Anda perlu seks? teleponlah ... Sydney barrow dalam bukunya "may flower madam" menuturkan
kisahnya mengelola bisnis seks kelas tinggi bernama chachet
escort service yang berpusat di manhattan, as, akhirnya
tercium oleh polisi. (sel) |
SUATU hari di Manhattan, New York, Oktober 1984. Seorang wanita,
32 tahun, ber-stocking, berkaca mata, digandeng seorang
laki-laki menyusuri trotoar. Di siang bolong tu, tentunya,
mereka tak lagi bermesraan, apalagi tangan si wanita terborgol.
Dan orang-oran pun kaget.
Dialah Sydney Biddle Barrows, anggota kelompok sosial terhormat
dengan kode Myf, artinya kelompok ini adalah para keturunan
keluarga Pilgrims imigran bangsawan dari Inggris yang mendarat
di benua baru pada tahun 1620 dengan kapal bernama Mayflower.
Barrows dituduh, dengan nama samaran Sheila Devin, ia melakukan
pekerjaan sebagai seorang germo yang mengatur sejumlah cewek
cantik dan pintar -- dan memang itulah syarat masuk jaringan
pelacuran dia. Langganan Devin memang orang-orang penting. Para
eksekutif perusahaan besar, diplomat di PBB, para syekh Arab
pokoknya, orang-orang terhormat lagi kaya. Bayangkan saja,
seorang langganan harus membayar US$ 2.000 untuk kencan dengan
seorang cewek Devin, dan itu hanya untuk semalam.
Tapi pihak polisi tak menemukan bukti-bukti kuat. Akhirnya ia
cuma didenda, US$ 5.000. Tak jelas adakah usahanya -- resminya
bernama Cachet Escort Service, sebuah biro yang menyediakan
cewek untuk teman kencan -- berlanjut ataukah bubar. Tapi germo
terhormat lagi pintar ini tetap saja bisa mencetak uang. Ia
menuliskan semua pengalamannya sebagai germo dan buku itu
terbit belum lama ini, berjudul Mayflower Madam.
* * *
AKU lahir pada 14 Januari 1952 di Long Branch, New Jersey. Pada
usia 4 tahun, Ayah meninggalkan kami untuk nikah dengan seorang
karyawati kantornya. Waktu itu, tentu, aku tak tahu persis apa
yang terjadi. Sambil menggendong adik, Ibu menarik aku, dan
bilang bahwa Ayah tak akan bersama kami lagi untuk seterusnya.
Ia tampaknya begitu terpukul, hingga dilarangnya siapa pun, di
rumah kami, berbicara tentang perceraian.
Ayah adalah idola dan pujaanku. Aku marah kepada Ibu karena
ketakhadiran Ayah. Sebenarnya dalam hati, aku marah kepada Ayah.
Tapi karena yang ada hanya Ibu, ya, aku marah kepadanya.
Untuk waktu tiga tahun kemudian, sekali atau dua kali sebulan
Ayah mengunjungi kami, menemuiku dan adikku, Andrew. Ketika
kunjungan Ayah makin jarang, waktu itu aku 7-8 tahun, aku mulai
merasakan derita sebenarnya. Aku lebih banyak menarik diri dari
pergaulan, dan hanya berteman dengan buku-buku. Di sekolah, aku
merasa tak seperti teman-teman yang lain, yang mempunyai Ayah
dan Ibu di rumah. Keuangan ibuku mulai buruk, dan jadilah aku
anak manis yang selalu cemberut dan sulit.
Sampai pada usia sembilan tahun, kami masih tinggal di New
Jersey yang nyaman. Tapi, kemudian, Ibu memutuskan kami pindah
ke rumah Nenek, di Rumson, yang tak kusukai. Ini sebenarnya
bukan kemauan Ibu, tapi kemauan orangtua dia, ya, nenekku itu.
Maka, ketika tiba saat aku masuk sekolah menengah, aku senang
terbebas dari Rumson. Aku memilih sebuah sekolah kecil bernama
Stoneleigh, di Greenfield, Massachussetts.
Boleh dikata, Stoneleigh adalah sebuah berkah. Berada jauh dari
Ibu melegakan hatiku -- dan, tentunya, juga hati Ibu. Berakhir
sudah masa ketika aku suka menyendiri. Kini aku punya sekelompok
sahabat.
Tapi, ketika tiba saat aku masuk perguruan tinggi, Ayah datang
dan mengatakan bahwa biaya untukku telah habis buat membayar
sekolah di Stoneleigh itu. "Saya tahu, di zaman ini cewek pun
banyak yang masuk perguruan tinggi," katanya. "Tapi, saya pikir,
itu tidaklah perlu benar. Kamu cantik. Kamu bisa cepat menikah,
dan seorang suami akan menanggung hidupmu. Tapi bila engkau
tetap ingin melanjutkan sekolah, bekerjalah dan biayai
sendirilah kuliahmu."
Wah, busyet, baru sekarang ia berbicara begitu. Aku marah.
Ternyata, Ayah tak begitu memikirkanku.
* * *
AKHIRNYA, dengan uang simpanan yang kukumpulkan dari bekerja di
kantor Ayah sebagai resepsionis, aku masuk Fashion Institute of
Technology di New York. Pelajaran yang kupilih: tekstil,
menyulam, periklanan, pemasaran, ilmu dagang eceran, dan sejarah
seni. Untuk membiayai kuliah, aku bekerja paruh waktu di
perusahaan garmen.
Lulus dengan nilai terbaik, memperoleh hadiah, dan di samping
itu aku pun diterima mengikuti latihan di Abraham & Straus,
sebuah toko serba ada paling terkenal di New York. Toko besar
ini sungguh menyenangkanku. Kemudian aku bekerja di Cutting
Edge, sebuah biro usaha kecil di Manhattan yang melayani
butik-butik swasta di seluruh negeri. Tugasku berurusan dengan
asesori. Sebagai orang yang suka kerja keras, perusahaan menilai
kerjaku baik.
Sampailah pada suatu hari. Carmela, bos, memanggilku dan
menyuruh memasarkan ikat pinggang. Menurut pendapatku, pilihan
Bos buruk. Dan karena itulah aku dihadapkan pada dilema: tak
mengerjakan perintah, menyalahi aturan tapi memasarkan ikat
pinggang itu, tentu, akan menurunkan reputasiku.
"Baiklah, Anda boleh saja memberi perintah atas nama Anda,"
kataku. "Tapi saya tak akan mengerjakannya."
"Kalau begitu, kamu boleh angkat kaki," jawabnya dingin. "Saya
khawatir, tak akan bisa bekerja sama dengan orang macam kamu."
Maka, aku pun menganggur. Repotnya, meski tanggung jawabku besar
di Cutting Edge, dan kerjaku dinilai baik, upahku tiap minggu
tak lebih dari US$ 174,25. Itu sebabnya aku tak punya simpanan
sepeser pun. Terpaksa aku kerja serabutan di sana-sini -- dari
sebagai penerima telepon sampai tukang mengkliping koran. Ketika
inilah aku berkenalan dengan Lucy, cewek bernasib sepertiku. Dan
karena kami pun sama-sama punya banyak waktu luang, akhirnya
kami begitu akrab.
Suatu sore, aku mengunjungi Lucy di apartemennya. Eh, ia sedang
membuka bungkusan sebuah stereo set, yang mestinya baru keluar
dari toko. "Lho, Lucy, kamu peroleh dari mana ini?" tanyaku.
"Tentu, bukan dari tunjangan pengangguranmu bukan?"
Tak ada jawaban.
"Atau, kamu menemukan barang jatuh dari sebuah truk, atau
bagaimana?"
Lucy memandangku dengan ragu-ragu. Akhirnya, hampir berbisik,
katanya, "Saya memperoleh 50 dolar semalam dari kerja menjawab
telepon di escort service."
"Jangan ngibul," sahutku. "Perusahaan apa itu?"
"Wah, susah dijelaskan. Saya duduk di kantor dan menjawab
panggilan telepon. Para lelakilah yang menelepon, dan setelah
itu kami mengirimkan cewek untuk menemani penelepon itu."
