Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XIIIIII/22 - 28 November 1986
   
Pariwara

Rumah impian dalam kenyataan ...

Pt bintaro jaya, anak perusahaan pt pembangunan jaya, mengembangkan kawasan perumahan bintaro jaya menjadi kota satelit, dengan konsep, "hidup nyaman di alam segar" komentar beberapa penghuni. (pwr)

kerja adalah kewajiban
dan Tuhan menyediakan alam
keduanya kita syukuri
alam lingkungan yang nyaman
tempat kita bekerja
tempat kita berprestasi

(Taufiq Ismail)

Impian memang tak selalu mempunyai kausalitas dengan kenyataan.
Tetapi, apa salahnya bermimpi? To dream the impossible dream
ternyata, kata banyak orang, justru memacu semangat orang untuk
berkarya nyata.

Ir. Ciputra, Presiden Direktur PT Pembangunan Jaya, adalah salah
seorang di antara pemimpi semacam itu. Ia pernah memimpikan
bahwa Jakarta sebagai kota pantai perlu mempunyai fasilitas
rekreasi pantai. Impian itu lalu terwujud dalam bentuk Taman
Impian Jaya Ancol, yang kini bahkan lebih diperkaya dengan
kehadiran Dunia Fantasi yang terus berkembang di dalamnya.

Sekalipun Pembangunan Jaya telah mengembangkan real estate sejak
25 tahun yang lalu, baru kawasan permukiman Bintaro Jayalah yang
mewujudkan sebagian besar impian Ciputra. "Karena di sini kami
membangun sebuah kota satelit baru," kata Eric Samola, S.H.,
Direktur PT Pembangunan Jaya yang membawahi bidang real estate,
termasuk PT Bintaro Jaya, anak perusahaan Pembangunan Jaya yang
mengelola, membangun dan memasarkan Bintaro Jaya. "Jelas, kami
tak bisa hit and run di sini."

Menekankan bedanya konsep kota satelit baru Eric Samola
mengatakan: "Karena itu kami tidak hanya membangun rumah,
melainkan membangun lingkungan." Untuk pernyataan itu, Bintaro
Jaya bahkan sudah mendapat pengakuan dari Pemerintah daerah DKI
Jaya yang pada 1985 mengalunginya dengan penghargaan lingkungan
perumahan terbaik.

Pembangunan Jaya memang bukan muka baru dalam bisnis real
estate. Real estate yang pertama di Jakarta datang. Ini sendiri
oleh Pemerintah daerah, yaitu permukiman Kebayoran Baru dan
Cempaka Putih. Pembangunan Jaya muncul sebagai perusahaan
swasta pertama yang mengusahakan real estate di kawasan Slipi.
pada 1961, ketika Jaya baru saja didirikan. Pengusahaan real
estate Slipi itu adalah upaya memupuk modal bagi Jaya untuk
menangani proyek yang lebih besar. Proyek Senen.

Ketika Pemerintah Daerah DKI Jaya menyerahkan pengelolaan dan
pengembangan wilayah Ancol rembangunan Jaya pun mendahulukan
pembangunan kawasan industri dan permukimtn sekelu!ll kemudian
menggarapnya sebagai pusat rekreasi yang menjadi landmark
Jakarta.

Proyek-proyek real estate. Lain yang ditangani Pembangunan Jaya
adalah Kramat Jaya Baru, Pesing Jaya Baru. Sunter Jaya Baru dan
berbagai jenis perumahan seperti rumah susun dan maisonette di
Ancol Barat.

Pengalaman yang kaya? "Namun kami tidak merasa puas dengan
pola pembangunan rumah sektoral yang terpisah-pisah itu," kata
Ciputra. "Keterbatasan lokasi menghambat para arsitek kami
untuk mengembangkan keterpaduan antara pembangunan lingkungan
dan alam sekelilingnya. Kami selalu merasa hanya membuat
kantung-kantung perumahan yang tidak menyatu dengan manusia dan
lingkungannya."

