Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XIIIIII/22 - 28 November 1986
   
Media

Mencoba lagi dengan tabloid

Setelah 2 kali terhenti terbit, "monitor" kembali terbit. memuat informasi tentang acara-acara tv, radio, film, informasi kaset video serta latar belakang kehidupan para artis yang membintangi. (md)

SETELAH dua kali terhenti terbit, awal November lalu Monitor
kembali mengunjungi pembacanya. Media -- dengan istilah lama
yang sekarang diganti dengan memantau -- yang memuat informasi
tentang acara-acara televisi, radio, dan film ini kini muncul
dalam bentuk tabloid setebal 16 halaman. Sebagai pemimpin
redaksi muncul Arswendo Atmowiloto, yang selama ini terkenal
sering mengkritik acara TVRI.

Isi Monitor yang sekarang tampak ingin lebih mendekatkan diri
dengan konsumen. Tidak hanya acara tv, radio, film, dan
informasi tentang kaset video saja yang disajikan, tapi juga
latar belakang kehidupan para artis yang membintanginya. Selain
itu, berita gosip, yang menurut pengelolanya merupakan berita
yang sangat digemari, turut mewarnai pemunculannya yang perdana.

"Tapi kalau ceritanya tidak muncul dari orang yang bersangkutan,
tidak akan kami muat," kata Arswendo, sang pemimpin redaksi.
Seperti kabar tentang Rhoma Irama punya tuyul, "Kalau Pak Haji
tidak bilang sendiri, itu tidak termasuk konsumsi Monitor,"
tambahnya. Ada kesan enteng, memang. Ini diakui oleh Arswendo,
tabloid bukan pers priyayi yang berpihak pada topik
permasalahan, tapi bukan juga pers kampungan yang menjual isu,
"Posisi kami ada di antara keduanya," katanya.

Itulah sebabnya, Arswendo yakin, Monitor perdana, yang dicetak
200 ribu eksemplar, kelak akan menjadi mingguan yang besar.
Apalagi tarif Rp 300 per eksemplar yang dipasangnya sudah
diperhitungkan bakal terjangkau kocek para konsumennya dari
masyarakat kelas menengah ke bawah.

Banyak yang heran mengapa Arswendo, yang juga pemred majalah
remaja Hai, begitu bersemangat membangun Monitor. Padahal,
sebelumnya Arswendo dikenal sebagai kritikus TVRI yang galak.
"Oh, kalau soal mengkritik televisi, tetap akan saya lakukan,"
jawabnya.

Arswendo, yang membawahkan 14 personel, termasuk wartawan,
tampaknya ingin mengelola Monitor secara profesional. Ini
terlihat, misalnya, dari cara memperoleh bahan tulisan. Untuk
memperoleh jadwal acara TVRI dari stasiun-stasiun pemancar di
seluruh Indonesia, Monitor membayar informasi itu, seperti
halnya membayar honor untuk sebuah karya tulis. "Minimal kami
bayar Rp 75 ribu untuk setiap stasiun pemancar," ujarnya.

Arswendo menganggap pengelolaan majalah yang bersifat khas ini
sebagai tantangan. Itu sebabnya ia sangat bersemangat. Modal Rp
400 juta yang disediakan investor, menurut dia, cukup untuk
hidup Monitor selama tiga bulan.

Masih belum ketahuan, memang, apakah dengan menyebarkan 50%
produknya di Jakarta, dan sisanya di luar Jakarta dan Jawa,
Monitor bisa meraih banyak pembaca. Beberapa agen di Jakarta
menggambarkan, Monitor memang belum dikenal masyarakat secara
merata. Seperti yang dikemukakan Sukarjo, "Masih banyak
pengecer, yang enggan menjual Monitor." Lain lagi pendapat
Sarka, pemilik SAS Agency, yang telah berhasil menjual edisi
pertama lebih dari tiga ribu eksemplar. Sebagai media baru,
Monitor dinilai Sarka termasuk laris. "Tapi itu belum berarti
Monitor digemari, karena saya yakin banyak orang membeli hanya
karena ingin tahu saja," komentarnya.

Memang, pada dasarnya, rasa ingin tahulah yang mendorong orang
untuk membeli. Seperti yang dikatakan Harvey Malaiholo, yang
juga menyimak Monitor edisi pertama, "Dengan dimunculkannya sisi
lain dari tokoh-tokoh yang muncul di teve, ini menarik, sebab
televisi sendiri dengan waktu yang terbatas tidak mungkin
merinci secara mendetail." Apalagi untuk penonton teve daerah,
yang kebanyakan masih memandang televisi sebagai sarana hiburan
ketimbang sarana komumkasi.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pensiunan Gugat PT Telkom Indonesia Rp 56 Miliar - 25 Jul 2008 | 09:57 WIB
Kejaksaan Periksa Perusahaan Terkait Alat Tes Flu Burung - 25 Jul 2008 | 09:52 WIB
Penahanan dan Penggeledahan PT Pos Mendesak - 25 Jul 2008 | 09:46 WIB
Korban Taksi Maut di Jalan Tol Bertambah - 25 Jul 2008 | 09:18 WIB
Jamaah Haji Beresiko Tinggi Alami Gangguan Kesehatan Dapat Kartu Kendali - 25 Jul 2008 | 08:51 WIB
Indeks Diperkirakan Terus Melaju - 25 Jul 2008 | 08:37 WIB
Investasi di Kawasan Industri Kariangau Belum Capai Target - 25 Jul 2008 | 08:34 WIB
Waktu menonton Televisi menurunkan fungsi Retina Anak - 25 Jul 2008 | 08:28 WIB
Jakarta Cerah di Pagi Hari, Mendung Menjelang Sore - 25 Jul 2008 | 07:29 WIB
Pemerintah Paksa Pelanggan Bisnis Berhemat - 25 Jul 2008 | 01:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data