"O, begitu. Apakah cewek-cewek itu duduk mengitarimu di kantor
itu, sampai ada panggilan telepon?"
"Tidak," jawab Lucy. "Setelah ada permintaan lewat telepon, saya
memilih cewek yang mana yang kira-kira cocok dengan si penelepon
itu. Lalu, saya telepon cewek itu di rumahnya, agar dia menemui
si penelepon di sebuah hotel."
"Berapa cewek itu dibayar?"
"Langganan lelaki harus membayar 125 dolar per jam, sekitar
separuhnya untuk si cewek yang menemani."
Saya berpikir sebentar sebelum menanyakan ini, "Apakah
cewek-cewek itu tidur dengan para penelepon ?"
"Hemm, Sydney, untuk 125 dolar sejam, kamu pikir mereka cuma
ngobrol ke sana ke mari?"
Saya terdiam. "Dan kamu sepenuhnya hanya menjawab telepon,
bukan?" tanyaku kemudian.
"Ya, begitulah."
"Dan kamu memperoleh 50 dolar semalam?"
"Ada juga tambahan tak resmi."
"Wah, menarik juga," kataku. "Jika mereka masih membutuhkan
tenaga, aku pun mau."
* * *
DUA minggu kemudian Lucy mengebel aku, dan katanya, "Ingat
tempat yang kutunjukkan tempo hari? Salah seorang penerima
teleponnya keluar. Kamu ingin mengisi lowongan ini?"
Aku berpikir sejenak. "Kamu yakin pekerjaan ini aman? Saya tak
akan mendapat kesulitan?" tanyaku. "Saya tak ingin ditangkap
polisi."
"Eddie sangat hati-hati. Executive Escorts telah berjalan
bertahun-tahun tanpa masalah," jawabnya meyakinkanku.
Maka, aku pun menjadi penerima telepon di Executive Escorts.
Eddie memerintahkan Lucy mengajariku sistem kerja di situ.
Dalam bayanganku, wanita-wanita panggilan di New York itu luwes,
dingin, canggih, dan mungkin sedikit kasar. Tapi, cewek-cewek di
executive escorts lain. Bila saya bertemu mereka tak di tempat
ini, pasti saya tak akan mengira mereka suka menemani lelaki di
malam hari.
Mereka tergolong cantik, dan sehari-hari dikenal sebagai warga
baik-baik. Tak seorang pun tampak murahan, atau norak. Bahkan,
banyak di antara cewek-cewek itu berpendidikan tinggi, dan
sebagian besar punya pekerjaan tetap.
Tapi mereka, hampir semuanya, membenci bos mereka, Eddie. Bisa
dimaklumi. Soalnya, Eddie mengharuskan mereka siap kerja tujuh
malam dalam seminggu. Ini berarti, mereka kehilangan kesempatan
bermasyarakat.
Maka, pada suatu kali, beberapa cewek datang lalu membeberkan
sejumlah alasan mengapa pada beberapa malam lalu mereka tak bisa
memenuhi panggilan. Tiga bulan bekerja di sini saya mendengar
seorang cewek kematian neneknya dua atau tiga kali.
Lain daripada itu, rupanya, Eddie sama sekali tak mempercayai
mereka. Sehabis kencan, di malam itu pula, jam berapa pun,
mereka harus ke kantor menyetorkan uang. Itu tak cuma berlaku
bagi cewek baru. Bahkan mereka yang sudah bekerja dua tahun,
bahkan pada tengah malam ketika badai salju bertiup, Eddie tak
akan membiarkan uangnya disimpan sementara oleh mereka.
Suatu malam, ketika Eddie sedang keluar, aku
berbincang-bincang dengan cewek-cewek itu, mendengarkan kisah
mereka. Ternyata mereka menyukai pekerjaan ini. Satu-satunya
yang membuat mereka tak nyaman adalah Eddie. Dari percakapan ini
aku jadi tahu: pada hakikatnya bisnis ini menjual seks, tapi
seks tak selalu menjadi bagian terpenting.
Mereka, para cewek itu, bukan sekadar teman tidur. Mereka juga
menjadi teman yang mendengarkan keluh-kesah, menjadi sahabat
tepercaya yang menyimpan rahasia-rahasia pekerjaan langganan,
bahkan, menjadi semacam penasihat urusan bisnis.
Akhirnya aku bisa melihat, di balik sukses Eddie, ia sebenarnya
telah memperkosa aturan bisnis yang baik. Misalnya dengan
memaksa para cewek bekerja tujuh malam, ia menanamkan dendam di
hati mereka, dan mendorong mereka mencari-cari alasan bila harus
absen. Tanpa membatasi tingkah laku para langganan, ia membuat
cewek-ceweknya merasa sebagai budak. Dengan mengharuskan para
cewek menyetor uang begitu selesai bertugas, ia menciptakan
iklim ketidakpercayaan.
Jelas, sesungguhnya, Eddie telah menggali kebangkrutannya
sendiri. Ini menggusarkanku, dan mendorongku untuk mengubah
kegusaran itu menjadi saingan Eddie: Apa yang bisa kulakukan
bila aku di tempat Eddie? Bagaimana aku akan memperlakukan para
cewek itu? Aku tahu, aku bisa menjalankan bisnis ini dengan
kebijaksanaan yang sepenuhnya berlawanan dengan aturan Eddie.
Maka, cita-cita menjalankan sendiri bisnis seperti ini dengan
aturan yang lebih manusiawi -- muncul dalam benakku. Tak lama
kemudian, bersama Lucy, kami memutuskan untuk mencobanya.
* * *
KUKIRA, tak semua orang tahu bahwa di Manhattan saja beroperasi
sekitar 50 rumah bordil dan sejenisnya. Sebagian besar berupa
usaha kecil hanya menyediakan tak lebih dari 12 perempuan, di
bangunan yang jauh dari mewah. Memang, orang enggan menanam
modal besar dalam bisnis seks ini, yang bisa dengan mudah
ditutup polisi setiap saat. Maka, ada bordil yang kamarnya
sedikit lebih baik daripada sekadar menyediakan seprai di
lantai, dengan penyekat kamar ala kadarnya.
Dan perusahaan escort agent pun dijalankan dengan seenaknya. Aku
yakin, usaha ini bisa dikelola dengan lebih baik. Dorongan
mendirikan escort agent yang memberikan pelayanan sebaik mungkin
inilah yang telah membuat aku bersemangat. Aku tahu, setelah
bekerja beberapa lama pada Eddie, banyak sekali pengusaha yang
sopan dan punya reputasi baik membutuhkan biro yang menyediakan
teman kencan. Merekalah yang jadi sasaranku. Dengan cara yang
tepat dan sedikit nasib baik, mengapa pula aku tak akan
berhasil.
Aku tak mengalami konflik moral. Sebab, pada pikirku, ini
sekadar pelayanan memenuhi kebutuhan manusia yang paling tua.
Dan aku melihat faktor ekonomi, dalam usaha ini, yang belum
digarap dengan baik. Tentu, jangan mencampurkan antara etika dan
sikap moral yang umum diterima.
April 1979, Lucy dan aku menemukan nama untuk escort agent yang
segera kami dirikan, yakni Cachet. Kami pun berkompanyon, lalu
bekerja.
Resminya, sebagai badan usaha, kami tak mempunyai karyawati.
Para cewek bekerja sebagai orang merdeka, dan kami sebagai agen
hanya menerima uang komisi. Dengan cara begini terhindarlah kami
dari keharusan membuat daftar gaji, perhitungan pajak, dan tak
perlu ada administrasi yang memusingkan kepala.
Aku berterima kasih kepada Eddie, yang telah memberikan teladan
yang tak perlu ditiru. Maka, kami hanya meminta para bidadari
Cachet bekerja tiga malam dalam seminggu. Perkara ada yang mau
lebih dari itu, silakan. Dan tiga hari kerja itu mereka
sendirilah yang menentukan.