Tetapi, pekerjaan yang menyibukkan dan menyerap konsentrasi
Pembangunan Jaya pada sektor jasa konstruksi rupanya sempat
membuat perusahaan ini seolah-olah kehilangan minat untuk
meneruskan impiannya di bidang real estate. "Malahan tanah di
Bintaro Jaya ini dulu sempat hampir dijual kepada Perumnas
karena bisnis konstruksi Jaya sedang memerlukan dana yang
besar," kata Eric Samola.

Bidang tanah milik Pembangunan Jaya di Bintaro ini memang agak
lama tidak diolah. "Sambil menunggu pengalaman yang lebih kaya
dalam mengembangkan sebuah kawasan permukiman," kata Ir.
Nugroho, salah seorang wakil direktur PT Bintaro Raya. Tanah itu
sendiri semula dimiliki oleh perusahaan lain yang berniat
menjualnya karena mereka lebih yakin untuk mengembangkan real
estate. di daerah Jakarta Barat. Ciputra langsung memutuskan
agar Prembangunan Jaya membeli tanah itu. Ia, agaknya, melihat
bahwa impiannya bisa menjadi kenyataan di kawasan itu.

"Itu karena saya melihat bahwa kawasan ini masih memberi
kemungkinan luas untuk dikembangkan," kata Ciputra. "Dalam real
estate baru, kita harus mengembangkannya secara besar dan
konsentrasi di satu wilayah. Untuk itu, segala daya dan dana
harus dikerahkan."

Mengembangkan secara besar ternyata juga dilakukan untuk tujuan
pre-emptive. "Kalau kita kembangkan secara kecil-kecil," kata
Eric Samola, "pengusaha lain akan segera menarik keuntungan
dengan mengembangkan real estate baru di sebelah-sebelahnya."
Itu tentu merugikan karena reas estate pembonceng itu ikut
memanfaatkan prasarana yang dibiayai oleh real estate yang
terdahulu.

Ir. Adityawarman, Kepala 13iro Pemasaran PT Bintaro Raya, lalu
menunjukkan telah munculnya beberapa real estate pembonceng yang
didirikan sebelah-menyebelah dengan kawasan Bintaro Raya.
Tetapi, mereka itu tak dapat lagi mengembangkan lebih jauh
karena Bintaro Raya sudah terlebih dahulu menguasai tanah-tanah
di sekelilingnya.

Kawasan pemukiman Bintaro aya terletak di perbatasan antara
Jakarta dan Jawa Barat. Sebagian dari 200 hektar tanah yang
kini sudah dikembangkan terletak di wilayah DKI Jakarta Raya.
Dalam waktu lima tahun mendatang diperkirakan wilayah
pengembangannya sudah mencapai 400 hektar, sebagian besar sudah
terletak di wilayah Jawa Barat. PT Bintaro Raya bahkan sudah
memperoleh surat penunjukan dari gubernur Jawa Barat untuk
mengharap 1.200 hektar tanah yang termasuk wilayah Jawa Barat.
"Itu surat penunjukan yang terbesar pernah diberikan kepada satu
perusahaan," kata Nugroho sambil menambahkan bahwa nantinya
kawasan pemukiman Bintaro Raya ini akan berbatasan dengan
kawasan Bumi Serpong Damai, sebuah kota baru yang juga sedang
dikembangkan.

Wilayah seluas itu mencakup enam kelurahan: Pondokranji,
Pondokaren, Pondokbetung, Perigi, Bintaro dan Jurangmangu.
Belum seluruh dari rencana pengembangan yang 400 hektar dimiliki
oleh PT Bintaro Raya. "Tetapi, beberapa plot di beberapa desa
itu sudah dibeli," kata Adityawarman. "Maklum kan, masyarakat
pedesaan suka main tarik-ulur dalam soal jual-beli tanah. Kalau
kami yang datang, mereka akan tahan harga. Nanti kalau kami diam
dan tak melakukan kegiatan, justru mereka yang akan datang
menawarkan tanahnya kepada kami."

