Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XIIIIII/22 - 28 November 1986
   
Catatan Pinggir

Dinasti

SANJAY Gandhi tewas pagi hari 23 Juni 1980 itu. Pesawatnya, yang
ia kemudikan dengan didampingi Kapten Saxena yang sedang tak
enak badan, jatuh. Pitts S-2A berwarna merah itu terjungkal
beberapa menit setelah terbang, menabrak pohon-pohonan di balik
Willingdon Crescent, New Delhi.

Pada usia 34, Sanjay mati. Perdana Menteri Indira Gandhi
kehilangan seorang putra dan penerus. India kehilangan seorang
calon pemimpin.

Tapi mungkin dengan itu Tuhan juga memberkati India. Sebab,
Sanjay selama hidupnya yang pendek adalah tokoh yang merepotkan.
Paling tidak jika kita membaca buku Tariq Ali yang memikat itu,
The Nehrus and the Gandhis.

Banyak hal di sekitar kematian anak Indira dan cucu Nehru itu
merupakan ilustrasi bagaimana kira-kira hidup Sanjay dan
lingkungannya. Pesawat Pitts itu, contohnya. Ia diberikan oleh
sebuah perusahaan Amerika, sebagai hadiah, untuk Sanjay, ketika
ibunya jadi penguasa penuh India selama masa berlakunya keadaan
darurat.

Ketika sang ibu tak jadi lagi perdana mentcri, pemerintahan
Partai Janata yang menggantikannya ingin menyelidiki perkara
"hadiah" ini. Buru-buru perusahaan Amerika yang mengirimkan
Pitts itu bersedia mencabut kembali pemberiannya. Tapi apa mau
dikata: belum lagi itu terjadi, Indira Gandhi terpilih lagi.
Maka, kasus ini didrop dan Sanjay boleh terus menikmati
hadiahnya yang mahal.

Maka, pagi itu Sanjay memutuskan untuk terbang -- suatu sport
yang ia gemari. Tapi yang terjadi adalah Pitts pemberian itu
runtuh.

"Kita ucapkan selamat jalan kepada pemimpin muda kita yang pergi
ini, dengan air mata yang tak akan terhapus selama satu abad",
begitu kata-kata seorang wartawan di hari murung itu, tentu saja
dengan sedikit menjilat. Satu abad adalah masa yang teramat
panjang. Buku Tariq Ali terbit di tahun 1985, cuma lima tahun
setelah air mata dikeluarkan buat Sanjay. Di dalamnya kita bisa
membaca bagaimana sang "pemimpin muda" itu dipandang: hampir
tanpa pujian.

Sanjay dilahirkan di Delhi di tahun 1946 (kakaknya, Rajiv, yang
jadi perdana menteri kini, dilahirkan dua tahun sebelumnya di
Allahabad). Ayah mereka, Feroze Gandhi, seorang wartawan dan
anggota parlemen yang tidak begitu patuh kepada partai,
mencintai mereka. Tapi sang ibu adalah seorang keturunan Nehru.
Indira membesarkan Rajiv dan Sanjay di Delhi, di rumah keluarga
yang megah dan bersejarah itu, Teen Murti House. Feroze Gandhi
tak mau ikut.

Wisma Teen Murti punya ruang-ruang besar dan halaman-halaman
luas. Di situ tinggal Nehru, sang kakek, perdana menteri
pertama, dengan sejumlah hewan kesayangannya -- antara lain anak
harimau. Sanjay, seperti kakaknya, sejak kecil pasti telah mulai
mengerti apa artinya privilese dipotret, bersalaman dengan
tamu-tamu penting, dan bermain-main dengan anak macan, ketika
orang lain gentar dan menjauh.

Dan Sanjay tampaknya juga berani dengan banyak hal lain. Dia tak
menyelesaikan sekolahnya. Ia tergila-gila pada mobil: selama
tiga tahun ia magang pada pabrik Rolls-Royce. Belum lagi ia
rampung belajar di sini, ia sudah tak betah lagi. Ketika itu
ibunya sudah menggantikan kakeknya, jadi perdana menteri. Sanjay
pulang, dan memperoleh apa yang dimintanya: sebuah pabrik mobil
yang dipimpinnya sendiri, dengan nama Maruti.

Mendengar ini orang pun marah, terutama kaum oposisi. India toh
sudah punya pabrik mobil milik negara. Tapi mendengar kritik
seperti itu, sang Ibu, sang perdana menteri, marah. Orang tak
bisa melarang Sanjay punya usaha hanya karena dia anak Indira
Gandhi, katanya. Dan bukankah Perdana Menteri tak pernah minta
anaknya diperlakukan istimewa? Dan bukankah tak ada yang
melanggar hukum dalam berdirinya Pabrik Maruti?

Kaum oposisi, seperti lazimnya oposisi, tak yakin. Tapi akhirnya
mereka memang harus diam. Toh akhirnya proyek Maruti gagal.
Sekali lagi, Sanjay tak pernah belajar untuk telaten dan tahan
uji.

Maka, ia memasuki proyek baru: karier politik, yang akhirnya
diharapkan akan berakhir dengan posisinya sebagai pemimpin
India. Indira seolah-olah seperti Korea Utara: menyiapkan sebuah
dinasti. Tapi ternyata Sanjay bukan orangnya.

Ia ingin terlalu lekas mengubah India misalnya dengan memaksakan
pemandulan rakyat agar jumlah penduduk tak meledak. Ia ingin
mengubah Kota Delhi dan menggusur penduduk di sana-sini. Sayang,
India bukan otomobil. Ahli mesin umurnnya memang teramat dangkal
dalam memandang masyarakat, tapi apa boleh buat: Sanjay adalah
putra Indira Gandhi. "Siapa yang menyerang Sanjay berarti
menyerang saya," kata sang ibu yang berkuasa penuh itu.

Maka, orang pun cuma hanya menggrundel, diam -- sampai pagi hari
23 Juni itu.

Goenawan Mohamad


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
20/XXXVII/07 - 13 Juli 2008

 

Berita lainnya

Boker Hidup Lagi! - 07 Jul 2008 | 02:27 WIB
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM - 07 Jul 2008 | 01:15 WIB
Pembantai Itu Hanya Diam - 07 Jul 2008 | 00:20 WIB
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang - 06 Jul 2008 | 21:56 WIB
Wakil Presiden Tutup Raimuna IX - 06 Jul 2008 | 21:39 WIB
God Save the Queen di Silverstone - 06 Jul 2008 | 21:01 WIB
Pemerintah Banyuwangi Alokasikan Biaya Berobat Keluarga Miskin - 06 Jul 2008 | 18:12 WIB
Mayoritas SD Negeri di Kabupaten Malang Belum Bersertifikat - 06 Jul 2008 | 18:10 WIB
Panwas Protes KPU Jawa Timur - 06 Jul 2008 | 18:08 WIB
Korban Lumpur Lapindo Banyak Yang Belum Ambil Bantuan Presiden - 06 Jul 2008 | 16:52 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data