Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XIIIIII/22 - 28 November 1986
   
Kiat

Sekrup kecil

ADA seminar tentang organ-organ tubuh. Mata, limpa, jantung,
ginjal, semuanya berkumpul untuk mendiskusikan peran setiap
bagian tubuh. Mata berkata, "Tanpa saya, hidup tak akan berarti.
Dengan saya, kita dapat melihat merahnya merah, cantiknya
wanita, atau indahnya panorama."

Sesudah itu, jantung pun angkat bicara, "Tanpa saya, kehidupan
itu sendiri tak ada." Semua lalu terdiam. Mana ada yang berani
menggugat kemustahakan jantung? Tiba-tiba dubur angkat bicara,
meruyak the silent majority, "Jadi, kalau begitu, saya ini tak
ada gunanya?" Semua lalu tertawa. Menertawai dubur yang dianggap
mereka tak tahu diri.

Dubur, karena kesal, lalu mogok kerja. Total mampet. Dua hari
kemudian, mata jadi kunang-kunang. Jantung jadi lesu. Hati --
pabrik kimia bagi tubuh - kalang kabut karena sistemnya
menjadi kacau. Hari ketiga, mereka terpaksa mengadakan seminar
lagi -- memberi pengakuan tentang peran dubur bagi bangunan yang
bernama manusia. Semua merasa miris, takut bahwa dubur
benar-benar akan mogok total. Dubur dengan senang menerima
pengakuan itu, lalu bekerja lagi. Semua lantas kembali lancar.

Memang begitu, Saudara. Sebuah sistem bekerja karena semua suku
dan sekrup berfungsi dengan baik. Pada sebuah percetakan pernah
pula terjadi peristiwa ngambek-nya sebuah sekrup. Entah kenapa,
sekrup yang tak diakui fungsinya sebagai sekrup itu terpelanting
dan masuk di antara dua rol bantalan cetak silinder. Sekrup baja
itu kontan menghancurkan bantalan cetak yang sangat vital. Mesin
cetak terpaksa berhenti seminggu karena bantalan baru harus
didatangkan dari Jerman.

"Kita ini apalah? Hanya sebuah sekrup kecil dalam mesin besar."
Ini ungkapan yang sering kita dengar dari mulut orang-orang yang
merasa dirinya tak berguna. Perasaan nobodyness yang jelas-jelas
mengganggu motivasi kerja. Padahal, tanpa sekrup ia bukanlah
mesin, tetapi satuan-satuan suku cadang yang pritil.

Di Hotel Indonesia ada sebuah "sekrup kecil" yang terkenal. Ia
adalah seorang doorman yang kerjanya adalah tegak di depan
pintu. Ia membukakan pintu mobil tamu-tamu yang datang, lalu
menyuguhkan senyum lebar yang tulus. Beberapa tamu yang sering
berkunjung bahkan sudah dikenalnya dan disapanya by name.
Kualitas layanan yang personalized ini memang sudah jarang
didapat. Tetapi, teman kita yang satu ini memang tak punya
pretensi macam-macam. Ia menyadari fitrahnya sebagai seorang
doorman. Ia bukan orang yang berkata: sekarang doorman, besok
manajer -- yang lalu ngambek dan ikut golf (golongan frustrasi)
lantaran besok ternyata ia tak jadi manajer.

Bukannya saya pro terhadap orang yang tak punya ambisi. Orang
yang tak punya ambisi memang enak diatur, karena mereka tak
banyak ulah. Bagi perusahaan yang sedang bertumbuh, orang tanpa
ambisi akan menjadi beban perusahaan karena ia tak bisa diajak
ikut bertumbuh. Tetapi, saya suka melihat orang yang melakukan
pekerjaannya -- apa pun pekerjaan itu -- dengan qhusto, dengan
semangat yang lahap.

Kelahapan semangat itu sendiri bukanlah hal yang tak dapat
diciptakan. Di Jepang, misalnya, orang menumbuhkan semangat
seperti itu dengan semangat ba. Dengan semangat ba itu seseorang
dibuat bangga dengan tempatnya bekerja. bukan dengan
jabatannya. Seorang sopir NHK memakai jas biru yang sama dengan
seorang juru kamera NHK, lengkap dengan sulaman lambang NHK di
dada. Ia memang sadar bahwa ia adalah sopir -- tetapi sopir yang
punya kontribusi yang diakui dalam sistem penyiaran informasi
NHK.

Di Multi Bintang, ada seorang pelayan yang mempunyai pribadi
mengasyikkan. Ia tahu persiskapan orang-orang yang harus
dilayaninya itu akan membutuhkan layanannya. Ia tahu bahwa
Sedyana Pradjasantosa, direkturnya, akan mulai merasa lapar pada
pukul sebelas pagi, dan memerlukan segelas Frezzy Malta untuk
menunda rasa laparnya. Pelayan itu bahkan punya catatan yang
membuat Sedyana heran. Menurut catatan sang pelayan, di kantor
Multi Bintang ada kecenderungan naiknya minat minum Frezzy. Itu
terbukti dari jumlah yang disuguhkan melalui tangannya. Ia
mempunyai kepedulian tentang produk dari perusahaan tempatnya
bekerja.

Suatu hari saya bertamu ke Sedyana. Lama tak ada minuman datang.
Saya curiga, pelayannya itu sedang tak ada. Sebentar kemudian,
Sedyana menelepon sekretarisnya memintakan Frezzy untuk kami
berdua. "Jangan lupa pakai es batu, ya?" pintanya secara khusus.
Mengapa seorang direktur harus repot memastikan bahwa minuman
itu harus disuguhkan dengan es batu, bila sebenarnya itu adalah
pekerjaan seorang pelayan yang bertanggung jawab?

Biarlah Kiat ini saya persembahkan untuk Rudy, sahabat saya,
seorang pelayan di Union Carbide, tempat saya dulu bekerja.
Sekalipun sudah 8 tahun saya meninggalkan perusahaan itu, ia
selalu muncul lima menit setelah mendengar suara saya hadir di
kantor itu . . . dengan secangkir kopi. Terima kasih, Rud!

Bondan Winarno


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Jaksa Sidik Pengadaan Interior PON - 24 Jul 2008 | 11:03 WIB
Imam Besar Mekah dan Madinah Kunjungi Jusuf Kalla - 24 Jul 2008 | 10:45 WIB
Presiden Resmikan Laboratorium Penelitian Padi - 24 Jul 2008 | 10:39 WIB
Sembilan Pemantau Pada Pemilihan Sumatera Selatan - 24 Jul 2008 | 10:11 WIB
Tabrakan Beruntun di Tol Simatupang - 24 Jul 2008 | 09:49 WIB
Bapepam-LK Umumkan Dua Nama Calon Komisaris BEI - 24 Jul 2008 | 07:56 WIB
Hari Ini Lima Demonstrasi di Jakarta - 24 Jul 2008 | 07:27 WIB
Polisi Akses 160 CCTV Obyek Vital Ibukota - 24 Jul 2008 | 00:15 WIB
Suara NU ke Karsa, Perempuan ke Kaji - 23 Jul 2008 | 21:45 WIB
Pasangan Karsa Langsung Lakukan Konsolidasi - 23 Jul 2008 | 21:35 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data