Pengembangan Bintaro Jaya sebagai kawasan pemukiman diawali
dengan pemilikan tanah seluas 50 hektar. Eric Samola lalu
mencoba menjual gagasannya kepada para anggota DPR (Dewan
Perwakilan Rakyat) untuk membeli rumah di kawasan permukiman
Bintaro Jaya yang akan dikembangkannya. Demikianlah, 200 rumah
yang pertama pesanan para anggota DPR mulai dibangun pada 1980.
Dengan tanah seluas 180 meter persegi dan bangunan seluas 65
meter persegi, rumah-rumah untuk para anggota DPR itu dipasarkan
dengan harga Rp. 8,75 juta.

Setelah rumah-rumah pertama itu selesai dibangun dan mulai
terasa adanya tarikan dari masyarakat untuk membeli rumah di
kawasan itu, barulah semangat untuk membangun Kota Satelit Baru
mulai tumbuh. "Bintaro Jaya telah membuka mata Pembangunan Jaya
kembali untuk menangani real estate secara lebih terpadu," kata
Eric.

Tetapi, upaya untuk memasarkannya lebih gencar ternyata
menghadapi hambatan. Pada awal 1982 terjadi banjir besar yang
melanda kompleks IKPN dan Deparlu di Bintaro. Beritanya masuk
koran, lengkap dengan gambar Gubernur Tjokropranolo (waktu itu!)
naik perahu karet menginspeksi rumah-rumah yang tenggelam hingga
ke batas langit-langit.

Pamor Bintaro langsung jatuh. Masyarakat menganggap bahwa
kawasan Bintaro Jaya pun terendam banjir. "Padahal", kata
Adytyawarman, "kalau Bintaro Jaya banjir, maka kompleks IKPN itu
sudah hilang ke mana-mana." Beda ketinggian antara Bintaro Jaya
dan IKPN adalah 12 meter. Bintaro Jaya terletak pada ketinggian
27 meter dari permukaan laut -- sulit untuk dapat dicapai oleh
air bah. Untunglah, dengan bantuan iklan, kesan keliru itu dapat
dihapus.

Bintaro Jaya juga merupakan real estate pertama yang memakai
thema: Hidup Nyaman di Alam Segar. "Pada dasarnya adalah karena
kami ingin melayani masyarakat langsung dari kebutuhan
pokoknya," kata Nugroho. "Jadi, kalau seseorang membutuhkan
rumah, maka yang pertama dibutuhkannya adalah bahwa rumah itu
punya fungsi sebagai tempat tinggal. Karena itu rumah harus
membuat penghuninya betah tinggal."

Ia juga melihat bahwa rumah bagi keluarga harus merupakan sarana
rumah tangga. "Karena itu, sekalipun kecil, kami membuat desain
sebaik-baiknya agar rumah itu terdiri atas tiga kamar dan sebuah
kamar pembantu," tambah Nugroho. Tanpa kelengkapan seperti itu,
rumah akan sulit berperan sebagai sarana rumah tangga yang
komplet.

Tentu saja rumah pun -- bagi banyak warga masyarakat kita --
mewakili status mereka. Bagi kepala-kepala keluarga yang tinggal
di Bintaro aya, dengan penghasilan per bulan antara Rp. 1,5 - 5
juta, mereka tidak lagi membutuhkan rumah-rumah yang fancy,
apalagi karena tingkat pendidikan mereka yang cukup tinggi.
Penataan lingkungan berdasarkan kelompok nama burung pun tidak
membuat mereka merasa minder. Beda halnya dengan bila disebut
rumah mungil atau rumah indah, yang langsung mengelompokkan yang
satu dari yang lain secara tegas.

Bintaro memanglah sebuah kantung di sudut Jakarta yang bebas
dari hiruk pikuk, bersih lingkungannya, dan membuat penghuninya
tak ingin keluar lagi bila telah tiba di rumah. Konsep "Hidup
Nyaman di Alam Segar" nyatanya tidak hanya sebatas slogan. (Baca
juga: "Tak Ingin Pindah Lagi"!).