Soal pembayaran kami tentukan: dilakukan setelah kencan selesai.
Pada pendapatku, minta bayaran lebih dulu adalah pertanda
ketidakpercayaan, dan merupakan awal yang tak menyenangkan. Di
samping itu, sungguh memalukan bagi seorang cewek, begitu sampai
di hotel atau apartemen langsung menadahkan tangan. Kami pun
membatasi lingkup bisnis ini hanya di Manhattan. Lebih enak
rasanya bila cewek-cewek kami bekerja di tempat-tempat yang
sudah kami kenal. Soalnya, jangan-jangan mereka menghadapi
persoalan. Dan Manhattan, tentu saja, sudah kami kenal dengan
baik. Selain itu, tak semua daerah mempunyai hotel kelas satu.
Kami tak ingin mengirimkan bidadari kami ke tempat yang tidak
menyenangkan. Pertimbangan terakhir, tak begitu gampang mencari
kendaraan sewaktu-waktu untuk menuju daerah luar Manhattan.
Sudah kami niatkan menjalankan bisnis ini dengan jujur, walaupun
bisa sedikit merugikan. Umpamanya bila seorang penelepon
menanyakan apakah cewek yang kami tawarkan cantik. Bila tidak,
kami menjawab, "Memang tidak. Tapi dia sungguh menarik, dan
memiliki mata yang indah." Bila ada yang minta cewek pirang,
tinggi, padat, dan yang seperti itu tak ada pada kami, kami
jawab, "Sayang, sekarang ini belum ada yang memenuhi permintaan
Anda. Yang ada baru Caroline, yang rambut pirangnya memang
mengagumkan. Dan bila Anda mencari yang tinggi, Shawna memiliki
rambut merah yang indah."
Tapi jujur sepenuhnya memang tak mungkin. Meski aku dan Lucy
bangga dengan etik bisnis yang kami praktekkan, kami tetap tak
ingin menjalankan usaha ini atas nama kami. Maka, Lucy pun
bernama Linda MacMillan, dan aku Sheila Devin.
Langkah pertama Lucy yang sukses adalah, dia berhasil meyakinkan
pihak bank bahwa usaha keagenan kami sering kali harus memproses
credit card langsung di kantor para klien. Untuk itu bank
meminjamkan alat memproses credit card ukuran mini -- yang bisa
dimasukkan tas tangan, untuk dibawa-bawa para bidadari Cachet.
Cachet tutup di hari Sabtu, karena Lucy dan aku butuh waktu juga
untuk urusan-urusan keluarga dan masyarakat. Di samping itu,
mengambil pengalaman dari tempat Eddie, pada hari itu dering
telepon sepi. Para pengusaha pada bermalam Minggu, dan para
diplomat biasanya menghadiri pertemuan ini dan itu.
Untuk mencari cewek kami pasang iklan di media besar dan
terhormat. Yakni surat kabar International Herald Tribune dan
majalah Show Business. Betapa aku dan Lucy, waktu itu, merasa
takut, canggung, dan bodoh saat mewawancarai para pelamar, pada
hari-hari pertama. Misalnya bila seorang pelamar menelepon kami,
langsung saja kukatakan bahwa mereka memang diharapkan tidur
dengan para langganan. "Kami ingin agar Anda mengerti, dalam
bisnis ini seks adalah soal biasa," begitu biasanya kami
menjelaskan. Sungguh naif.
Sebenarnya, escort service adalah bisnis yang legal.
Kenyataannya, polisi bisa saja sewaktu-waktu merazianya, dan
bila ada bukti bisnis ini berbau pelacuran, pihak berwajib lalu
menutupnya. Karena itu, kami selalu menegaskan kepada para
langganan bahwa uang yang kami pungut bukan atas nama yang lain,
melainkan atas nama waktu yang diberikan oleh bidadari-bidadari
kami untuk menemani mereka. Dengan kata lain, mereka tetap harus
membayar dalam jumlah yang sama, apakah mereka sekadar
bercakap-cakap atau lebih daripada itu.
* * *
AKU memang sangat selektif menerima para cewek yang hendak
bekerja di Cachet. Sampai-sampai seorang calon yang kuwawancarai
nyeletuk bahwa ukuran menarik bagiku sangat tinggi.
Pun aku selalu menekankan agar mereka tampak seperti seorang
eksekutif bisnis. Rias wajah yang terlalu tebal, kaus kaki
murahan, atau dandanan apa saja yang menjadikan mereka tampak
seperti wanita panggilan umumnya, kutegaskan agar dihindarkan.
Bahkan soal pakaian dalam, kumintakan perhatian juga. Kutang,
celana dalam, dan sabuk garter supaya diusahakan serasi. Hal
ini, kemudian, jadi merk dagang kami. Aku anjurkan para
bidadariku tak mengenakan pakaian dalam warna putih. Sebab, itu
memberi kesan mereka belum dewasa. Warna kusam -- cokelat
keabu-abuan, atau abu-abu kekuning-kuningan -- agar dihindarkan
pula. Warna seperti itu memberi kesan tolol pada si pemakai. Dan
pakaian dalam hitam hanya cocok bagi cewek yang canggih atau
eksotis. Sebagian besar cewek Cachet kuanjurkan memakai saja
pakaian dalam warna pastel, seperti biru, ungu muda, merah muda,
atau jingga. Boleh juga yang warna-warni, yakni warna-warna
pelangi dengan dasar putih.
Juga kuanjurkan mereka selalu mengenakan stocking, dan lebih
baik yang halus dan transparan, bahkan ketika musim panas.
Anak-anak yang baru selalu bertanya, begitu perlukah kaus kaki
panjang itu di musim panas. Kukatakan lagi, lagi dan lagi,
bahkan bagi kaki yang mulus, kaus itu penting.
"Seorang lady," kataku dengan nada menggurui, "selalu mengenakan
stocking, bagaimanapun panasnya hari."
Karena aku tak suka ada aturan tanpa alasan, kujelaskanlah soal
kode etik berpakaian itu. "Ingat," kataku, "kalian adalah impian
bagi mereka. Bayangkanlah, bidadari kelas tinggi itu seperti
apa. Begitulah yang diharapkan oleh para langganan kita. Jangan
mendatangi mereka dengan gaya dan pakaian sebagaimana para
wanita di kantor mereka sehari-hari."
Untuk menambah citra seorang wanita, kuanjurkan pula mereka
memoles kuku jari kaki. Untuk kuku jari tangan, aku tak begitu
peduli. Soalnya, semua perawatan itu tentulah mahal dan banyak
menyita waktu. Saya hanya minta, bila mereka memang
memperhatikan soal kecil seperti kuku, harap dilakukan dengan
sebaik-baiknya.
Hal yang sulit menyangkut soal parfum. Sebagian pria memang
menyukainya, tapi yang telah beristri biasanya khawatir bila bau
parfum itu terbawa sampai ke rumah. Dan kuingatkan kepada semua
bidadariku, jangan sekali-kali menyemprotkan parfum ketika
hendak meninggalkan hotel. "Mungkin saja kalian meninggalkan
pertemuan itu tengah malam," kataku. "Nah, siapa, sih, pada
pukul dua belas malam merasa perlu berparfum?" Ini peringatan
agar mereka terhindar dari perhatian satpam hotel.
* * *
SEORANG cewek Cachet, sehabis berkencan dengan seorang langganan
baru, kami minta membuat gambaran tentang teman kencannya itu.
Data lelaki itu kami simpan dalam buku, termasuk yang hanya
pernah sekali berkencan. Nama, alamat, nomor telepon. Juga dari
mana ia tahu Cachet, nomor credit card-nya, atau nomor SlM-nya.
Kami juga mencatat hal-hal yang lebih pribadi: usia, hobi,
profesi atau bisnis mereka, gaya bicaranya, sedikit gambaran
watak mereka, dan tipe cewek yang disukainya.
Tapi, tak ada catatan tentang peri laku seksual para langganan
-- seperti dikatakan oleh media massa, setelah Cachet ditutup.
