam mengambil keputusan tentang pembatalan atau
penundaan demonstrasi, sebagaimana telah diungkapkan,
mencerminkan pula keakraban antara para tokoh nasionalis pada
waktu itu.
Di pihak Belanda, kenyataan bahwa Leon Salim dan kawan-kawan
mereka bawa sebagai tahanan yang akan diadili dalam pengunduran
diri dari Padangpanjang ke Kota Cane mengandung makna
tersendiri. Sebagaimana diungkapkan oleh Audrey Kahin dalam
Pengantar, meskipun dunia kekuasaan mereka tengah mengalami
keruntuhan, mereka toh membawa serta tahanan mereka dalam
pengunduran diri dengan rencana untuk kemudian diadili
sebagaimana mestinya.
Alfian
|