Cara pengembangan real estate berdasar konsep ini segera
kemudian ditiru pula oleh perusahaan-perusahaan real estate
lain. Di kawasan ini pulalah pertama kalinya dikembangkan
pengelompokan jenis-jenis rumah yang diberi nama berdasarkan
kelompoknya. Ada rumah-rumah jenis Pelikan, Punai, Pipit dan
sebagainya. "Mungkin kedengaran agak sombong kalau kami katakan
bahwa Pembangunan Jaya adalah pelopor real estate di Indonesia,"
kata Nugroho sambil menambahkan bahwa estate management,
seperti misalnya penanganan sampah pun merupakan kepeloporan
sendiri di Bintaro Jaya. "Kami di sini sudah memakai sistem
kantung plastik untuk mewadahi sampah yang pada saat-saat
tertentu kami ambil dari rumah-rumah penghuni."

Rencana jangka panjang yang dihadapi Bintaro Jaya membuat
mereka harus lebih berhati-hati megembangkan lingkungannya.

"Kami bukan perusahaan real estate yang hanya punya sepuluh
hektar lalu kabur setelah pembangunannya selesai," kata Eric
Samola. "Kami masih akan lama mengembangkan dan memasarkan
kawasan ini. Paling kurang 20 tahun lagi. Dan, kalau
lingkungannya sudah brengsek sekarang ini, tentu tak ada lagi
yang mau membeli di sini."

Memasuki kawasan pemukiman Bintaro Jaya memang merupakan
pengalaman tersendiri. Pepohonan hijau menyejukkan pemandangan.
Jalan-jalan tertata rapi dan selalu terjaga kebersihannya.
Rumah-rumahnya pun berderet-deret apik dalam harmoni yang
mengasyikkan. Tak ada kesan "saling berteriak" dalam penampakan
bangunan-bangunan di kawasan permukiman ini.

Rumah tumbuh-kembang yang cukup populer di lingkungan Perumnas,
ternyata tidak merupakan kebutuhan bagi calon penghuni Bintaro
Jaya. "Kami dulu juga pernah menjual rumah-rumah yang sengaja
belum diselesaikan," kata Nugroho. "Tetapi, tidak laku." Para
calon pembeli kebanyakan tertarik setelah melihat rumah-rumah
yang sudah rampumg dan siap dihuni. "Sekalipun nantinya mungkin
akan dirombak lagi" tambah Nugroho.

Pada prinsipnya, semua rumah di Bintaro dibangun berdasarkan
rancangan khusus yang disediakan oleh PT Bintaro Raya. Hanya
kaveling-kaveling sudut saja yang diberi kebebasan untuk
dibangun dengan desain khusus. Pembeli kaveling diwajibkan
membayar iuran Rp. 5.000 sebulan selama tanahnya dibiarkan
menganggur. Iuran itu dipakai untuk menjaga kebersihan
lingkungan. "Kalau tidak begitu, tetangga-tetangga kaveling
kosong akan sering mengadu karena rumahnya kemasukan ulat dari
tanah-tanah terlantar itu," kata Adityawarman.

Adanya desain standar itu telah menyelamatkan Bintaro Jaya dari
kesan-kesan acak-acakan rumah model Spanyol yang bersanding
dengan model joglo. Hingga tahun kedua setelah dipromosikan, PT
Bintaro Raya belum berani menjual rumah-rumah dengan disain
standar. "Tetapi, dengan membiarkan penghuni membangun
sendiri-sendiri, kami malah jadi pusing," kata Adityawarman.
"Lingkungan jadi jelek." Desain standar itu agaknya cukup
diminati oleh para profesional muda yang memerlukan rumah
fungsional.

"Kami membangun rumah di sini seolah-olah kami akan menghuni
rumah itu, bukan untuk dijual" kata Nugroho menggambarkan
ketinggian mutu rumah-rumah di Bintaro Jaya. Ciputra sendiri
pernah memerintahkan untuk merata-tanahkan sebuah bangunan yang
terus-menerus dikeluhkan oleh penghuninya. Setiap kali
diperbaiki. Setiap kali itu pula muncul keluhan lain. "Tetapi
toh Pak Ci mempersilakan orang itu memilih rumah lain,
membongkar sama sekali rumah itu dan membangun kembali rumah
yang baru. Itu untuk menunjukkan komitmen kami terhadap mutu."

Bintaro Jaya juga mempmyai tim yang menangani layanan purna
jual. "Bahkan sekarang sudah dibentuk estate management,"
tambah Adityawarman untuk menunjukkan bahwa pekerjaan PT Bintaro
Raya belum lagi berakhir setelah rumah diserahkan kepada
penghuninya.