Mungkin dalam buku itu kami cantumkan kata easy. Dan itu hanya
menggambarkan bahwa hubungan intim dia ternyata berakhir lebih
cepat.
Empat bulan pertama kami harus prihatin. Hanya dengan 12
bidadari, tentu saja, Cachet bukanlah ancaman buat, misalnya,
General Motor. Tapi, kemudian, di pekan-pekan yang baik, baik
Lucy maupun aku bisa mengantungi tak kurang dari US$ 500 suatu
jumlah yang tak terbayangkan bisa kami peroleh, dulu. Rupanya,
aturan-aturan kami yang ketat mulai menampakkan hasil. Dua orang
penerima telepon pun heran, begitu banyak langganan yang minta
teman kencan ke Cachet, lebih dari di tempat mereka bekerja
sebelumnya. Bahkan, tak jarang langganan memesan cewek favorit
mereka seminggu sebelum mereka tiba di New York.
Para bidadari kami biasanya bekerja tak lebih dari setahun. Tapi
seorang Claudette, yang tampaknya sangat berpengalaman, ikut
Cachet selama beberapa tahun. Suatu saat kutanyakan langsung
padanya hal ini.
"Sheila," jawabnya, "yang pertama kali kupelajari adalah bahwa
seorang wanita panggilan haruslah selalu berpikir tentang uang.
Sebab, begitu ia tak lagi memikirkan uang, dua kemungkinan akan
terjadi. Pertama, ia akan terlibat hubungan cinta dengan seorang
langganan. Kedua, ia menjadi bosan dengan pekerjaannya.
Dua-duanya bukan sesuatu yang baik buat wanita panggilan. Dengan
hanya berpikir mengenai uang, pekerjaan ini akan berjalan dengan
sendirinya."
* * *
PADA akhir tahun pertama, Lucy mulai berpikir bahwa menjalankan
sebuah escort service sebenarnya bukanlah cita-citanya. Ia, juga
aku, kemudian tahu, mengelola usaha sendiri benar-benar menyita
waktu. Tapi bila kemudian saya menikmati pertumbuhan susah payah
ini, bagi Lucy, rupanya, tidak. Akhirnya, ia memilih
berkecimpung dalam dunia seni yang, katanya, lebih memberikan
kebahagiaan.
Mula-mula, saya agak cemas juga harus menjalankan usaha ini
sendirian. Di sisi lain, aku senang. Sebab, selama ini ada
gagasan-gagasanku yang masih tersimpan karena aku takut
mengeluarkannya jangan-jangan Lucy tak setuju. Yang pertama-tama
kulakukan setelah Lucy mundur adalah mencari kantor, hingga aku
dapat merekrut lebih banyak penerima telepon.
Lain daripada itu, sebenarnya, banyak cewek yang tak bisa
menunggu panggilan telepon di apartemennya. Entah karena di situ
ada pacarnya, pembantunya, atau seorang yang lain. Dengan adanya
kantor, mereka bisa menunggu panggilan dengan lebih tenang.
Akhirnya, dari agen perumahan kudapatkan sebuah kantor yang
nyaman, tak begitu jauh dari tempat tinggalku. Sewanya US$ 700
sebulan.
Telah kuperhitungkan, dengan banyaknya cewek keluar-masuk
kantor, tentulah suasana akan demikian sibuk. Untuk tak
menimbulkan keributan sebentar-sebentar ada yang memencet bel --
kepada semua cewek kami berikan kunci duplikat. Dan sebuah
catatan kusertakan. "Bila ada penghuni kompleks ini, atau orang
yang akan menghuni, kebetulan berdiri di dekat kantor, jangan
menggunakan kunci. Sungguh janggal bila ketahuan, sepuluh atau
dua puluh orang yang bukan penghuni apartemen ini memiliki
kunci untuk pintu yang sama."
Mereka pun kuminta turun dari taksi di depan gedung sebelum atau
sesudah yang kami tempati, agar tak menimbulkan perhatian.
Mereka pun kuminta melepaskan sepatu begitu memasuki pintu
depan, agar tak menimbulkan gaung di bangunan yang kami sewa.
* * * *
BUKAN sekali-dua terjadi, cewek baru begitu yakin akan
janji-janji pria yang mengencaninya. Rupanya, mereka sungguh
menikmati malam yang indah, lalu si pria berjanji akan menelepon
besok untuk makan malam bersama. Maka, cewek itu, di malam
berikut, pasti merecokiku. "Apakah ada telepon dari Mister
Edward? Ia janji makan malam denganku malam ini."
Sungguh tak enak menyaksikan betapa gembiranya ia menunggu
janji, yang, aku tahu pasti, cuma janji gombal.
Terpaksa kujawab, "Oh, tentu ia menyukaimu. Tapi, percayalah,
dia tak akan menelepon kita lagi. Jangan kecewa. Pria-pria yang
berhubungan dengan kami, setidaknya, adalah orang-orang seperti
yang kaudambakan sehari-hari. Awaslah. Ada tiga potong kata
gombal yang biasa diucapkan lelaki bila habis tidur denganmu:
Saya akan meneleponmu."
Sebenarnya, lelaki selalu menginginkan yang baru. Di samping
itu, berhubungan tetap dengan seorang cewek akan memakan ongkos
lebih besar karena, dengan begitu, kemudian, emosi ikut campur.
Dan bila Mister Edward benar-benar menelepon kami, pasti ia tak
lagi menanyakan apakah Amy ada. Maka, terpaksa kukatakan kepada
Amy, memang Edward menelepon, memberitahukan bahwa malam ini ia
sibuk.
Hanya sekali aku menemukan kisah cinta yang sebenarnya. Suatu
sore Camille mengatakan ia minta cuti seminggu. "Saya akan
menemani pria yang kencan denganku kemarin malam," katanya.
"Saya ingin berterus terang kepada Anda. Ketika saya menemuinya
di hotel, kami cuma berpandangan sekejap, lalu masing-masing
telah jatuh cinta." Benar, dua tahun Camille hidup bersama
dengan pria itu. Dan selama itu ia tetap sebagai bidadari Cachet
dengan izin pria tersebut.
Bila kami sukses sejak awal, memang ada usaha khusus -- atas
usul Lucy. Yakni memasarkan usaha kami di PBB. Di kantor
Perserikatan Bangsa-Bangsa itu sejumlah diplomat, pegawai tinggi
silih berganti mengunjungi rapat-rapat. Tiap tahun PBB
mengeluarkan daftar nama para peserta. Dari daftar itu, sungguh
mudah mengetahui siapa yang sendirian, siapa yang bersama
keluarga. Kami mengirimkan brosur kepada mereka yang sendirian
itu, dan hasilnya sungguh memuaskan.
Suatu saat aku punya gagasan untuk mengembangkan dua cara
pemasaran. Pertama, menyediakan cewek-cewek yang kusebut
Finesse. Yakni mereka yang kurang cantik dibandingkan kriteria
Cachet rata-rata, dan kepada mereka kutarik komisi di bawah yang
standar. Kedua, aku pun menyiapkan bidadari-bidadari yang
kukategorikan "bidadari C". Mereka ini cantik luar biasa, dan
tarifnya pun 25% lebih mahal. Soalnya, dua atau tiga kali dalam
setahun kami selalu menaikkan harga -- hingga pada 1984 tarif
Cachet adalah US$ 175 per jam -- namun tak pernah terdengar
keluhan dari para langganan. Sebaliknya, justru datang
permintaan adakah kami mempunyai cewek yang lebih mahal.
Seorang tergolong "bidadari C" bila ia memenuhi lima syarat:
tinggi, cantik, pirang, berusia di bawah 25, dan anatomi
tubuhnya serasi. Salah seorang di antara mereka adalah Suzie. Ia
berambut pirang, punya mata hijau yang jernih, dada yang padat,
dan tubuh atletis. Ia pun bangga dengan bagian belakang tubuhnya
yang, katanya, terbesar di seluruh Amerika Serikat.
