Search  
 
| Advance search | Registration | Help | About us
 
 
Edisi. 39/XIIIIII/22 - 28 November 1986
   
Surat Dari Redaksi

Isma di Filipina

Isma sawitri berada di filipina untuk mempersiapkan bahan laput tentang situasi akhir filipina (tewasnya rolando olalia & penculikan pengusaha jepang). seichi okawa meliput hubungan jepang-filipina. (sdr)

FILIPINA kembali dilanda demonstrasi. Ribuan buruh berkumpul
memenuhi jalan-jalan raya, begitu pemimpin mereka -- Rolando
Olalia -- tewas diberondong peluru. Belum terang kasus ini
diungkap, muncul peristiwa penculikan pengusaha Jepang. Filipina
geger lagi? "Ah, tidak," kata Isma Sawitri, yang beberapa hari
sebelum tewasna Rolando sudah berada di negeri Aquino itu.
Isma, yang sudah akrab dengan masyarakat Filipina (ketika pecah
revolusi damai Cory Aquino ia juga di sana), mengutip ucapan
seorang petugas bandara, "Nggak ada apa-apa." Tentang
perselisihan antara Cory dan Enrile? "Itu cuma salah paham
kecil."

Tentu saja, Isma tak cuma bicara dengan petugas lapangan
terbang. Ia juga mewawancarai beberapa tokoh yang cukup
berperan. Misalnya, kali ini, Arno Sanidad, pengacara yang
mendampingi NDF di meja perundingan dengan pihak pemerintah
Letjen (pur) Rafael Ileto, deputi menhani Butz Aquino, adik
kandung Benigno yang terbunuh. "Dia yang paling terbuka,"
kesan Isma. Wawancara diadakan di sebuah klub di daerah mewah
Greenhills.

Dibanding dulu, ketika Isma meliput revolusi yang melemparkan
Cory ke puncak itu, ada perbedaan suasana metropolitan Manila
sekarang ini. "Dulu rakyat terlihat benar-benar satu dan merasa
senasib menghadapi musuh besar bersama: Marcos. Suasana itu
sekarang tak lagi tampak: terpecah-pecah, ada kelompok kaum
kiri, ada pula kelompok pendukung Cory yang tetap dengan pakaian
kuningnya. Sementara itu, para simpatisan Marcos berkumpul di
tempat lain."

Isma sempat menghadiri rapat akbar di Liwasang Bonifacio,
lapangan tak begitu besar di depan kantor pos Manila. Ini rapat
mendukung konstitusi baru yang diadakan Partai Baru (Lakas Ang
Bansa), partai Cory. Tentu saja, semua orang berbaju kuning,
kecuali Isma. Yang menarik, massa rakyat memukul-mukul tambur.
"Rupanya, mereka terbiasa juga dengan tanjidor," kata wartawati
Anda ini lewat telepon.

Telepon? Tentu. Untuk menyiarkan laporan utama di negeri yang
diperintah presiden wanita ini, Isma bolak-balik menelepon dan
ditelepon. Yang menjadi pasangannya di Jakarta, dari lantai atas
Gedung TEMPO di Kuningan, adalah Didi Prambadi. Ia koordinator
Biro Koresponden Luar Negeri yang juga biasa menulis
berita-berita untuk rubrik yang sama. Didi pulalah yang dikontak
dan kemudian mengontak Seiichi Okawa, orang TEMPO di Tokyo. Dan
dari Okawa banyak diperoleh bahan -- bukan hanya tentang
pengusaha Jepang yang diculik itu, tapi juga hubungan Jepang
dengan Filipina. Bukankah Cory baru saja pulang dari tanah air
Okawa-san ?

Akan halnya Okawa kita ini yang lebih kami sukai memanggilnya
dengan Borwa-san, nama yang didapatnya di pedalaman Irian Jaya
sepuluh tahun lalu -- ia pun tak asing dengan negeri para
Filipino: sudah berkali-kali ditugasi ke Filipina, juga tatkala
Marcos tumbang dan Cory naik. Adalah Borwa-san yang pernah
mewawancarai Rolando Olalia, dan sebagian wawancaranya dulu itu
kali ini kami muat kembali. Jika untuk Denulisan ini Okawa tetap
di posnya di Tokyo, bukan apa-apa soalnya, seperti kata Isma,
Manila masih tergolong "aman" -- walau, memang, di depan kamp
Aguinaldo ada sebuah poster besar bertuliskan Red Alert, yang
berarti "siaga penuh".

Di Jakarta, tentu saja, ada orang yang juga siaga penuh. Dia
Susanto Pudjomartono, di kamp Kuningan. Bersama James R. Lapian,
ia merakit-rakit masukan yang susul-menyusul datang dari Manila
dan Tokyo.


 
buatan Radja|endro
Majalah Tempo
22/XXXVII/21 - 27 Juli 2008

 

Berita lainnya

Pensiunan Gugat PT Telkom Indonesia Rp 56 Miliar - 25 Jul 2008 | 09:57 WIB
Kejaksaan Periksa Perusahaan Terkait Alat Tes Flu Burung - 25 Jul 2008 | 09:52 WIB
Penahanan dan Penggeledahan PT Pos Mendesak - 25 Jul 2008 | 09:46 WIB
Korban Taksi Maut di Jalan Tol Bertambah - 25 Jul 2008 | 09:18 WIB
Jamaah Haji Beresiko Tinggi Alami Gangguan Kesehatan Dapat Kartu Kendali - 25 Jul 2008 | 08:51 WIB
Indeks Diperkirakan Terus Melaju - 25 Jul 2008 | 08:37 WIB
Investasi di Kawasan Industri Kariangau Belum Capai Target - 25 Jul 2008 | 08:34 WIB
Waktu menonton Televisi menurunkan fungsi Retina Anak - 25 Jul 2008 | 08:28 WIB
Jakarta Cerah di Pagi Hari, Mendung Menjelang Sore - 25 Jul 2008 | 07:29 WIB
Pemerintah Paksa Pelanggan Bisnis Berhemat - 25 Jul 2008 | 01:26 WIB
>

index berita

buatan danendro | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Nasional | Ekonomi & Bisnis | Nusa | Jakarta | Indikator | Opinet
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data