Tak berlebih-lebihan bila kemudian Eric Samola mengatakan bahwa
para penghuni Bintaro Jaya sudah merupakan one big happy family
"Waktu kami meresmikan gedung perkantoran di sini, 80% kepala
keluarga penghuni hadir dalam pesta perayaan," tambahnya.

Keakraban antar-warga itu antara lain juga karena banyaknya
kesamaan antara mereka. Kebanyakan mereka adalah
keluarga-keluarga muda yang kepala keluarganya berusia antara
35-40 tahun, pegawai swasta tingkat manajer, dan dari latar
belakang pendidikan yang cukup. Semangat berorganisasi pun
tampak nyata. Misalnya, para remaja di situ mendirikan
organisasi Seroja (Sepeda Rally Bintaro Jaya).

Tak ayal, potensi lokasi di Bintaro itu memang sangat besar.
Pada dasarnya, kekuatan bisnis real estate terletak pada
kemampuan menguasai resources (tanah dan dana). "Pada masa
depan kecenderungan ini akan tampak makin jelas," kata Ciputra.
"Siapa yang menguasai resources akan dapat kendalikan pasar."

Nugroho juga memuji ketajaman bosnya itu dalam penyiasatan
harga. "Dulu saya tak bisa mengerti kalau Pak Ci bilang: coba
bikin rumah yang bisa kita jual dengan harga Rp. 10 juta," kata
Nugroho. "Ternyata memang rumah-rumah seharga itulah yang laku.
Penyiasatan harga dan terutama konsep promosi yang dilakukan Pak
Ci nyatanya kini juga cocok dengan permasalahan pemasaran dalam
situasi persaingan yang ketat seperti sekarang ini."

Letak Bintaro Jaya sendiri memberikan janji masa depan yang
menguntungkan. Diperkirakan dalam waktu dua tahun lagi outer
ring road Jakarta sudah mulai terlaksana. Itu berarti Bintaro
Jaya akan mempunyai akses yang lebih baik dengan Bandara
Soekarno-Hatta, Jalan Tol Jakarta-Merak dan sudut-sudut Jakarta
lainnya.

Konsep pembangunan lingkungan pun menuntut PT Bintaro Raya untuk
menyelenggarakan fasilitas yang cukup bagi para penghuninya.
Sebuah Taman Kanak-kanak yang didirikan di situ sudah penuh
muridnya. Tahun depan mereka akan mendirikan sekolah dasar untuk
menampung warga agar tidak harus melakukan perjalanan jauh untuk
mencapai sekolah. Sebuah terminal bis yang bersebelahan dengan
sederetan rumah toko sudah sejak dua tahun terakhir ini menjadi
fasilitas komunitas yang disambut warga.

Mesjid sedang dibangun. Setelah itu gereja akan menyusul.
Sementara itu shopping mall yang akan lebih besar dari kelompok
rumah toko akan segera dibangun di kawasan yang dihuni oleh
mereka yang daya belinya cukup tinggi ini.

Bank Dagang Negara yang sejak setahun lalu membuka cabangnya di
Bintaro Jaya, kini telah banyak nasabahnya karena kesadaran
berbank yang cukup tinggi dari para penghuni. Sebuah klinik 24
jam yang tersedia di kawasan ini pun sangat melegakan warganya.
"Kalau jumlah rumahnya yang dihuni di Bintaro Jaya ini nanti
sudah mencapai 4.000, kami akan membangun juga sebuah rumah
sakit," kata Eric Samola. Pada saat ini di Bintaro Jaya baru
terdapat 1.700 rumah yang dihuni.

Fasilitas olah raga pun cukup tersedia di Bintaro Jaya. Selain
jalan-jalan lingkungannya merupakan jogging track yang menarik,
di situ juga terdapat lapangan-lapangan tenis dan lapangan
basket. "Kelak juga akan dibangun club house, " tambah
Adityawarman. Untuk mendukung konep kota satelit baru, telah
juga dibangun fasilitas kantor dengan konsep pertamanan. Gedung
berlantai tiga yang sekarang sudah berdiri di sana, masih akan
lagi ditambah dengan beberapa bangunan baru, sesuai dengan
pertumbuhan kebutuhan. Fasilitas yang memadai pada sarana
perkantoran ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan
efisiensi waktu karena diperpendeknya jarak dari rumah ke
kantor.