Suzie adalah putri seorang ratu kecantikan. Dan ibunyalah yang
mendorong dia agar bekerja di escort service. Banyak langganan
kami yang jatuh cinta kepada Suzie. Bidadariku yang satu ini
memang bukan cuma hebat, tapi juga manis dan pintar bergaul.
Sekali, ia menimbulkan masalah. Seorang langganan yang jatuh
cinta kepadanya menghabiskan waktu akhir pekannya bersama Suzie.
Rupanya, istri langganan itu tak mempercavai alasan kepergian
suaminya. Eh, secara tak sengaja ia menemukan nomor telepon pada
selembar kuitansi.
Maka, berderinglah telepon kami di tengah malam, dan
peneleponnya adalah seorang wanita yang ingin bicara dengan
suaminya.
Meski kasus seperti itu kemudian tak lagi terjadi, kepada stafku
kuajarkan bagaimana menjawab telepon seperti itu. Katakan saja
bahwa kami adalah agen tenaga kerja musiman. Tak terpikir olehku
bagaimana seandainya penelepon itu lalu bertanya: kok agen
tenaga kerja masih menjawab telepon pada pukul sebelas di malam
Minggu.
Mungkin memang begitulah alam membagi-bagi rezeki. Menurut
pengamatanku, tak seorang pun dari "bidadari C"-ku yang memiliki
kecerdasan dan sikap setinggi kecantikan fisik mereka. Dulu aku
tak percaya bahwa kecantikan dan kecerdasan tak bisa percaya
bahwa kecantikan dan kecerdasan tak bisa bersatu. Tampaknya,
pepatah kuno itu memang benar.
Tina, adalah sebuah contoh. Cewek ini selalu menolak memakai
kontrasepsi. Ia, katanya, melakukan pencegahan kehamilan lewat
metode bintang-bintang. Maka, heranlah Tina, ketika suatu hari
ia hamil -- satu-satunya kasus kehamilan yang pernah terjadi
pada bidadari-bidadari Cachet.
Kami, aku dan Tina, ngobrol tentang perutnya yang mulai
membesar. Katanya, ia ingin melahirkan bayi yang dikandungnya.
Aku, terus terang, agak cemas. Dan tahulah aku, beberapa minggu
sebelumnya ia berkencan dengan dua lelaki Negro. Maka, kukatakan
apa nanti kata pacarnya, bila ternyata bayi yang lahir berkulit
hitam.
"Oh, tidak," jawabnya. "Bapak bayi ini benar-benar pacarku itu."
"Oh, begitu?" sahutku. "Tapi bagaimana kamu tahu itu ?"
"Sangat mudah. Saya tak pernah mencapai klimaks bila dengan para
langganan."
* * *
LANGGANAN kami datang dari berbagai profesi dan berbagai bidang
bisnis. Dari pengusaha bunga sampai ikan laut, dari pemilik
pabrik mainan anak-anak sampai bos klub malam. Dari pimpinan
biro pemasok barang dan komputer sampai pedagang alat-alat
kedokteran dan senjata. Dari dokter, pengacara, bankir, sampai
pialang dan konsultan. Di antara mereka adalah beberapa anggota
sebuah perusahaan besar yang hanya datang di New York sekali
sebulan. Bahkan ada pula seorang hakim, dan dua atau tiga
pejabat tinggi penegak hukum.
Majalah Newsweek menulis bahwa langganan kami "datang dari
hampir semua bidang penting, kecuali dari gereja". Sebuah dugaan
yang bagus, tapi tidak tepat. Kami pun suka ditelepon oleh
beberapa pendeta.
Sedikit kesulitan datang dari para langganan Arab. Mereka
menuntut agar bidadari-bidadari kami berpakaian tertutup. Dan
untuk mendapatkan pakaian seperti itu, di Manhattan, bukan soal
gampang. Banyak lelaki Arab rupanya tak enak bila cewek kencan
mereka berpakaian dengan leher, bahu, atau lengan terbuka. Juga
mereka tak suka bila ceweknya berpakaian begitu seksi.
Di antara langganan kami pun ada orang-orang ternama.
Kepercayaan mereka terhadap kami untuk menyembunyikan
identitasnya tentulah tak sepantasnya kukhianati. Ada pula
sejumlah tokoh penting di bidang masing-masing. Di antaranya
para ketua dan presiden perusahaan besar, para investor bank,
direktur perusahaan adpertensi dan rumah makan.
Kami sungguh bangga dengan mereka. Untuk itu ada sebuah papan
kliping di kantor, tempat menempelkan guntingan surat kabar dan
majalah yang memberitakan kegiatan dan proyek-proyek mereka --
kegiatan dan proyek yang mereka tangani dengan pakaian lengkap,
tentu. Bukannya jarang di antara langganan kami diprofilkan di
halaman depan New York Times atau Wall Street Journal. Dan bila
dalam tulisan itu diceritakan pula bisnis yang segera mereka
tangani, setidaknya seorang dari cewek kami telah mendengar
urusan itu sebelumnya dari orang pertama -- maka, setidaknya
seorang di antara kami sungguh merasa bangga.
* * *
BlDADARI-bidadariku yang masih sendiri tak jarang bertanya-tanya
tentang ini. "Bagaimana bila ternyata pria itu punya kelainan
seks?" Umumnya mereka takut bila harus melayani pria yang suka
mengikat mitra kencannya di tempat tidur dan minta pelayanan
yang aneh-aneh. Dengan sabar berkali-kali kuterangkan bahwa
orang-orang seperti itu jarang yang minta pelayanan dari escort
agency. Sebab, mereka tentu akan berpikir pula bahwa cewek-cewek
kami belum tentu paham maksud mereka. Mereka biasanya
menghubungi escort agency khusus. Tentu, bila ada di antara
mereka yang menelepon kami, staf penerima telepon Cachet siap
menolaknya.
Orang-orang yang berniat jahat juga tak bakal menghubungi kami,
yang selalu minta nama, alamat, dan nomor telepon yang jelas.
Hingga Cachet ditutup, tak satu kasus penganiayaan atau yang
lebih dari itu terjadi pada bidadari-bidadariku.
Sebagian besar langganan kami berusia antara 28 dan 50. Hanya
beberapa yang kurang atau lebih dari usia tersebut. Fred,
misalnya, adalah seorang pensiunan berusia 70-an. Sekali enam
minggu ia terbang dari Florida ke New York untuk mengontrol
perusahaan perumahannya. Cewek-cewekku menyukai lelaki tua ini.
Ia selalu membawa teman kencannya ke Four Season, rumah makan
terkenal, dan menonton pertunjukan di Broadway.
Langganan termuda kami seorang remaja, berusia belasan tahun,
anak seorang bankir besar. Tiap liburan sekolah, remaja itu
menginap di apartemen milik bank. Berani taruhan, tentu ia masih
jejaka ketika pertama kali menelepon kami. Inilah cerita
Jeannie, yang berkencan dengan anak muda itu. Setelah mereka
berbincang-bincang sekitar satu setengah jam, Jeannie masuk ke
kamar mandi. Tak lama kemudian ia muncul hanya berpakaian dalam
warna hitam. Dengan rambut merahnya yang tergerai, dan kulit
tubuhnya yang putih, tentulah Jeannie menyuguhkan satu
pemandangan yang luar biasa. Si remaja ternyata cuma berdiri,
menatap dengan bengong. Tiba-tiba wajahnya kacau. Ia menggumam,
lalu lari ke kamar mandi. Lama, baru Jeannie bisa membujuknya
agar keluar.
Rupanya, menyaksikan pemandangan yang belum pernah dilihatnya
itu, ia langsung terangsang dan langsung selesai. Ia sangat malu
karenanya. Untung, Jeannie memahami sepenuhnya persoalannya. Dan
malam itu juga, bidadariku itu membaptisnya sebagai lelaki
dewasa. Setelah itu, remaja tersebut selalu menghubungi kami
tiap liburan sekolah, dan tak ingin kencan dengan yang lain
selain Jeannie.
