Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XIIIIII/22 - 28 November 1986
   
Ilmu dan Teknologi

Pengintai tanpa pilot

Kini dimulai pengembangan pesawat tak berawak (rpv remotely piloted vehicles), yang pengendalian gerak pesawat maupun peralatan yang dibawanya dapat dilakukan oleh dua orang dari van khusus. (ilt)

BUNUH lawan sebanyak-banyaknya, begitu doktrin yang selalu
berkumandang di telinga setiap anggota pasukan yang terjun di
medan laga. Karena itu, manusia tak pernah berhenti memikirkan
alat perang yang menguntungkan mereka, jika saat itu tiba.

Maka, para ahli pun kini mulai memikirkan pengembangan pesawat
tak berawak (RPV -- remotely piloted vehicles). Melalui
peralatan yang dipasang di sekujur tubuh, pesawat itu melaporkan
kekuatan serta gerak-gerik lawan langsung dari atas kepala
mereka. Satuan komando Inggris tersohor, SAS (Special Air
Service), barangkali, tidak perlu kehilangan nyawa seorang
kolonelnya di medan perang Malvinas sekiranya mereka menggunakan
RPV.

Angkatan bersenjata Israel sebenarnya pernah memaka teknologi
tersebut dalam beberapa aksi militer di medan perang Timur
Tengah. Bahkan pabrik Mazlat, anak perusahaan Israel Aircraft
Industries, sudah sejak 1978 mengembangkan pesawat tak berawak
yang telah teruji kemampuannya di kancah perang (Mazlat Mastiff
Mk I dan Mk 2) untuk tujuan komersial. Marinir Amerika juga
memiliki tipe Mk 3 untuk memperkuat satuan RPV mereka.
Perusahaan ML Aviation dari Inggris berharap sebelum akhir
abad ini mereka sudah bisa memproduksi ML FS 001 SPRITE
(Surveillance, Patrol, Reconnaissance, Intelligence gathering,
Target designation, Electronic warfare).

Kehebatan yang paling dibanggakan para perancangnya adalah bahwa
ia memiliki keunggulan prinsip helikopter: dapat tinggal landas
dan mendarat secara vertikal. Sementara itu, pengendalian gerak
pesawat maupun peralatan yang dibawanya dapat dilakukan oleh dua
orang dari van khusus atau kendaraan sejenis Land Rover.
Kedengarannya cukup praktis.

Rancang bentuk helikopter tak berawak ini cukup aneh: bagai
tubuh nyamuk malaria yang ditopang empat kaki. Di tengah
ubun-ubunnya tertancap dua perangkat baling-baling berdiameter
1,60 meter, berputar berlawanan, yang digerakkan dua mesin
kembar berkekuatan 7 tenaga kuda. Putaran baling-baling yang
berlawanan itu memungkinkan rangka tubuh SPRITE melakukan rotasi
tanpa harus mengubah jalur terbangnya.

Oleh pabrik perancangnya, helikopter tak berawak seberat 24 kg
ini dimaklumkan mampu terbang selama dua jam lebih dengan
kecepatan 110 km/jam sambil membawa beban 12 kg. Menurut hasil
uji terbang dua prototip SPRITE, sekalipun tiga dari empat
tangki bahan bakarnya tertembak, ia masih dapat menjalankan
fungsinya sampai titik bahan bakar terakhir. Selain kamera
berlensa zoom, empat kompartemen di tubuh SPRITE menyediakan
kemungkinan penempatan sensor inframerah, penuntun sasaran
rudal, pendeteksi bahan kimia, maupun pengganggu gelombang
elektronik. Dengan mengganti peralatannya, SPRITE dapat pula
dipergunakan untuk kepentingan sipil, misalnya sebagai alat
bantu untuk mengawasi jaringan listrik tekanan tinggi dan
jaringan pipa minyak serta survei geologi.

Sementara itu, di belahan dunia lainnya, para ahli di pabrik
Hynes Aviation, Oklahoma, Amerika, sibuk menggeluti prototip
Hynes Model H-5T -- tiruan mini tak berawak helikopter Hynes
H-5. Dari hasil uji coba di White Sands, prototip H-5T ini dapat
menempuh 185 km sambil membawa beban 225 kg. Dibandingkan dengan
SPRITE, prototip H-5T (berat sekitar 700 kg) tentu saja lebih
besar.

Sejauh ini, departemen pertahanan Amerika, konsumen terbesar
teknologi perang, masih belum menentukan pilihan heli tak
berawak untuk satuan tempur mereka. Kalaupun nanti mereka harus
memilih, masih banyak yang berharap semoga itu bukan pertanda
perang akan tiba.

James R. Lapian


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pensiunan Gugat PT Telkom Indonesia Rp 56 Miliar - 25 Jul 2008 | 09:57 WIB
Kejaksaan Periksa Perusahaan Terkait Alat Tes Flu Burung - 25 Jul 2008 | 09:52 WIB
Penahanan dan Penggeledahan PT Pos Mendesak - 25 Jul 2008 | 09:46 WIB
Korban Taksi Maut di Jalan Tol Bertambah - 25 Jul 2008 | 09:18 WIB
Jamaah Haji Beresiko Tinggi Alami Gangguan Kesehatan Dapat Kartu Kendali - 25 Jul 2008 | 08:51 WIB
Indeks Diperkirakan Terus Melaju - 25 Jul 2008 | 08:37 WIB
Investasi di Kawasan Industri Kariangau Belum Capai Target - 25 Jul 2008 | 08:34 WIB
Waktu menonton Televisi menurunkan fungsi Retina Anak - 25 Jul 2008 | 08:28 WIB
Jakarta Cerah di Pagi Hari, Mendung Menjelang Sore - 25 Jul 2008 | 07:29 WIB
Pemerintah Paksa Pelanggan Bisnis Berhemat - 25 Jul 2008 | 01:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data