Upaya keras yang dilakukan PT Bintaro Raya itu tampaknya belum
deras disambut oleh masyarakat. Sejak peraturan tentang Pajak
Pertambahan Nilai diundangkan, pembeli rumah pun merosot.
Dibanding dengan keadaan 1984, jumlah rumah yang laku dijual
kini merosot 30%. "Dulu kami bisa jual 35-40 rumah dalam
sebulan," kata Adityawarman. Sekarang, dalam bulan promosi pun
paling-paling hanya laku 25 rumah sebulan.

"Dalam suasana resesi begini, tantangan bagi bisnis real estate
sangat besar," kata Ciputra. DR Dorodjatun Kuntjorojakti bahkan
dalam salah satu ceramahnya menganjurkan agar para pengusaha
real estate dan jasa konstruksi segera banting setir.

Akan banting setir jugakah Bintaro Jaya? "Pada saat ini," kata
Ciputra sambil menghela napas dalam, "real estate memang tidak
sedang dalam masa jaya. Kalau bisa break even saja sudah senang.
Tetapi, secara jangka panjang, investasi tanah selalu lebih
baik. Devaluasi toh akan selalu terjadi bila penghasilan minyak
buruk. Lagipula, sumber daya tanah itu tak bisa bertambah. Kalau
kekurangan tanah, kita kan tak bisa impor?"

Maka, Saudara-saudara, tanamlah uang Anda ke dalam tanah dan
rumah. Dan, kenapa pula tidak di Bintaro Jaya? Rumah idaman Anda
sudah nyata menanti di sana.

TAK INGIN PINDAH LAGI

Bagi Fadloon Katoppo, Jakarta Selatan adalah rumahnya. "Sejak
masih sewa rumah dulu, saya selalu memilih Jakarta Selatan,"
katanya. "Selain kami merasa cocok dengan lingkungan ini, juga
di Jakarta Selatan-lah terdapat sekolah-sekolah yang baik untuk
anak-anak."

Bersama Ernst -- suaminya, dan kedua anaknya, keluarga Katoppo
ini sudah empat tahun tinggal di Bintaro Jaya. "Kami memang
sudah melihat real estate lain di Jakarta Selatan," kata Ernst.
"Tetapi, Bintaro Jaya inilah pilihan kami. Lingkungannya baik.
Desain rumahnya pun cantik."

Ernst temyata juga punya alasan khusus. "Saya tak suka tinggal
di kawasan permukiman yang ada pos penjagaannya. Sama saja
dengan tinggal di asrama atau dalam kurungan." Di Bintaro Jaya
masyarakatnya bisa bergaul akrab dengan masyarakat yang tinggal
di sekelilingnya. Bahkan lapangan olah raga yang tersedia pun
boleh dipergunakan oleh masyarakat sekeliling.

Bagi Fadloon, tentulah lingkungan langsung yang lebih
dipentingkannya. "Kami tak punya pembantu di rumah," katanya.
"Padahal kami berdua bekerja di kantor. Tetapi, setiap saat kami
bisa menelepon tetangga minta tolong melihatkan rumah.
Solidaritas dan keakraban di sini sangat baik."

Nyonya Nita, penghuni Bintaro Jaya yang lain, juga merasakan
keakraban antar-penghuni sangat baik. "Kami baru dua tahun di
sini, tetapi rasanya dengan para tetangga kami sudah kenal
begitu lama," katanya.

Dengan suami dan seorang anak, nyonya Nita menyatakan tak ingin
pindah lagi. "Ini rumah kami. Bahkan rumah ini sudah memenuhi
segala persyaratan sebagai rumah. Kesegaran lingkungan Bintaro
dapat kami rasakan di dalam rumah. Itu karena kondisi desain
yang yang memungkinkan udara mengalir bebas. Kami sudah at home
di sini," katanya.