Beberapa bidadariku begitu bingung setelah berkencan dengan
beberapa pria yang telah beristri. Mereka ini, tentu saja,
merencanakan pula membina rumah tangga di masa depan. Maka,
mereka sungguh takut melihat pengkhianatan para suami di depan
mata mereka -- tanpa ingat bahwa mereka ambil bagian dalam
ketidaksetiaan itu.
Mereka akhirnya tiba pada pendapat, suami yang sedang mengadakan
perjalanan bisnis dan berkencan dengan wanita panggilan lebih
aman bagi keutuhan rumah tangga. Dibandingkan suami itu lalu
terlibat affair. Urusan dengan wanita panggilan selesai begitu
kencan berakhir. Tapi sebuah affair yang melibat cinta tentulah
lama bergema.
Saya tahu dua pria yang menghubungi kami setahu istrinya.
Bahkan, pernah, kami menerima telepon dari seorang istri yang
lagi hamil tua. Ia memesan seorang cewek untuk hadiah buat
suaminya. Tapi ini memang kasus yang jarang.
* * *
TENTU, kami pun menghadapi beberapa langganan yang sulit. Salah
satunya, mereka yang kecanduan kokain. Pada 1982, kelas menengah
Amerika memang kejangkitan kokain. Salah satu langganan kami
suka menelepon ketika ia sedang memakai kokain. Selalu suara
putus asa yang kami dengar, "Sejam lagi? Saya tak bisa menunggu.
Saya ingin cewek sekarang juga."
Kesulitan yang lain menyangkut soal ukuran tubuh. Bila seorang
langganan dianugerahi tubuh berlebih-lebihan, cewek-cewek kami
yang mungil biasanya menolak memenuhi panggilannya. Meski,
sebagaimana perdebatan yang tak kunjung habis mengenai soal
ukuran itu, bidadari-bidadari kami pun setuju bukan
"nyanyian"-nya yang menentukan, melainkan si "penyanyi" itu
sendirilah.
Ada juga langganan yang minta agar cewek kami bersandiwara
seperti yang mereka inginkan. Bila memang tak ada keberatan dari
yang akan menjalaninya, aku pun memenuhi permintaan itu. Seorang
pria suatu hari minta Melody berperan seperti seorang guru
bahasa Inggris sekolah menengah. Dan ia harus marah-marah,
karena pria itu tak mengerjakan PR. "Ini mengingatkan saya
ketika ikut sandiwara di sekolah," tutur Melody kemudian. "Tapi
sandiwara yang sangat membosankan karena ia memintaku
mengulang-ulang adegan marah-marah itu hingga setidaknya dua
belas kali."
Keanehan yang paling eksotik yang pernah terjadi pada kami
cumalah yang disebut "permainan bridge". Di sini terlibat lebih
dari seorang cewek. Siapa kalah harus menanggalkan sebagian
pakaiannya yang diminta oleh pemenang. Untuk ini, aku minta
bayaran ekstra 50 dolar sejam -- dan sepenuhnya itu buat
bidadariku.
* * *
DI awal 1984, Cachet menginjak tahun kelima. Aku merasa tak
layak kiranya terus-menerus mengelola escort service. Berada di
usia awal 30-an, mulai terpikir soal masa depan, termasuk,
tentu, membina rumah tangga. Meski aku begitu mencintai
pekerjaanku kini, pria yang kucintai nanti sebaiknya tak tahu
bahwa wanita di sampingnya adalah pemilik sebuah escort agency.
Maka, bila aku tak ingin sendirian terus, cepat atau lambat aku
harus kembali pada pekerjaan yang umum diterima masyarakat.
Dengan kata lain, aku harus mulai lagi hidup seperti biasanya
orang baik-baik.
Kuputuskan untuk tetap dalam bisnis yang sekarang hingga 1990.
Dan selama itu aku harus lebih menyimpan uang daripada
membelanjakannya. Sampai kini aku sangat sembrono dalam soal
uang. Kubelanjakan apa saja pendapatanku, terutama pakaian,
kelemahanku yang utama.
Meski aku menjalankan bisnis seks, untuk diriku sendiri aku
sangat konservatif. Tentu ini mengherankan banyak orang. Sebab,
umumnya, orang menduga, mereka yang menyelenggarakan escort
service tentulah pemeluk paham seks bebas. Sebenarnya, seks
bebas memang tak kujalani, tapi aku percaya pada pilihan bebas.
Bila seorang pria meneleponku, membutuhkan teman kencan, dan
seorang cewek bersedia memenuhi permintaan itu, aku dengan
senang hati menolong mereka agar pertemuan itu senyaman mungkin.
Tapi bila itu menyangkut diriku sendiri, sungguh, pada dasarnya,
aku seorang monogami dan kuno.
Aku benci kebohongan. Maka, selama aku menjalani dua sisi
kehidupan, selalu kutempuh jalan apa saja agar terhindar dari
berbohong. Bila teman-teman berbincang-bincang tentang bisnis
asesori, kuusahakan aku bisa ikut terlibat. Tapi yang kusebutkan
bukannya menyangkut asesori, melainkan bisnis kencan -- tentu,
tanpa menyebut-nyebut kata kencan itu sendiri.
Bila ada temanku bertanya toko-toko mana sajakah yang membeli
asesoriku, maka kujawab, langgananku tersebar di seantero
negara. Apakah aku mengunjungi sendiri semua langganan itu?
Tidak, langganan itulah yang datang sendiri ke New York, dan
kami lebih banyak membicarakan segala sesuatunya lewat telepon.
Aku tak berbohong, bukan?
Memang, kepada sahabat yang benar-benar dekat, kukatakan terus
terang kegiatanku. Tapi, setelah menimbang-nimbang cukup teliti,
apakah sahabat itu tergolong orang yang suka membocorkan
rahasia, atau sebaliknya. Saya punya hubungan baik dengan para
wadam. Dan mereka, ternyata, penyimpan rahasia yang aman. Mereka
sangat memahami kedudukanku, mungkin karena mereka juga
sepertiku: hidup dalam kondisi dan situasi di luar moral
masyarakat umumnya.
* * *
MENJELANG 1984, saya merasa begitu optimistis bahwa tahun
mendatang adalah tahun terbaik bagiku. Tapi, suatu hari, datang
kiriman "surat pengusiran" dari pemilik gedung. Itu berarti aku
harus hadir di depan pengadilan. Ia menuduhku telah menggunakan
gedung tak sesuai dengan perjanjian sewa-menyewa. Ia mendakwa
aku menjalankan bisnis dari ruang yang kusewa. Saya menolak
semua tuduhannya. Pengacaraku mengatakan bahwa aku tak
menghadapi persoalan gawat. Kecuali, katanya, pemilik gedung itu
bisa membuktikan bahwa memang benar aku menjalankan suatu
bisnis. Dan pemilik itu yakin bisa membuktikan tuduhannya bila
diizinkan pemeriksaan di ruangan yang kusewa. Aku setuju. Kuberi
dia kesempatan pada hari Senin mendatang pukul 10 pagi.
Ia benar datang, melihat-lihat, lalu meninggalkan ruangan tanpa
menemukan bukti secuil pun buat mendukung tuduhannya. Ini tentu
membuatnya berang.
Dan kemudian gilirankulah yang jadi cemas. Berharap belum
terlambat, saya berbuat sesuatu. Salah seorang bapak temanku
adalah pensiunan sersan, bekas wakil kepala kesatuan, yang kini
bekerja menjadi semacam detektif swasta. Kutemu dia dan
kujadikan sebagai konsultan.
Tiba-tiba saja dalam kepalaku muncul ribuan pertanyaan. Seberapa
besar perkara yang mungkin kuhadapi? Tindakan preventif apa lagi
yang bisa dilakukan? Isyarat apa yang bisa dipegang bahwa
sebentar lagi usaha kami ditutup? Bukti apa yang diincar oleh
polisi untuk bisa menutup usaha ini? Dan bila memang kemudian
usaha ini ditutup, bagaimana jalannya perkara?
Saya mengumpulkan para bidadariku dan menceritakan semuanya.
"Kalian bisa ditahan bila memang terbukti yang kalian lakukan
adalah pelacuran. Kalian semua, dengar, tak pernah melakukan
itu. Kalian juga tahu, stafku tak pernah bicara soal seks dengan
para langganan. Dan kalian sendiri tak pernah bicara soal
bayaran. Jadi, sebenarnya kalian tak bisa ditangkap. Meski
begitu, sejak hari ini saya harap kalian semua hati-hati
bekerja."
Tentu datang pertanyaan bertubi-tubi dari mereka. "Benarkah
tanpa berbusana sama sekali menyalahi undang-undang?"
"Itu salah kaprah, itu tidak benar."
"Seorang polisi yang tak mau berterus terang bahwa ia polisi tak
dibenarkan melakukan penangkapan. Benarkah itu?"
"Saya harapkan begitu. Tapi, tidak, polisi itu bisa menahanmu."
"Bila seorang polisi pernah melakukan hubungan seks, benarkah
kesaksian dia tidak sah?"
"Benar, sebab dengan begitu ia pun terlibat dalam kejahatan.
Tapi, ingat, ia bisa menangkapmu hanya karena kamu menjajakan
seks."
Dan beberapa pekan kemudian terjadilah itu.
Kelly, Denise, dan Corrine tertangkap. Teman kencan mereka
ternyata seorang polisi yang menyamar. Yang mengencani Denise
mula-mula tampak bingung. Baru, setelah makan waktu lama, ketika
telepon berdering dan seseorang berbicara dengan polisi yang
menyamar itu, dengan minta maaf, ia tunjukkan kartu polisinya.
Yang bersama Kelly telah telanjur mengadakan hubungan seks.
Karena itu, kesaksiannya dianggap tak sah oleh hakim. Ketika
tiga orang polisi yang lain menggerebek ke dalam kamar, Kelly
meloncat dari tempat tidur tanpa selembar benang pun.
"Hai, apa-apaan kalian ini?" teriaknya marah.
"Kami menahanmu karena melakukan pelacuran," jawab salah seorang
di antaranya.
"Bagaimana bisa?" jerit Kelly. "Saya seorang pelacur? Jangan
ngomong seenak jidat."
Sementara itu, teman kencan Corrine menyaru sebagai seorang
eksekutif dari Fortunoff. Untuk menyiapkan tugas-tugasnya, ia
beristirahat sehari, mengumpulkan semua masalah yang telah
didengarnya.
Ketika berbincang-bincang dengan Corrine, tiba-tiba katanya,
"Eh, istriku membenci oral sex. Apakah permintaanku itu tidak
wajar?"
"Wajar, itu hal biasa," jawab Corrine tanpa prasangka.
"Jadi, kita bisa melakukannya sekarang?"
"Tentu saja bisa."
Dan ditangkaplah Corrine.
Di dalam mobil, polisi yang duduk di depan berpaling ke arah
Denise. "Bilang kepada Sheila Devin, Sersan Elmo Smith segera
menangkapnya, dan tak lama lagi ia akan duduk di tempatmu
sekarang ini."
Waktu itu, tak seorang pun di antara kami tahu siapa itu Elmo
Smith. Bila dibolehkan, aku pun berharap, hari ini pun tak
mengenalnya.
Hakim ternyata menolak semua tuduhan. Tak ada bukti baik dalam
cara berpakaian maupun tingkah laku para tersangka yang
menunjukkan bahwa ia pelacur.
Tiga bulan kemudian, Juli, kami pindah kantor. Tapi perkara
dengan pemilik gedung yang lama tetap berjalan. Dan, sialnya,
sekali perkara itu dibawa ke pengadilan, belum akan selesai
sebelum tuntas. Sementara itu, ruang kantor tersebut tetap hakku
untuk menempatinya. Rencanaku, memberikannya kepada seorang
teman yang baru saja pindah ke kota. Pada 14 September 1984,
sekali lagi, aku harus hadir dalam sidang perkara perumahan.
Di dalam gedung pengadilan, seorang laki-laki tinggi berjas
putih membuat perasaanku tak enak. Ia duduk bersama dengan
pemilik gedung dan pengacaranya, tapi perhatiannya tertuju
padaku. Sewaktu pembacaan perkara, sementara para ahli hukum
mempelajari dokumen apartemen yang akan kuberikan kepada
temanku, lelaki itu minta agar aku menambahkan dalam dokumen itu
bahwa aku mengelola jaringan pelacuran. Jawab Risa, pengacaraku,
permintaannya itu keterlaluan. Risa pun heran mengapa orang itu
begitu tertarik pada topik satu itu. Lalu ia memperingatkan
pengacara pemilik gedung agar hati-hati memilih kompanyon. Tapi,
menurut pengacara pemilik gedung, lelaki berjas putih itu
bukanlah kelompok dia.
Sidang berjalan sehari penuh. Sore, baru persetujuan dicapai.
Aku memenangkan hak untuk tetap menyewa apartemen itu. Kami
semua duduk di meja perundingan, dua orang ahli hukum berunding
dengan hakim.
Sementara perundingan yang menjemukan tapi penting itu berjalan,
aku melemparkan pandang ke sekitar. Lelaki yang mencurigakan itu
masih ada duduk di bagian belakang ruangan, tetap memandangiku.
Kuminta Risa, pengacaraku itu, mencari tahu siapa dia dan apa
yang dikerjakannya dalam sidang ini. "Hakim Yang Terhormat,"
kata Risa tertuju kepada hakim, "kami sadar bahwa pengadilan ini
sebuah sidang terbuka. Tapi kami ingin tahu siapakah pria yang
duduk di situ itu."
Tiba-tiba lelaki misterius itu menyelinap ke luar ruangan.
"Siapa lelaki itu?" tanya hakim kepada pemilik gedung.
"Haruskah kujawab pertanyaan Anda?" jawabnya.
"Ya, harus," sahut hakim pula.
"Ia sahabat baikku," jawab pemilik gedung.
"Siapakah nama sobat baikmu itu?" sela Risa.
"Haruskah saya menjawab pertanyaan ini?" kata pemilik gedung.
Maka, hakim itu pun marah. "Saya punya kekuasaan untuk menahan
kalian karena menghina pengadilan."
"Dialah Sersan Elmo Smith, wakil komandan kepolisian Kota New
York," kata pemilik gedung itu akhirnya.
* * *
SUATU malam ketika aku sedang menikmati kencan gelapku dengan
Barry, seorang langganan baru menelepon. Biasanya Suzie tak
begitu senang melayani orang baru. Tapi malam itu ia mengeluh
kepada Ashley, ia sedang sangat membutuhkan uang. Maka, Ashley
pun menawarkan Suzie, dan karena ia tergolong "bidadari C"
tarifnya lebih mahal, dan minimal untuk dua jam. Tak ada
keberatan apa pun dari pihak pemesan, dan disetujui Suzie akan
telah di hotel pada pukul tujuh. Ashley berpesan agar Suzie
hati-hati, dan terlebih dahulu menanyakan tiket pesawat
langganan baru itu. Ini untuk memperoleh kepastian bahwa ia
memang seorang pengusaha yang sedang menjalankan bisnis di New
York, dan bukannya seorang polisi.
Segera setelah Suzie tiba di Parker Meridien, Kamar 3418, suite
mewah dua ruangan, ia memperkenalkan dirinya kepada langganan
barunya, laki-laki tinggi berotot dengan kumis menghias
wajahnya. Lalu ia pun menanyakan soal tiket.
"Tiket penerbanganku?" balasnya. "Saya tidak membawanya
sekarang. Tiket itu kutinggalkan di lemari penyimpanan hotel
bersama dengan surat-surat penting lainnya." Alangkah bodohnya
bahwa Suzie tak mendesaknya lebih lanjut. Laki-laki itu kemudian
memesan sebotol sampanye.
Sejam berlalu. Langganan Suzie menanyakan apakah ia ingin
suasana yang lebih intim. Tentu saja Suzie menjawab: ya. Suzie
terlebih dahulu mengancingkan rantai pintu -- hal yang
sebelumnya tak pernah ia lakukan. Sementara Suzie mulai
melepaskan pakaiannya, lelaki itu bangkit dari kasurnya,
mengatakan ingin mengambil sesuatu yang tertinggal di ruang
tamu.