Ia aktif ikut arisan dan kegiatan-kegiatan lingkungan lainnya.
Mungkin hanya di Bintaro Jaya saja masing-masing RT-nya sering
menyelenggarakan bazaar atau kegiatan lain. Bahkan, terasa
adanya kompetisi antar-RT. Yang satu menyatakan RT terbersih,
yang lain menyatakan RT paling aktif. Bila sekelompok penghuni
ingin menyelenggarakan acara khusus, tanpa ragu-ragu pula mereka
minta pinjaman ruang dari PT Bintaro Raya yang mengelola kawasan
ini.

Keluarga Don Rorek juga sudah mengelilingi berbagai real estate
sebelum akhimya "mendarat" di Bintaro Jaya. "Saya melihat
fasilitas dan sarana yang ditawarkan Bintaro Jaya ini lebih
baik," kata Don. Jaringan jalan, selokan, pengaturan dan
pembuangan sampah, air minum, penerangan dan sistem kehidupan
lingkungan di sini, itulah unsur-unsur yang mendukung pilihan
Don. Ada taman kanak-kanak. Bahkan dokter pun dapat ditelepon
setiap saat, 24 jam.

"Kualitas bangunan di sini pun prima," kata Don. "Apalagi kalau
saya bandingkan dengan rumah ibu saya di sebuah real estate di
Pasarminggu yang begitu rapuh. Di sini, coba Anda paku tembok
ini, bisa putus pakunya."

Keluarga Don pun sudah tak ingin pindah lagi dari Bintaro Jaya.
Dengan logat Surabaya ia mengatakan: "Udaranya ini, lho,
udaranya. Belum terpolusi. Bersih dan segar."

Kalaupun ada rejeki lebih, Don akan memilih rumah dan tanah yang
lebih besar di dalam kawasan Bintaro Jaya ini juga. "Saya rasa
wajar kalau saya angkat topi kepada Pembangunan Jaya yang telah
menyelenggarakan sarana permukiman dengan mutu seperti ini.
Lokasi baik, desainnya sesuai dengan keinginan, masih lagi
disertai layanan purna jual yang memuaskan. Mereka memang tidak
sekadar menjual rumah."

Don menunjuk rumput dan pepohonan yang rapi di depan halaman
rumahnya. "Itu bukan kami yang memelihara. Mereka selalu rajin
memotong dan memangkas tanaman itu. Jadi, kami tak perlu
memikirkan lingkungan di luar halaman kami ini," tambah Don.

Tak komplet, tentu, kalau tak ada keluhan. Fadloon Katoppo
mengeluh karena listrik dari PLN sering mati. Juga karena banyak
gangguan pemancar radio CB maupun amatir. "Tetapi, di semua
daerah baru selalu begitu kan awalnya," kata Fadloon memberi
alasan sendiri. Sedangkan Don dan keluarganya sangat mendambakan
agar telepon dapat segera disambung ke rumahnya.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
21/XXXVII/14 - 20 Juli 2008

 

Berita lainnya

Guru Warga Amerika Ditemukan Membusuk di Hotel - 19 Jul 2008 | 17:49 WIB
Pengibaran Bendera Bintang Kejora Tak Terkait Sentimen Agama - 19 Jul 2008 | 16:34 WIB
Pengibar Bendera Bintang Kejora Dikenai Tuduhan Makar - 19 Jul 2008 | 16:27 WIB
41 Pengibar Bendera Bintang Kejora Ditangkap - 19 Jul 2008 | 16:20 WIB
Polres Pasuruan Dirikan Posko Pengaduan Pemilu - 19 Jul 2008 | 16:03 WIB
PMI Kabupaten Malang Kahabisan Kantong Darah - 19 Jul 2008 | 16:00 WIB
Makam Sumiarsih dan Sugeng Masih Terus Dikunjungi - 19 Jul 2008 | 15:58 WIB
33 Pengunjung Hiburan Malam Diperiksa - 19 Jul 2008 | 15:30 WIB
Penertiban Boker Batal - 19 Jul 2008 | 12:42 WIB
Kesatria Turun Pamor - 19 Jul 2008 | 11:12 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data