Tapi lelaki itu ternyata menuju pintu, membuka rantai
pengancing. Suzie tentu saja kaget.
"Apa yang kaulakukan," teriaknya.
Tanpa menjawab, lelaki itu membuka daun pintu lebar-lebar dan
dua laki-laki lainnya segera memburu masuk. "Kami dari
kepolisian," katanya. "Anda kami tangkap. Kami menunggu Anda di
sini sementara Anda berpakaian."
Di kantor. Ashley dan Claire sibuk melayani telepon berdering.
Pada pukul 8.30, Kate berangkat menuju tempat langganannya di
Halloran House. Beberapa menit kemudian masuklah Sonya yang
memakai celana jeans, kemudian langsung ke kamar belakang untuk
membereskan masalah keuangannya.
Beberapa menit sebelum pukul 9.00, malam itu, telepon tidak lagi
berdering-dering. Sementara itu, Ashley, Sonya dan Claire
menghabiskan keripik kentang sambil menonton laporan khusus
pameran lukisan Claude Monet di televisi. Tiba-tiba terdengar
ketukan keras di pintu. Claire berdiri lalu mengintip dari
lubang intip. Ketika ia melihat seorang lelaki berdiri di sana,
ia menoleh ke Ashley.
"Siapa?" tanya Ashley.
"Kami petugas kepolisian. Buka pintu ini. Kami membawa surat
izin menggeledah." Terdengar suara berat dari balik pintu.
Claire lantas saja berlari ke ruang belakang, mengemasi
dokumen-dokumen yang ada, memasukkannya ke dalam mesin
penghancur. Ashley dan Sonya mencoba mendorong meja-meja
penerima tamu merapat ke dinding. (Meja tersebut sebelumnya
dibongkar dari tempat semula oleh petugas yang memperbaiki mesin
penjawab telepon kami. Setelah itu tidak terpikir oleh seorang
pun mengembalikannya ke posisi semula.) Namun, meja tersebut
terlalu berat, sehingga ketiga gadis itu membiarkannya saja di
ruang tamu.
Lama tak terdengar jawaban, para petugas kepolisian akhirnya
mencoba mendobrak pintu dengan palu besar. Begitu pintu terbuka,
mereka lantas menghambur masuk dipimpin oleh Sersan Elmo Smith
yang siap dengan pistolnya.
Sejam lamanya para petugas itu membongkar segenap pelosok
ruangan. Kemudian mereka memborgol ketiga gadis tadi berikut
empat kardus sampanye Dom Perignon. Selain itu, mereka membawa
serta mesin penghancur dokumen, mesin ketik, pesawat telepon,
dan perlengkapan kantor kami lainnya.
* * *
MENDEKATI Hari Natal, dewan juri menyimpulkan dakwaan bagi saya:
terlibat dalam usaha menyangkut prostitusi tingkat ketiga.
Mereka dapat saja membeberkan setiap transaksi selama lima
setengah tahun aku beroperasi. Namun, mereka sebenarnya harus
pula menyebutkan tanggal dan tempatnya, beserta nama-nama
langganan. Jelas, mereka tak mungkin melakukannya. Selain itu,
mereka harus pula menyebut nama-nama petugas yang terlibat dalam
dua kali penyergapan itu, yang menuduh bahwa aku menjalankan
bisnis senilai jutaan dolar. Tapi pada pokoknya mereka yakin
aku telah melakukan tindak prostitusi antara tahun 1979 dan
Oktober 1984. Namun, mereka tidak menjelaskan siapanya, apa
perbuatannya, dan untuk siapa.
Adalah sulit mengetahui apa yang dipikirkan pihak lain. Ketika
musim gugur berganti musim salju dan aku tidak juga menunjukkan
keinginan untuk mengajukan pembelaan, tampaknya pihak penuntut
makin bingung memikirkan kemungkinan memajukan kasusku ke
pengadilan. Pada Juni 1985, perkara ini semakin rumit bagi pihak
penuntut, ketika Hakim Brenda Soloff meminta mereka melengkapi
berkas perkara dengan sejumlah fakta lainnya. Dengan kata lain,
mereka tidak cukup menyediakan bukti-bukti terhadap tindak
prostitusi yang mereka tuduhkan
termasuk tanggal, tempat, nama gadis, serta pelanggannya. Juga
mereka harus menghubungkan setiap tuduhan tersebut dengan
diriku.
Para pengacaraku, sementara itu, berupaya agar kasus ini
digugurkan saja. Mereka menuntut fakta-fakta tersebut diajukan
sejak permulaan, karena penuntut umum gagal membawa
bukti-bukti yang memperkuat tuduhan mereka. "Hakim yang
terhormat," kata penasihat hukumku kepada hakim, "seperti kata
ibarat, belum pernah terjadi bahwa sekepal tanah menjadi gunung
yang tinggi. Tidak ada seorang pun di seantero negeri ini yang
mengerti mengapa kasus ini diperkarakan. Memang mereka yang
bermukim di New York dapat memahaminya, karena mereka dapat
mengenali perselisihan antara tuan tanah dan penyewanya ketika
mereka melihat hal tersebut."
Dengan tibanya masa kampanye pemilu dan prospek memalukan bagi
mereka sendiri, pejabat-pejabat kejaksaan negeri akhirnya
menawarkan agar aku menyatakan diri bersalah melakukan tindak
pidana ringan. Yakni melakukan prostitusi tingkat ketiga, dan
untuk itu saya akan didenda US$ 5.000. Aku akan mendapatkan
surat berkelakuan baik dari pengadilan, walaupun aku dinyatakan
bersalah. "Perbuatan" yang dituduhkan padaku dinyatakan hanya
sebagai pelanggaran ringan, sehingga aku tak dijatuhi hukuman
penjara. Adanya surat berkelakuan baik menjamin bahwa perbuatan
tersebut tidak akan dicantumkan sebagai catatan kriminal. Dengan
kata lain, aku tidak akan kehilangan kesempatan bekerja.
Ketika menjelaskan permohonanku, hakim memperingatkan jika kasus
ini jadi disidangkan, ancaman hukuman bagiku adalah "satu tahun
penjara dengan tiga tahun masa percobaan."
Pada 19 Juli 1985, aku kembali ke persidangan untuk terakhir
kalinya, bersama teman-teman. Dalam sidang November tahun lalu,
aku menyatakan tidak bersalah. Kini, aku harus mengaku bersalah.
"Nona Barrows," kata hakim, "adakah Anda mengubah pendirian
semula?"
"Dengan berat hati, Hakim yang terhormat," jawabku. Sekarang
semuanya bergantung pada diriku sendiri, aku merasa tercemar,
terpukul. Sulit bagiku untuk menyerah. Aku tak punya keinginan
menyerah begitu saja."
Hakim menjatuhkan "pembebasan dari hukuman penjara tak
bersyarat", dan aku hanya diharuskan membayar denda hingga batas
waktu yang ditentukan (betapa ringan pun akhirnya putusan hakim,
sebagai keturunan keluarga Pilgrims, tak enak untuk
mendengarkannya). Aku membayar denda pada hari itu juga. Aku
terkadang bimbang apa yang telah dilakukan oleh nenek moyangku
sehingga aku terlibat dalam situasi seperti ini. Mereka tidak
terkenal karena tingkah laku seksual mereka. Namun, memang, di
samping aturan agama yang ketat, mereka penuh nafsu berahi.
Kalau saja mereka hidup di lingkungan yang lebih terbuka, mereka
akan mengerti bahwa tingkah laku pribadi tidak menjadi urusan
negara. Dan mereka seharusnya tahu, masih banyak lelaki yang mau
membayar berapa saja atas kemurahan lawan seks mereka, dan
lembaga yang menyediakannya. Dengan begitu, ini bukan profesi
tertua untuk kesia-siaan belaka.
|